Love In Trauma

Love In Trauma
5 porsi makanan


__ADS_3

Dapur


Gina memperhatikan Leana yang tengah memasak omelet sambil melamun. Ada yang berbeda dengan Leana hari ini. Sejak masuk ke dapur, Leana tidak mengatakan sepatah katapun. Dia tidak menyapa Gina dan juga tidak tersenyum padanya.


"Nona,," panggil Gina.


Leana menengok pada Gina. Pelayan itu menunjuk ke arah wajan di mana omelet yang dibuat Leana sudah terlalu matang. Leana tersadar. Dia segera mengangkat wajannya dan menaruh omelet yang hampir gosong itu ke piring yang sudah di siapkan.


"Anda baik-baik saja?" Gina mematikan kompor, supaya Leana tidak makin panik.


"Gin, apa Max punya kenangan buruk dengan ayahnya?" tanya Leana ragu-ragu. Dia takut salah bicara atau pembicaraan mereka terdengar oleh 2 anggota keluarga Scotts yang menyeramkan itu. Ya, setelah mulai sedikit bisa beradaptasi dengan Max, Leana tidak menganggap Max adalah pribadi yang menyeramkan. Casing Max saja yang dingin dan kaku, tapi jika seperti kemarin, Max seperti anak kucing yang tersesat mencari jalan pulang ke rumah.


"Em.. Soal itu.." Gina tampak enggan menjawab Leana. "Apa Tuan Max belum cerita?"


"Belum." "Tolong bicara saja jika kamu tau sesuatu." pinta Leana dengan memelas. Dia tidak mungkin bertanya pada Max secara langsung.


"Nona, saya tidak bisa jelaskan detailnya. Tapi yang jelas, Tuan Max benci gelap dan juga petir."


Leana sedikit kecewa dengan jawaban Gina. Dia mendapatkan informasi yang tidak lengkap. Pasti ada sesuatu besar di masa lalu Max yang membuat pria itu jadi mengerang seperti semalam.


"Nona,, kenapa anda siapkan 5 piring?" giliran Gina yang bingung dengan Leana. Dia membuat 5 porsi makanan. "Apa ada tamu?"


"Di depan ada Rani." jawab Leana singkat. Dia kembali berfokus pada makanan yang dibuatnya dengan memberi garnish timun dan wortel yang dibentuk jadi bunga mawar.


"Kenapa sekretaris Tuan Max ke rumah?" Gina bertanya keheranan. Rani memang kerap ke rumah, tapi jika Max berada di kantor. Max sering minta Rani mengambil dokumen yang ketinggalan di rumah. Tapi ini masalahnya Max sedang off kerja karena sakit.


"Sejak kemarin dia menelepon Max. Katanya hari ini dia harus ke kantor polisi untuk lapor."


"Ooo.. iya saya lupa. Dia masih bebas bersyarat." Gina mengangguk tanda mengerti. Max sempat masuk penjara sebelum menikahi Leana.


"Gin, semua sudah beres. Yang gosong ini biar aku yang makan." pesan Leana sebelum dia kembali ke meja makan.

__ADS_1


*


*


*


Semua sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Vero duduk di tengah seperti biasa. Max duduk di sisi kiri Vero sedangkan Marco di sisi kanan. Leana mengambil bangku di sebelah Marco karena bangku sebelah Max sudah diisi Rani.


"Siapa yang suruh kamu duduk di situ?" ucap Max setengah berteriak.


"Aku harus duduk di mana?"


"Kamu pindah ke sana, Ran. Itu tempat Leana." Usir Max pada Rani yang tanpa dosa duduk di sebelah Max.


Leana otomatis segera berjalan ke bangku di samping Max sebelum pria itu berteriak lagi.


Vero dan Marco cukup terkejut dengan perubahan Max-Leana. Entah mengapa pagi ini aura Max-Leana berbeda. Apa Leana sudah mulai sembuh dari traumanya?


Suasana canggung itu berakhir ketika Gina dan pelayanan lainnya membawakan sarapan mereka. Leana hari ini membuat omelet dengan hash brown dan potongan bacon panggang. Bukan hanya dari tampilan, tapi dari aromanya pun menggugah selera.


"Tadi nona masak sambil melamun." bisik Gina.


"Kalau gitu, aku makan yang itu saja." Max menukar piringnya dengan piring Leana.


"Tapi.." ucapan Leana terhenti ketika Max menatapnya dengan tajam. Sepertinya Max sudah sembuh. Dia sudah menunjukan aura seramnya.


"Ehem.. sudah jangan ribet.. cepat kita makan." Vero yang tidak suka dengan situasi ini memberi kode supaya mereka semua diam.


Mereka mulai makan dengan hening. Seperti biasa, sebelum makan, Marco mengabadikan makanannya dalam media sosial. Semua makanan buatan Leana itu sungguh menarik dan enak. Jadi sayang jika dilewatkan begitu saja.


"Jadi, apa jadwal Max hari ini?" tanya Vero setelah dia menyelesaikan makanannya dengan cepat.

__ADS_1


"Tuan akan ke kantor polisi dulu, lalu ada rapat dengan Tuan Romano Smith." jawab Rani cepat.


"Sampai kapan urusan dengan pihak berwajib itu selesai?" protes Vero. Dia sangat sedih karena nama keluarga Scotts tercoreng. Ini semua gara-gara Leana. Meskipun Marco sudah jelaskan, tapi Vero tetap menyalahkan Leana.


"Sabar, Nyonya. Kita harus ikuti prosedur." ucap Rani sembari memegang tangan Vero.


"Ran, tolong jaga Max. Aku tidak ingin anakku berbuat macam-macam." "Kalau perlu ikuti dia 24 jam."


Leana merasakan perbedaan pada Vero yang sedang mengobrol dengan Rani. Tatapannya begitu lembut dan suaranya juga ramah seperti penyiar radio. Entah mengapa, pemandangan itu membuat hati Leana sedih dan sakit.


"Max, kamu harus naikkan gaji Rani. Pagi-pagi dia sudah ada di sini hanya untuk mengurus kamu." imbuh Marco yang tengah menikmati gigitan bacon terakhirnya.


Piring Leana sama sekali tidak tersentuh. Meskipun Max sudah menukarnya dengan omelet yang tidak gosong, tapi selera makan Leana hilang.


"Kenapa gak makan?" alih-alih menanggapi Marco, Max lebih tertarik pada istrinya. Sarapan Max sudah habis setengah, tapi Leana bahkan belum makan satu gigitan pun. "Cepat makan." paksa Max.


Leana mengambil garpunya karena tidak punya pilihan lain. Saat ini semua mata sedang menatapnya. Tapi baru satu kali kunyahan, Leana merasa mual.


"Hoek" dia tidak tahan lagi. Leana menutup mulutnya dan buru-buru pergi ke dapur sebelum muntah di sana.


Max beranjak untuk mengikuti Leana. Ini pertama kali dalam hidupnya Max pergi ke dapur. Pelayan langsung menyingkir begitu Max masuk. Mereka bahkan tidak berani mendekati atau menyentuh Leana. Hanya Max yang berdiri di samping Leana, menunggu istrinya yang masih mual-mual.


"Apa perlu ke dokter?"


Leana menggelengkan tangannya. Dia mencuci mulut dengan air, baru bisa bicara pada Max. "Ibu hamil memang seperti ini. Kamu kerja saja."


"Gina, awasi Leana. Kalau mualnya gak berhenti juga, panggil dokter ke sini." pesan Max pada Gina yang berdiri 200 meter darinya. "Aku berangkat kerja dulu."


"Emm, Max apa boleh nanti aku pergi keluar?" "Aku ingin ketemu Bibi." tanya Leana ragu-ragu.


Max berpikir sebentar. Dia lalu mengangguk dengan terpaksa. Sebenarnya dia tidak mau Leana pergi. Tapi, hubungannya dengan Leana sudah semakin baik. Max harus ingat pesan Ericka untuk tidak terlalu menekan Leana.

__ADS_1


"Thanks Max."


Max berjalan keluar dari dapur. Tapi, sebelumnya dia menatap Gina. Gina mengangguk tanda mengerti. Max pasti ingin bilang jika dia harus ikut bersama dengan Leana.


__ADS_2