
Leana masih terbaring lemah. Bibi Marie sedang membasuh tubuh Leana dengan air hangat. Max masuk perlahan dan dia melihat Leana sedang melamun.
"Max, apa anda ingin menemui Leana?" Bibi Marie berdiri ketika sosok Max menghampirinya. Dia sedikit bergeser supaya Max bisa menengok Leana.
Leana menangkap sosok Max. Sorot mata itu, hidungnya, dan bibir Max membuat Leana bereaksi. Dia terlihat panik dan langsung menangis.
"Jangan, ke sini. Pergi. Tolong." Leana meringkuk dan langsung menarik selimut menutupi seluruh badannya.
"Tidak bisa. Aku tidak akan pergi. Kamu istriku, dan kita akan pulang ke rumah bersama." Max menyingkirkan selimut Leana.
"Tidaaaak..Minggir." Leana mencari perlindungan dengan memegang tangan Bibi Marie. Dia begitu ketakutan sampai tubuhnya menggigil. "Mana obatku bi, mana?" teriak Leana.
"Le, sadar Le. Max itu baik. Dia bertanggung jawab dengan menikah denganmu." ucap Bibi sambil menenangkan Leana. Ya, semalam Max menemui Bibi Marie dan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Dan setelah tau apa yang terjadi dengan Leana, Bibi Marie setuju dengan apa yang Max lakukan ini.
"Menikah?" Leana kebingungan.
"Ya, kamu sudah menikah dengan Max." ulang Bibi dengan cukup jelas.
Leana merasakan kepalanya berputar, lalu dia pingsan.
"Le,,bangun Le." Bibi dengan panik menepuk pipi Leana yang tiba-tiba pingsan.
"Biar aku saja, Bi." Max melangkah maju. Dia menggendong Leana ala bridal.
"Mau dibawa kemana Max?" tanya Bibi bingung.
"Aku akan panggil dokter ke rumah. Bibi tenang saja. Aku akan menjaga Leana dengan baik."
__ADS_1
Bibi Marie pasrah saja ketika Max membawa Leana pergi. Mereka sudah jadi suami istri, jadi memang tugas Max menjaga Leana.
Vero yang baru akan masuk ruangan terkejut ketika Max membawa Leana pergi.
"Kemarikan kunci mobilmu." Max menodong Marco yang berdiri di belakang Mom nya. Dia lupa jika dia ke rumah sakit ini menggunakan ambulance.
Marco terpaksa memberikan kunci mobilnya. Padahal dia baru saja membeli mobil itu. Entah apa jadinya mobil itu di tangan Max.
Max mengendari mobil dengan kecepatan gila-gilaan. Dia tidak sabar untuk membawa Leana ke rumah sebelum Leana jatuh pingsan lagi karena melihat wajah Max. Apakah Leana berpikir Max yang melakukannya? Jika iya, ini akan jadi masalah besar.
*
*
*
"Cepat panggil Dr.Ericka ke sini." perintah Max.
Dia membawa Leana ke kamar pribadinya di lantai 2. Kamar Max begitu minim pencahayaan. Kamarnya juga tidak menarik sama sekali. Di sana hanya ada sedikit barang-barang dan papan sasaran yang cukup besar. Max membaringkan Leana perlahan di ranjangnya yang berukuran jumbo size.
Sembari menunggu Dokter, Max memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Badannya sangat lengket dan masih ada bau vodka yang menempel pada rambutnya.
"Awasi dia." ucap Max pada salah satu pelayannya sebelum masuk ke kamar mandi.
Pelayan yang berumur 40 an itu mendekati Leana. Tubuh Leana basah karena berkeringat. Dia akhirnya berinisiatif untuk mengelap keringat Leana dengan tisu di atas nakas.
"Siapa wanita ini? Malang sekali nasibnya." ucapnya dengan lirih.
__ADS_1
Ya, siapa yang tidak gemetar melihat pria bernama Maxmillian Scotts. Para pembantu di sini pun tidak ada yang betah karena tidak kuat menghadapi Max yang moodnya naik turun. Terkadang Max memang baik, tapi lebih sering terlihat kejam.
"Kenapa lagi dengan Max?" seorang wanita cantik datang ke kamar Max setelah mengetuk pintu 2 kali. Dia menggunakan jas praktek dokter dengan membawa tas bermerk. Jika tidak menggunakan pakaian dokter, wanita itu lebih cocok menjadi model daripada pekerjaannya sekarang. Ericka adalah psikiater Max. Dia sudah menangani Max selama beberapa tahun, jadi dia sangat paham dengan tabiat pria itu.
"Dokter Ericka, anda sudah datang?" Pembantu Max menyambut Ericka dan berdiri di sampingnya.
Ericka langsung tertuju pada gadis yang sedang tidur di ranjang Max. Dia cukup terkejut melihat ada wanita blesteran Korea yang tampak pucat pada kamar Max. Masalahnya, Max tidak pernah bercerita jika dia memiliki seorang pacar.
"Siapa dia?" tanya Ericka penasaran. Dia juga belum pernah melihat wanita itu.
"Saya tidak tau, Dok. Tuan membawa wanita ini dalam keadaan pingsan." jelas pembantu Max sambil menunduk.
Ericka duduk di samping ranjang, menunggu Leana sadar. Dia juga tidak lupa memberikan minyak angin pada hidung Leana supaya wanita itu cepat sadar.
Usaha Ericka berhasil karena Leana kini sudah sadar dan membuka matanya.
"Tenang, nona. Saya seorang Dokter. Nama Saya Ericka." kata Ericka lebih dulu sebelum Leana membuka mulutnya. Ericka harus memperkenalkan dirinya karena dia melihat reaksi Leana yang ketakutan saat memandangnya.
"Ini rumah Max.. tapi tidak apa-apa. Pria itu tidak ada di sini." jelas Ericka lagi.
"Max? Aku harus pergi dari sini." Leana menyibakkan selimutnya, lalu dia bersikap untuk lari.
Tapi, Ericka dengan cepat menutup pintu kamar.
Leana yang terpojok langsung berjongkok sambil memegangi lututnya.
Dari sikap Leana ini, sudah pasti dia mengalami trauma yang cukup berat. Tapi karena apa? Apakah Max? Apa yang Max lakukan pada wanita ini?
__ADS_1