Love In Trauma

Love In Trauma
Dia menantuku


__ADS_3

Hotel Emerald


Seperti biasa, Vero berjalan lebih dulu, sedangkan Leana berada di belakangnya. Leana tidak bisa jalan cepat-cepat mengikuti mertuanya yang kelihatan sangat bersemangat memasuki Hotel milik keluarga Sebastian itu.


Di dalam, tepatnya di restoran, teman Vero sudah berkumpul semua. Ada sekitar 10 orang ibu-ibu yang dandannya 11 12 dengan Vero. Mereka berusia 60 an lebih, tapi bergaya bagaikan anak muda yang berusia 30 an.


"Hai, Vero. Apa kabar?" seorang wanita berambut Bob menyapa Vero dengan cipika cipiki.


"Ya, kalau sakit aku gak akan bisa ke sini." canda Vero.


Wanita itu tertawa. "Kalau gitu, ayo duduk saja. Yang lain sudah datang." Dia merangkul lengan Vero untuk duduk di antara teman-temannya yang lain.


Leana yang sejak tadi diam sambil memperhatikan mereka, memilih duduk di sebelah Vero.


"Eh, kamu gak sama Gina? Dia siapa?" tanya wanita yang lain sambil memandang Leana.


"Dia menantuku." aku Vero.


"Whaaat? Siapa yang menikah? Marco? Kok kami gak diundang?" sahut orang yang lain dengan terkejut.


Berkat ucapan Vero yang memperkenalkan Leana sebagai menantu, seluruh temannya heboh dan berbisik-bisik. Sudah pasti mereka berbisik-bisik membicarakan Leana.


"Max yang menikah." "Kalian tau sendiri kan, Max tidak suka umbar privasi." Vero mencari alasan yang masuk akal.


"Max? Padahal aku baru saja ingin mengenalkan Max dengan putriku." kata wanita rambut Bob tadi.


Vero tersenyum getir. Tentu saja jika anak-anak dari temannya semua itu berkualitas dan berpendidikan tinggi. Vero akan langsung menjawab Ya jika Max memang belum menikah.


"Siapa nama mu nona muda?" tanya teman Vero yang penasaran dengan Leana.

__ADS_1


"Saya Leana Jung, Nyonya."


"Saya baru pernah dengar. Apa usaha ayahmu?"


Leana jadi gugup karena semua orang menatapnya. Vero juga tampaknya tidak mau membantu Leana dan hanya diam saja sambil menikmati tehnya.


"Ayah saya punya usaha restoran, tapi dia sudah meninggal." "Kalian mungkin gak kenal karena dia berada di Korea."


"Ooooh.. pantas kami gak pernah dengar."


"Lalu, gimana kamu bisa bertemu dengan Max?" "Max salah satu mahkluk yang paling sulit ditaklukan." tanya wanita Bob lagi. Hampir semua teman Vero yang punya anak perempuan sudah pernah minta dijodohkan dengan Max. Tapi, semua kapok dan mundur karena Max bagaikan kulkas 16 pintu jika berhadapan dengan wanita.


"Itu karena sebuah kecelakaan." jawab Vero singkat.


"Maksudnya, kamu hamil dulu?" pekik teman Vero yang hampir pingsan mendengar pengakuan Vero.


Vero tidak menjawab karena itu benar adanya. Suasana itu membuat Leana sangat canggung. Dia sudah pasti di cap menjadi wanita negatif atau wanita penggoda.


Dia masih bisa mendengar suara percakapan mereka yang mengatakan jika Leana itu kampungan dan Max patut untuk mendapatkan orang yang lebih baik.


*


*


*


Leana membasuh tangannya di wastafel. Dia memandang dirinya berulang kali. Fisiknya bukan jelek. Leana justru memiliki kecantikan yang alami. Dia juga pintar dan pandai memasak. Semua kesalahannya hanya pada status sosial. Jika Leana pemilik usaha besar seperti mereka, pasti mereka tidak akan memandang Leana sebelah mata.


"Sabar, Le.." ucapnya pada diri sendiri.

__ADS_1


"Nona Leana?" seorang wanita dengan rambut ikal yang baru masuk ke toilet, langsung memanggil Leana.


Leana mengernyitkan dahi karena tidak tau siapa wanita itu.


"Saya Rania."


"Rani? Kamu kok di sini?" Leana berusaha menutupi rasa tidak percayanya. Rani tampil dengan sangat berbeda. Biasanya Rani menggunakan celana kantor dan blouse saja. Tapi hari ini Rani menggunakan dress press body dan juga memoles wajahnya dengan make up.


"Saya cuti, nona." "Nona dengan siapa?"


"Dengan Mom Vero."


"Ooh, saya akan menemui Nyonya Scotts sebentar."


Meskipun tidak tau tujuan Rani, tapi Leana mengangguk. Dia berjalan bersama dengan Rani untuk pergi ke tempat Vero.


"Kamu kenapa bisa ada di hotel ini, Ran?" tanya Leana penasaran.


"Oh, Tuan Max kasih saya tiket hotel ini. Jadi sayang kan kalau gak di pake."


Leana tidak menjawab Rani lagi. Dia hanya mengikuti Rani yang jalan dengan cepat seperti Vero.


"Selamat siang Nyonya." sapa Rani ramah.


"Rania!" Vero berdiri dan langsung memeluk Rani sambil cipika cipiki. "Ini sekretaris Max." ucap Vero pada temannya.


Reaksi Vero itu sangat berbeda ketika mengenalkan Leana. Vero sangat bersemangat dan dia bahkan menyuruh Rani duduk di tempat Leana.


"Le, tolong ambilkan power bank Mom di mobil." ucap Vero tanpa menoleh pada Leana.

__ADS_1


"Ya, Mom." Leana segera menuruti Vero untuk mengambil power bank di mobil. Dunia ini sungguh lucu. Di sana ada Rani yang notabene karyawan, tapi justru Leana yang disuruh-suruh oleh Vero. Lagi-lagi Leana hanya bisa menghela nafas panjang. Sulit sekali untuk menyenangkan mertuanya.


__ADS_2