
Max terbangun. Dia melihat Leana yang masih memeluknya dengan erat. Dia pikir semalam hanyalah mimpi. Mereka berciuman. Tapi ternyata itu benar terjadi. Leana semakin lama sudah bisa menerima Max.
Tak lama, Leana juga terbangun. Yang pertama dia lihat adalah wajah datar Max yang sedang menatapnya.
"Pagi, Bee." ucap Max lirih. Dia mengusap pipi Leana yang kenyal seperti bayi dengan lembut.
"Coba tolong ulangi."
Max tanpa ragu mengulangi apa yang mereka lakukan kemarin. Mencium Leana.
"Max.." protes Leana setelah tautan bibir mereka terlepas. "Maksudku, kata-katamu barusan."
"Oh,, morning Bee." Max mengulangi tanpa dosa. Dia pikir Leana ingin berciuman lagi seperti semalam.
"Kenapa Bee?" tanya Leana yang masih menatap Max.
"Karena kamu seperti lebah. Ratu lebah yang bisa menaklukan hati seorang Maxmillian." jawab Max dengan gamblang. Ya, Max sudah jatuh hati pada Leana apalagi setelah Leana mengijinkan dia untuk memeluk dan menciumnya.
Leana tertawa kecil. "Ya, aku suka panggilan itu. Kamu terlihat romantis jika memanggil Bee."
"Jadi, apa kamu bisa lebih nyaman denganku sekarang?" Max membelai rambut Leana sambil meneliti ke dalam mata coklat Leana.
"Aku masih bisa mentolelir untuk pelukan dan ciuman." ucap Leana dengan lirih, hampir tidak terdengar di akhir.
Max tersenyum. Dan saat Leana juga memandangnya, dia kembali mengulangi ciuman yang kemarin dan yang tadi dia lakukan. Kali ini dia jauh lebih berani karena Leana sudah mengijinkan.
'Kruuuk.. kruk..' ciuman mereka terhenti ketika Max mendengar suara perut Leana.
"Baby nya lapar. Sebaiknya kita sarapan." ajak Max.
Max bangun lebih dulu sembari membenarkan tali bath robe nya yang lepas karena aktivitas mereka barusan. Sedangkan Leana menyusul Max, juga sambil merapihkan rambutnya yang acak-acakan.
*
*
*
__ADS_1
Max dan Leana kembali ke rumah karena Rani menelepon jika Max ada rapat penting. Para karyawan sudah bersiap menghadapi kemarahan Max. Mereka begitu lemas saat mobil Max memasuki halaman rumah. Gina menunggu di depan bersama dengan sopir dan beberapa pelayan.
"Maafkan atas kejadian kemarin, Tuan Max." mereka membungkuk ketika Max baru membuka pintu mobil.
Max memandang mereka sekilas dengan tatapan tajam, lalu dia berputar untuk membukakan pintu Leana.
Dia langsung menggandeng tangan Leana dan berhenti tepat di depan pelayan rumahnya.
"Tuan, saya sungguh minta maaf. Kemarin saya sudah berangkat, tapi saya gak tau posisi anda." jelas sopir gugup.
"Maaf? Jika aku mati, apa maafmu itu berguna?"
Max sudah hampir meledak, tapi Leana menahan Max dengan memegang dadanya. "Max, turunkan sedikit suaramu. Dia itu orang tua." ingat Leana.
Max melembut ketika melihat Leana.
"Ya sudah, kalian minggir. Aku mau masuk."
Semua baru sadar jika mereka berdiri di depan pintu. Gina langsung menyingkir, begitu juga dengan yang lain. Mereka terus memandang sampai Max menghilang ke lantai 2. Mereka tidak percaya pada Max yang kini berjalan sambil merangkul pundak Leana.
"Apa yang terjadi semalam di hotel?" Gina bermonolog sendiri. Tapi dia senang karena sepertinya Leana bisa membantu mengontrol emosi Max yang cenderung negatif.
Sedangkan Max berjalan ke walk in closet. Dia harus segera pergi ke kantor meskipun saat ini Max lebih suka bersama dengan Leana.
"Bee, aku ke kantor dulu. Apa kamu mau ikut?" tanya Max sembari melepaskan kemeja yang kemarin.
"Aku di rumah saja. Aku takut merepotkan mu." Leana bangun kembali. Dia membantu Max memasangkan kemeja dan mengancingkan itu.
"Aku belum bilang seluruh karyawan kalau kamu ini istriku."
"Apa kamu gak malu punya istri seperti ku?" "Mom saja malu."
Max menarik pinggang Leana supaya wanita itu mendekat. Kini jarak mereka tidak ada 10centi.
"Yang berani menghinamu akan berhadapan dengan Maxmillian Scotts, kamu tenang saja." Max memberi jaminan pada Leana.
Leana berjinjit untuk mengecup bibir Max singkat. "Thanks, Max."
__ADS_1
"Ayo, ikut saja. Cepat ganti baju." Max melepaskan Leana, lalu mendorongnya pergi ke walk in closet.
'Sial, kamu memang luar biasa, Leana.' Batin Max sambil memegangi kepalanya yang sakit karena menahan perasaan yang tidak bisa dia luapkan pada istrinya. Ya, Leana sudah menyatakan jika hanya memeluk dan mencium dan tidak lebih dari itu. Jika Max memaksa Leana, Max takut Leana akan kembali trauma.
Leana siap dalam waktu 5 menit. Dia memang benar-benar idaman Max karena tidak ribet dan lama jika bersiap-siap. Hari ini Leana menggunakan overall jeans dengan blouse turtle neck hitam. Pakaian itu longgar tidak seperti dress kemarin dan tentu saja itu membuat Max tenang.
"Ayo, nyonya Scotts." Max melingkarkan tangannya di pinggang Leana. Dia lebih senang jika mengajak Leana ke kantor daripada di rumah bersama dengan Vero dan Marco.
"Nanti kamu tidur saja di kantor. Ada tempat istirahat di sana." ucap Max sambil menyelipkan anak rambut Leana ke belakang telinga.
Mereka turun dan lagi-lagi menjadi pusat perhatian karena Max sekarang malah merangkul pinggang Leana.
"Apa kepala Tuan Max terbentur?" bisik salah satu pelayan pada Gina.
"Hush. Mungkin dia justru salah minum obat." jawab Gina sambil berpikir.
"Kalian bicara apa?" Marco menyelinap di belakang kedua pelayannya, membuat pelayannya kaget setengah mati.
Gina sampai memegangi jantungnya yang hampir lepas dan lari dari tempatnya.
"Tuan, jangan muncul tiba-tiba seperti ini." protes Gina.
"Kenapa Max dan Leana? Apa mereka bertengkar?" tanya Marco yang tidak mempedulikan komplain dari Gina. Dia lebih tertarik dengan topik yang para pembantunya itu bicarakan.
"Justru Tuan Max dan Nona Lea makin lengket seperi perangko." Gina senyum-senyum sendiri membayangkan Max yang kaku dan dingin bisa merangkul seorang wanita.
'Apa trauma Leana sudah sembuh? Kenapa begitu cepat?' batin Marco.
"Tuan kenapa? Apa anda ingin punya istri juga?" tanya Gina memberanikan dirinya. Marco saat ini terlihat bengong entah memikirkan apa.
"Nanti, jika aku sudah berhasil mendapatkan Jessi." seulas senyum licik muncul di sudut bibir Marco.
Gina bergidik ngeri. Sepertinya Marco juga perlu berobat dengan Ericka. Dia sudah membuat kehidupan adiknya berantakan, tapi tampaknya pria itu belum kapok juga. Masih saja Marco mengejar Jessi yang jelas-jelas sudah kabur entah kemana.
"Tuan mau kemana?"
"Tentu saja bertanya pada Leana di mana Jessica berada. Moodnya sesuai bagus, jadi dia pasti akan memberikan informasi." jawab Marco sambil melambaikan tangan singkat pada Gina.
__ADS_1
Satu lagi keanehan Marco. Dia selalu mengikuti Leana ke mana-mana. Kemarin malam juga Gina curiga jika Marco yang men silent ponselnya sampai Gina tidak tau Leana menelepon berulang kali. Apa yang sebenarnya diinginkan Marco?