
Gina menghibur Leana. Dia tidak bisa menerima kehamilan ini. Rasanya hidup Leana sudah hancur sampai ke dasar. Masa depannya sudah berakhir. Dia sangat membenci Max. Pria itu sudah membuat hidupnya jadi seperti ini.
"Nona.. apakah anda belum siap jadi ibu?" tanya Gina setelah tangis Leana reda.
Leana mengangguk. Dia tidak mau dirinya hamil. Dia juga tidak mau menikah dengan orang yang sudah merusak dirinya.
Gina memeluk wanita yang tampak cemas dan gugup itu. Gina memang tidak paham dengan cerita Max dan Leana. Tapi, sepertinya itu berhubungan dengan trauma Leana. Dari pembicaraan Marco dan Vero, Gina sedikit menangkap jika Max melakukan sesuatu pada Leana.
Leana adalah wanita yang baik dan ramah. Gina tidak tega pada Leana yang harus berhubungan dengan kedua orang pria keluarga Scotts sekaligus mertua yang menyeramkan. Apa Leana mampu bertahan?
"Tuan Max bilang kalau dia tidak akan pulang malam ini. Jadi anda tidak perlu khawatir."
"Ke mana dia?" tanya Lea dengan terisak.
"Saya kurang paham. Mungkin Tuan Max ingin supaya anda tenang dulu, nona."
"Bi, aku ingin makan roti bakar." Lea mengusap air matanya. Dia sangat lapar setelah berjam-jam menangis. Gina melihat jam tangannya. Jam 12 malam. Pasti ini bawaan bayi Leana.
"Oke, saya cari dulu ya nona." Gina beranjak dari ranjang. Dia tentu saja akan meminta Max untuk mencarikan roti bakar untuk Leana. Dia harus bertanggung jawab pada istri dan anaknya.
Sementara itu, Leana mengusap perutnya yang masih datar. Apakah benar dia hamil? Kenapa dia harus mengalami ini semua?
Ponsel Leana berdering membuyarkan lamunan Leana. Ericka calling..
"Lea, aku akan segera ke sana." "Max memberitahu untuk ke rumah dan membawa roti bakar untukmu." Ericka bicara dengan suara parau.
"Jangan repot Rick." tolak Leana. Dia tau jika Ericka pasti sudah tidur.
"No, aku juga sendiri di rumah. Jadi mungkin aku akan menginap di sana."
"Thanks Rick. Maaf kamu jadi repot."
__ADS_1
Leana menutup telepon dengan perasaan jauh lebih tenang. Dia senang jika Ericka memang ke sini. Ada banyak hal yang ingin Lea ceritakan pada Ericka.
*
*
*
"Max, stop." Marco mengambil botol minuman di tangan Max.
Max yang tidak terima mencoba mengambil itu dari Marco yang telah menjauhkan botol vodkanya.
"Ingat, kamu gak boleh masuk rumah sakit lagi. Ericka bisa menghajar ku." ingat Marco pada adiknya yang begitu mudah berubah moodnya. Saat ini Max terlihat sangat putus asa. Dia pasti ada di fase down/depresi. Apa yang membuat Max jadi seperti ini?
"Max, apa ada masalah?"
"Gak usah peduli padaku. Ini semua gara-gara kamu." Max berhasil mengambil botol minuman di tangan Marco. Tapi Marco kembali menariknya sehingga terjadi tarik menarik antara kedua kakak beradik itu.
'PRANG' botol itu jatuh ke lantai.
"Sabar, Max." Marco berusaha untuk tenang. Dia sudah biasa menghadapi Max seperti ini.
"Dia hamil." ucap Max lirih.
"Emm..Bagus dong." Marco merapihkan bajunya yang kusut karena Max.
Max melirik ke arah Marco. Terkadang pemikiran Marco sangat berbeda. Dia tidak tau apa yang Marco sebut 'bagus'.
"Max, ambil sisi positifnya. Kamu akan punya anak dan Mom akan senang. Dia tidak akan membully Leana lagi." jelas Marco yang melihat wajah kebingungan Max.
"Masalahnya itu bukan anak ku." "Sudah berapa kali aku bilang kalau bukan aku yang menodai Leana." jelas Max frustasi. Dia menjambak rambutnya supaya mengurangi rasa sakit yang muncul di kepalanya.
__ADS_1
"Apa salahku sampai aku harus mengalami ini, Ko?"
Marco terdiam sesaat. Dia melihat Max yang menangis seperti anak kecil. Akan sangat sulit untuk Max bisa tenang pada situasi sekarang. Jadi, Marco akan membiarkan Max untuk melakukan apa yang dia mau.
"Max, mungkin dengan cara ini, kamu bisa buktikan jika anak itu memang bukan anakmu dan bukan kamu yang menodai Leana. Lakukan Tes DNA setelah anak itu lahir." ucap Marco ketika Max sudah mulai berhenti menangis. "Sabarlah Max."
Ponsel di samping Max berdering. Ericka calling..
Max segera mengangkat telepon dari Dokter nya itu. "Apa kamu sudah sampai di rumah?" tanya Max lesu. Tadi Gina menelepon dan bilang jika Leana nyidam roti bakar. Max yang tidak bisa berbuat apapun segera menelepon Ericka untuk membelikan roti bakar dan menemani Leana di rumah. Leana pasti juga shock dengan kabar kehamilan ini. Jadi, memanggil Ericka ke rumah adalah langkah terbaik.
"Dia sudah tidur." jawab Ericka setengah berbisik. "Roti bakarnya hanya di makan satu potong. Aku rasa dia ingin kamu yang membelikannya."
Max menimpali dengan tersenyum sinis. "Kamu bilang itu karena kamu gak mau bolak balik dimintai tolong kan?" "Tenang saja Rick, kalau dia ngidam lagi, aku akan suruh Gina saja."
"Max.. kamu baik-baik aja kan? Sekarang kamu di mana?"
"Aku di cafe dengan Marco. Kamu tenang saja."
"Syukurlah. Max, pulang saja lah. Leana tidak akan mengusir mu."
"Maksudnya?" tanya Max bingung.
"Leana cerita jika dia sedih karena kamu menghilang begitu saja." "Kamu seperti pengecut yang tidak mau bertanggung jawab."
"Tapi aku sudah menikahinya." jawab Max lesu.
"Ya, tapi sekarang istrimu hamil." "Aku sudah bilang kan, buat dia jatuh cinta padamu. Kenapa kamu malah lari? Apakah jika dia hamil maka kalian gak bisa bahagia?"
"Dia trauma denganku, Rick."
"Tuan Max yang terhormat, Lea sudah bilang padaku jika dia akan mempertahankan bayinya dan berusaha menerima mu demi anak kalian kelak."
__ADS_1
"Dia bukan a..."
"Ya, aku tau Max. Kita anggap saja dia anakmu. Leana percaya jika kamu yg menodai dia, jadi di mata Lea, kamu adalah ayahnya. Tolong pahami saja sudut pandang Lea. Setelah traumanya pulih, dia pasti akan sadar dan tau kejadian sebenarnya di dalam gudang itu." jelas Ericka panjang lebar. Kasus Max-Leana adalah hal terberat dalam sepanjang karirnya. Mereka berdua sama-sama mengalami trauma dan di pertemukan sebagai suami istri dalam keadaan yang rumit. Ericka hanya berharap jika memang Max dan Leana bisa mengobati trauma mereka dengan rasa cinta diantara keduanya.