
Malam hari
Leana berdandan dengan cantik. Dia menggunakan gaun satin bewarna hitam yang press body. Dia menggelung rambutnya, dan memoleskan make up tipis. Setelah memastikan sekali lagi penampilannya, Leana keluar dari kamar untuk menemui Max yang sudah lebih dulu berada di bawah, tepatnya di parkiran mobil.
"Max, aku siap."
Max berputar dan betapa terkejutnya dia melihat Leana. Max sampai berulang kali memandang istrinya dari atas ke bawah.
"Apa aku terlihat gemuk?" tanya Leana yang jadi tidak percaya diri gara-gara Max.
"Justru karena kamu terlalu kurus. Orang gak akan tau kalau kamu sedang hamil." ucap Max sembari membukakan pintu mobil untuk Leana.
Leana tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara lagi.
Max menarik nafas panjang, untuk memasukkan oksigen sebanyak-banyaknya. Melihat Leana yang begitu anggun dan seksi membuat otak Max kekurangan oksigen.
'Kenapa dia berdandan begitu cantik hanya untuk sebuah acara makan malam di tempat Dokter Andre?' batin Max. Dia kini sudah masuk ke dalam mobil dan langsung menjalankan mobil meninggalkan kediaman keluarga Scotts.
Seperti biasa, suasana canggung meliputi Leana dan Max. Leana memandang keluar jendela, sedangkan Max berfokus menyetir dan tidak ingin menengok ke arah Leana. Max takut lupa diri jika terus memandangi istrinya yang begitu cantik malam ini.
"Max, aku rasa kita perlu beli sesuatu untuk Om Andre dan keluarganya." ucap Leana memecah keheningan.
"Ya, ide bagus." "Apa yang mau kamu beli?"
"Emm, aku ingin cheesecake di Chateraise yang ada di mall Senayan." jawab Leana ragu-ragu.
'Ciiiit' Max mengerem mendadak. Untung saja tidak ada kendaraan di belakang mereka. Max kembali menjalankan mobil dengan lebih hati-hati dan kali ini dia harus menengok pada Leana. "Itu terlalu jauh, Le. Cari yang dekat saja."
"Oh, oke."
Leana memegangi seat beltnya lalu kembali menatap keluar jendela.
Max tetap menjalankan mobil dalam diam, tapi tujuannya bukan ke arah rumah Dokter Andre, melainkan tempat yang Leana inginkan. Dia sadar kalau pasti Leana minta cheesecake bukan karena mau membeli buah tangan, tapi karena dia nyidam dan ingin makanan itu.
"Lho, kok ke sini Max?" Lea terperangah ketika Max memasuki parkir mall Senayan.
"Ya, aku salah jalan. Jadi kita beli saja sekalian."
__ADS_1
Ekspresi Leana langsung berubah senang. Dia bahkan sudah melepas seat belt meskipun mobil Max belum berhenti sepenuhnya.
"Tunggu, Le." Max memegang pergelangan tangan Leana. "Biar aku saja yang beli. Kamu tunggu di mobil." "Jalannya terlalu jauh." Max mencari alasan supaya Leana tidak perlu turun. Tentu saja, alasan sebenarnya adalah Max tidak ingin semua orang melihat tubuh molek istrinya.
"Nanti aku video call, jadi kamu bisa pilih kue untuk mu dan juga Om Andre."
Leana mengangguk. Dia tidak mau berdebat dengan Max. Ericka bilang jika Leana harus belajar percaya pada Max. Itu akan membantunya untuk mengatasi rasa trauma pada suaminya sendiri. Khususnya karena Max pun juga spesial, punya penyakit mental.
*
*
*
Max kembali setelah pergi 15 menit. Dia membawa 2 paper bag di tangannya. Tebakan Max benar. Leana memang ingin makan cheesecake di sana. Istrinya itu membeli 5 potong cheesecake dan juga segelas susu rasa taro.
"Thanks, Max." ucap Leana senang. Dia langsung membuka apa yang Max bawa.
"Ini pertama kalinya aku di suruh oleh orang lain." kata Max sambil tersenyum kecil. "Biasanya aku yang menyuruh mereka."
"Sorry,, aku gak tau." Leana tampak sedikit menyesal meskipun itu bukan 100% kesalahannya. Max lah yang menawarkan diri untuk pergi ke atas.
Leana tertawa nyaring mendengar Max. Meski itu diucapkan dengan nada datar dan angkuh, tapi itu terdengar lucu bagi Leana.
Max menggelengkan kepala untuk menyadarkan dirinya setelah beberapa saat menatap Leana dengan takjub. Leana tertawa. Dia bisa tertawa. Ini suatu kemajuan yang besar. Dan Leana 3x terlihat lebih cantik ketika dia tertawa lepas seperti itu.
"Max, apa kamu mau?" Leana menawarkan Max sebelum dia memakan cheesecake nya.
"Boleh. Tapi nanti saja, aku sedang menyetir." ucap Max yang sudah kembali melanjutkan perjalanan.
Leana mengulurkan sesendok cheesecake ke hadapan Max.
Malam ini sungguh penuh kejutan. Max luar biasa senang dengan perubahan Leana pada dirinya. Sekarang Leana sedang menyuapi Max. Ini bahkan di luar ekspetasi Max.
Sepanjang jalan, Leana sudah menghabiskan 2 dan Max menghabiskan sisanya, berarti 3 potong cheesecake. Belum sampai ke rumah Dokter Andre untuk makan malam, Max sudah kekenyangan. Ini karena Leana tidak mau menyisakan cheesecake nya dan terus menyuapi Max.
"Kita sampai, Le." Kata Max setelah gerbang pintu rumah Dokter Andre terbuka.
__ADS_1
Rumah itu begitu mewah. Itu tidak beda jauh dari rumah Max. Hanya saja rumah Dokter Andre ini bergaya mediteranian klasik.
Max segera turun dan berputar untuk membukakan pintu Leana.
"Pegang aku supaya kamu gak jatuh, Le." Max memberikan lengannya supaya Leana bisa melingkarkan tangan di situ.
Leana berpikir sejenak. Tapi, akhirnya dia mau melingkarkan tangannya pada lengan Max yang kekar.
Mereka berjalan perlahan menuju pintu rumah utama. Seorang pelayan membukakan pintu untuk mereka.
"Max.. Leana..." suara Dokter Andre menggema ke seluruh ruangan. Dia senang sekali mendapati Max dan Leana berjalan beriringan seperti layaknya suami istri yang baru menikah.
"Hai, Max, Le." seorang wanita muncul di belakang Andre. Itu adalah Ericka alias anaknya. Sama seperti ayahnya, Ericka senang melihat kedekatan Max-Leana. Progress mereka sangat bagus.
"Ericka, kenapa kamu ada di sini?" tanya Leana bingung.
"Dia anakku. Kamu pasti sudah kenal, kan?" Andre hanya memberikan perkenalan singkat pada Leana yang pasti sudah kenal Ericka. Ya, Andre baru tau semalam jika Leana mengalami kisah yang rumit dengan Max sehingga Ericka harus membantu keduanya.
"Iya, Om." jawab Leana yang masih terkejut.
"Hai, Max. Lama gak ketemu. Kamu makin tampan saja." seorang pria seusia Max muncul dari dalam. Dia langsung menjabat tangan Max walaupun
Max tidak mengulurkan tangannya.
"Kamu pun makin gak jelas saja,Timothy." balas Max.
"Ini pasti istrimu, cantik sekali." Tim beralih pada wanita bertubuh mungil di sebelah Max. "Namaku, Timothy. Aku suami Ericka." ucap Tim ramah.
"Aku Leana, istri Max."
"Maaf, kami terlambat karena Leana membeli ini dulu untuk kalian." Max mengulurkan paper bag pada Ericka.
"Thank you Le.."
"Ya sudah, ayo kita ke dalam, anak-anak." Dokter Andre menyudahi percakapan mereka. Dia membimbing Max untuk masuk ke dalam.
"Le, bagaimana, perasaanmu sekarang?" Ericka menggandeng Leana sambil sedikit bertukar cerita.
__ADS_1
"Aku senang hari ini.. kamu benar, sepertinya Max orang yang baik." "Tapi Rick, aku ingin tanya tentang masa lalu Max."
Ericka mengendurkan pegangannya pada Leana dan berhenti sejenak. Dia tentu tau semua hal tentang Max, tapi masalahnya apa tidak apa-apa jika Leana tau penyebab Max mengalami sakit mental?