
"Apa Max tidak cerita padamu kalau anak itu bukan anaknya?"
Deg. Leana seperti dihujani batu yang menimpa kepalanya. Anak itu bukan anaknya? Leana mengulang kata-kata Marco dalam otaknya.
"Gak mungkin, Ko." hanya kata itu yang dapat diucapkan oleh Leana. Tidak ada orang lain di situ selain Max.
"Max bilang, kalau orang lain yang melakukannya. Dia pingsan dan gak tau apa yang terjadi sama kamu." lanjut Marco.
"Jadi.."
"Bukan Max yang memperkosa mu, Le. Tapi orang lain, dan kita gak tau siapa itu."
"Kenapa Max gak bilang? Jadi siapa yang sentuh aku?" Leana seperti orang linglung yang baru saja bangun dari koma. Wajahnya pun langsung pucat pasi.
"Le, jawaban itu hanya kamu yang tau. Max menikah karena ingin memberitahu polisi jika bukan dia yang melakukan itu padamu. Tapi, ketika sadar, kamu malah tidak ingat apapun dan menganggap Max yang telah memperkosa kamu." Marco menceritakan apa yang sudah Max bicarakan padanya, tanpa mengerti situasi Leana saat ini.
"Aku harus pergi, Ko."
Leana mendorong kursinya ke belakang, lalu berdiri. Dia berjalan sempoyongan dan meninggalkan Marco sendiri di sana. Leana berjalan sambil melamun sampai dia menabrak beberapa orang di sana. Bodyguard Max mengikuti dari belakang dengan kebingungan. Masalahnya, dia sangat ingin membantu Leana, tapi Max memerintahkan supaya dia tidak menyentuh istrinya. Bagaimana cara bantu Leana tanpa menyentuhnya?
'Aduh, bisa gawat kalau Nona sampai jatuh.' keluhnya dalam hati.
__ADS_1
Leana sampai ke ruangan Max. Tangannya gemetaran saat akan menempelkan kartu akses ke ruangan suaminya itu.
Ya, saat ini Lea tidak siap dan tidak sanggup menghadapi Max. Dia tidak tau apa yang akan dia katakan pada Max. Tapi, ketika terbuka, Leana melihat ruangan Max kosong. Leana berjalan perlahan, lalu terduduk di kursi kerja Max. Tangisnya langsung pecah di sana karena melihat foto dirinya terpasang di sisi meja.
'Maaax...apa Marco benar? Apa anak ini bukan anakmu? Tapi, kenapa kamu diam? Untuk apa kamu menikah dengan ku? Apa kamu ingin membersihkan nama baikmu saja? Bukan karena kamu mencintaiku?' pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Leana. Dia memegangi dadanya yang sakit karena tidak bisa menerima ini semua. Kenapa di saat dia sudah ingin melupakan semua masa lalu yang membuatnya trauma, kini malah muncul kenyataan pahit yang bahkan lebih pahit daripada sebelumnya?
'BRUK' Sebuah benda jatuh karena tersapu tangan Leana yang hendak berdiri. Leana berjongkok untuk mengambil kotak hitam itu. Kotaknya seperti kotak perhiasan. Perlahan, Leana membuka kotak yang dia jatuhkan. Betapa terkejutnya dia ketika melihat satu set perhiasan yang begitu cantik.
Lea menangis sesenggukan. Dia sangat sedih karena dan bingung dengan kehidupannya yang begitu rumit. Leana baru saja belajar untuk percaya pada Max, tapi sekarang jembatan yang dia bangun runtuh seketika.
Leana meletakkan kotak itu pada tempatnya semula, lalu dia membuka laci kerja Max. Dia menemukan 3 botol obat di sana. Tangan Leana bergerak untuk mengambil salah satu obat Max dengan sembarangan. Obat itu berjatuhan di tangan Leana. Tapi belum sampai dia meminum semua obat itu, Leana mendengar suara berisik dari luar. Max kembali!
*
*
*
Max merasakan ada sesuatu yang aneh. Dia bangun dari kursinya, dan benar saja jas nya basah karena ada air pada sandaran kursinya.
"Ran, ini tidak beres." Max memperlihatkan bagian jasnya yang basah pada Rani.
__ADS_1
"Baik Tuan. Saya akan segera cek dan perbaiki." Rani yang langsung tau maksud Max segera keluar untuk mencari tukang mereka.
Max melepaskan jas nya. Dia tidak suka jika pakaiannya kotor atau terkena noda. Tapi, seolah lupa, Max malah duduk lagi di kursinya yang basah karena air mata Leana. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada Leana. Sejak tadi, Max tidak dapat mengecek CCTV karena Romano begitu lama membicarakan kontrak kerja mereka.
"Di mana wanita itu? Aku harus mengeceknya."
Max meneliti satu persatu spot CCTV dari lantai satu hingga teratas. Tapi, Leana tidak terlihat. Dia malah menemukan Marco sedang makan di food court seorang diri.
Max menelusuri sekali lagi untuk memastikan dan dia baru berhenti setelah Leana tidak ditemukan juga. Akhirnya, Max menelepon ponsel Leana untuk menanyakan keberadaannya. Dia samar-samar mendengar dering telepon dari dalam ruangan. Max bergerak untuk mencari sumber suara. Ternyata suara itu ada di dalam kamar. Jadi, sejak tadi Leana ada di dalam kamar?? Pantas saja Leana tidak terlihat di CCTV. Kamar Max satu-satunya tempat yang tidak memiliki CCTV. Max bodoh sekali karena melupakan hal itu.
Dengan cepat, Max membuka pintu kamarnya. Benar saja. Leana ada di situ sedang tidur sambil meringkuk.
"Bee, apa kamu lelah?" ucap Max sembari menghampiri ranjang.
Leana yang hanya pura-pura tidur, jelas mendengar suara Max. Dia merasakan Max kini tengah membelai rambutnya. Dia juga bisa mendengar deru nafas Max di wajahnya. Sudah pasti pria itu sedang berada di dekat Leana.
"Tidur yang nyenyak.. Love you Bee.." Max mencium pipi Leana. Setelah mengucapkan itu, Max kembali keluar untuk melanjutkan kerjanya. Sekarang dia sudah bisa bekerja dengan tenang karena bagi Max yang penting adalah Leana sudah aman.
Leana membuka matanya perlahan. Kata-kata Max terdengar begitu menyegarkan, tapi Leana tidak tau harus bagaimana menghadapi Max sekarang. Dia sangat kacau. Apa Leana harus bertanya pada Max tentang semua ini, atau dia harus pura-pura untuk menjalani saja hidupnya dengan menganggap ini adalah anak Max?
Karena terlalu lelah dan pusing, Leana sampai tertidur sendiri.
__ADS_1