Love In Trauma

Love In Trauma
Menyembuhkan trauma


__ADS_3

"Hai..siapa nama kamu?" Ericka ikut berjongkok di depan Leana.


"Leana." jawab Leana singkat.


"Oke, supaya lebih akrab, aku panggil Lea saja." Ericka tersenyum pada Lea.


"Apakah kamu ingin minum, Le?" tanya Ericka lagi.


Leana menggeleng. Dia masih waspada, tapi dia jauh lebih tenang sekarang. Itu karena Ericka sangat positif dan juga tenang menghadapi Leana.


"Apa boleh aku tanya sesuatu?" "Kenapa kamu ketakutan? Apakah kamu mimpi buruk??"


"Dia memperkosaku di gudang yang gelap." Leana mulai bercerita.


Ericka terperangah. Max memperkosa Leana? Pria itu sudah gila. Tapi, Ericka coba mengendalikan ekspresinya.


"Lalu, apa lagi yang terjadi?"


"Aku jijik pada diriku sendiri dan aku takut kalau dia melakukan itu lagi." Leana mulai menangis lagi. Setiap kejadian buruk itu melintas, Leana selalu ketakutan dan frustasi.


"Le, aku turut prihatin dengan apa yang terjadi padamu." ucap Ericka dengan penuh empati. Dia meraih tangan Leana lalu menggenggamnya dengan erat.


"Apa kamu tau siapa yang memperkosa kamu?"


Leana menggeleng. Dia tidak tau siapa yang menyentuhnya karena gudang itu gelap dan tidak ada pencahayaan. Tapi, yang Leana tau Max adalah pria yang menculiknya.


"Max, pria itu juga sedang sakit. Dia melakukan itu mungkin karena penyakitnya kumat." jelas Ericka. Dia sama sekali tidak membenarkan perbuatan Max, tapi Leana harus percaya dulu pada Max.


"Tidak, aku tidak ingin melihatnya." Leana menggeleng. Dia melepaskan tangan Ericka.


"Jadi, kamu trauma dengan Max?"


Leana mengangguk. Tentu saja dia trauma. Siapa yang akan senang ketika kehormatannya hilang secara paksa.

__ADS_1


'Ceklek' Pintu kamar mandi terbuka. Ericka segera bangun untuk menemui orang itu.


"Sembunyi dulu, Max." Ericka mendorong Max untuk tidak muncul di hadapan Leana.


"Kenapa?"


"Wanita itu trauma padamu karena kamu memperkosanya." kata Ericka lirih.


Max terdiam. Dia memberikan tatapan tajamnya pada Ericka. Dokter itu memang mengerti semua rahasia pasiennya. Dan Max justru senang kalau Ericka sudah mengetahui fakta dalam hidup Max.


"Apa kamu percaya kalau aku yang menyentuh dia?" tanya Max sambil melipat kedua tangannya.


"Tidak 100%."


"Ya, bukan aku yang menyentuhnya. Kalau ada rekaman CCTV, semua akan jelas." Max menyayangkan hal itu.


"Ceritakan padaku semuanya dan jangan ada yang di tutupi."


Meskipun Max yang berada di dalam gudang dengan Leana, tapi bukan Max yang menyentuh Leana. Dia tidak tau karena Max sempat pingsan akibat di pukul di bagian belakang kepalanya. Setelah Max sadar, Leana sudah menangis dan tidak mau ditolong oleh Max.


"Tapi aku sudah bertanggung jawab." ucap Max setelah menyelesaikan ceritanya.


"Apa maksudmu?"


"Aku sudah menikahinya."


"Whaaaat?" Ericka tidak bisa lagi bicara lirih. Dia sudah banyak menghadapi pasien dengan masalah yang sama, tapi kali ini langkah Max salah besar.


"Tolonglah Max.. kalau kamu gila, jangan terlalu gila." "Ini sama saja kamu menyiram api dengan bensin." "Gadis itu tidak mau melihatmu." "Bagaimana kalian bisa menikah?" Ericka sebagai Dokter merasa frustasi karena Max.


"Itu tugasmu untuk meyakinkan dia." Max melenggang keluar untuk mengambil pakaiannya di lemari.


Ericka mengikuti Max dari belakang.

__ADS_1


'BRAK' Leana melemparkan bangku ke lemari tepat saat Max akan membuka lemari itu. Untung saja kursi itu tidak mengenai Max dan hanya mengenai lemari.


"Lihat, kan betapa dia benci padamu." Ericka mengambil bangku yang dilemparkan Leana, lalu mengembalikan bangku itu ke tempat semula.


"Le, tenang Le." Ericka memegang kedua pundak Lea. "Aku tau ini berat untukmu, tapi dia itu suamimu yang sah."


"Tidak mungkin. Dia bukan suamiku. Aku tidak ingin punya suami seperti dia."


"Oke, Oke." "Tapi, apakah kamu mau sembuh dari trauma mu?" tanya Ericka serius. "Aku akan bantu kamu untuk sembuh. Bagaiamana?"


Leana melirik sesaat. Tawaran Ericka terdengar begitu menarik. Dia sungguh ingin sembuh dari traumanya dan hidup normal kembali.


"Kamu seorang koki. Kalau tanganmu terpotong, apakah kamu akan membuang pisaumu dan tidak memasak lagi?" Ericka mulai mengajak Leana untuk bernalar.


Leana menggeleng.


"Kamu harus lebih sering menggunakan pisau itu supaya lebih terampil bukan?" "Sama halnya dengan hidupmu. Kalau kamu ingin mengobati trauma mu, cobalah untuk menghadapi Max dan lebih akrab dengannya." "Max tidak akan menyakitimu. Jika dia menyakitimu, kamu bisa laporkan padaku atau ke kantor polisi." jelas Ericka yang memberikan pengertian pada Leana.


Max sejak tadi hanya berdiam dan memperhatikan Ericka dan Leana. Dia harus waspada, takut jika Leana mengamuk lagi.


"Le, ingat. Jika kamu menatap terus ke belakang, kamu tidak bisa berfokus pada hal yang ada di depanmu. Kamu tidak bisa memasak, kamu tidak bisa makan dengan enak dan kamu tidak bisa berkumpul bersama temanmu." "Semua diluar kendali kita, Le. dan itu tidak bisa diubah."


Leana terduduk lemas. Dia menangis seseunggukan, membuat Ericka harus memeluknya.


"Percaya padaku, Le. Meskipun Max itu menyeramkan, dia orang yang baik dan bisa kamu percaya padaku." imbuh Ericka. "Max sangat kesepian. Dia pasti senang bisa menikah denganmu." "Kalian bisa jadi partner yang kompak."


Leana memikirkan kembali perkataan Ericka. Jika pria itu baik, dia tidak akan melakukan itu pada Leana.


"Apa aku bisa menjalani ini, Dok?"


"Pasti bisa. Aku yakin. Kalian orang baik. Hanya saja kalian bertemu di saat yang tidak tepat." "Hubungi aku kapanpun kamu mau, Le." Ericka memeluk Leana sambil mengusap punggungnya.


"Aku kembali dulu ke rumah sakit."

__ADS_1


__ADS_2