
Rani mengetuk pintu ruangan Max. Dia masuk membawa berkas-berkas yang diminta oleh Max.
Pria itu terlihat sedang serius bekerja. Dari ekspresi Max, sepertinya Max sedang dalam mood yang baik.
“Tuan, Nyonya Vero sedang belanja di supermarket.” Lapor Vero. Dia tau ini bukan berita yang penting untuk Max, tapi entah kenapa dia ingin memberitahukan pada Max karena seluruh supermarket heboh dengan pembantu baru yang di bawa oleh Vero.
“Kenapa dia belanja di sini?” Max melepaskan kacamatanya. Dia menatap Rani dengan pandangan menyelidik.
“Mungkin Tuan Max ingin menemui Nyonya. Dia belanja dengan seorang gadis cantik yang katanya pembantu baru anda.” Ucap Rani dengan ragu-ragu.
“Pembantu?” Max tidak tau jika di rumah ada pembantu baru. Perasaan Max juga tidak enak. Sebelum turun, Max mengecek CCTV di supermarket. Dia dapat dengan mudah menemukan Vero karena wanita itu selalu berpakaian dengan warna pastel. Max melihat Mom nya sedang berada di bagian daging. Tapi, mata Max menatap ke arah wanita yang berada di belakang Vero.
“Mom memang tidak waras.” Max segera berdiri dari kursi direkturnya.
Rani dapat melihat perubahan ekspresi Max. Rahangnya mengeras dan tangannya menggenggam erat pulpennya. Rani rasa pulpen itu akan patah di tangan Max. Dan memang benar, pulpen di tangan Max sudah terbagi jadi 2. Max melemparkan pulpen itu ke meja, lalu tanpa banyak bicara lagi, dia turun ke bawah untuk menemui Vero.
Rani mengikuti Max. Dia mendapat perintah dari Marco untuk menjaga Max lebih baik, karena Marco takut Max masuk rumah sakit lagi akibat terlalu banyak minum obatnya.
*
*
*
Semua karyawan menunduk ketika Max melewati mereka. Mereka memperlakukan Max seperti halnya dengan Vero.
Max berjalan dengan gontai ke arah 2 orang wanita yang tampak sedang sibuk memilih ikan.
Dia baru berhenti tepat di belakang wanita yang berkaos putih yang mengambil ikan di akuarium atas perintah Vero.
“Cepat ambil yang itu.” Vero menunjuk sebuah ikan bawal yang besar.
“Keluarkan tanganmu dari sana.” Ucap Max dengan nada baritonnya.
Leana melonjak kaget. Dia hendak berbalik, tapi karena lantai di sekitarnya banyak air, akhirnya Leana tergelincir.
__ADS_1
Max dengan sigap menangkap Leana dengan mencengkram lengan Leana.
“Aaaaa.. lepaskan aku.” Leana berteriak histeris ketika tangan Max menyentuh lengannya. Dia langsung memberontak dan ketika Max melonggarkan pegangannya, Leana langsung bersembunyi di belakang Vero.
“Minggir Le.. badanmu bau ikan.” Vero tampak risih ketika terkena badan Leana.
“Max, kamu jangan bikin kaget seperti itu.” Omel Vero. Dia sebal sekali. Gara-gara Max, baju mahalnya jadi berbau amis.
“Mom kenapa ajak dia?” Max langsung mengubah topik pembicaraan, karena sejak awal dia hanya berfokus pada Leana. Max tidak habis pikir dengan penampilan Leana. Dia menggunakan baju santai yang tipis dan celana ¾. Yang lebih parahnya lagi, baju Leana jadi begitu transparan akibat badannya yang basah sehingga dalaman Leana dapat terlihat jelas.
“Lho, Mom bebas mengajak siapapun di rumah. Kenapa kamu protes?” tanya Vero dengan nada yang cukup tinggi.
Perdebatan anak dan ibu pemilik mall ini, jelas menjadikan mereka tontonan para karyawan.
“Mom boleh mengajak siapapun, tapi jangan dia.” Max masih memandang Leana yang bahkan tidak berani menatapnya.
“ Max, dia bosan di rumah. Mom hanya kasih dia pekerjaan. Lagipula, Leana tampak senang. Iya, kan Le?” tanya Vero sambil menyenggol Leana yang kini sudah berada di sampingnya.
“I.. iya.” Jawab Leana singkat. Dia tidak keberatan waktu Vero menyuruhnya mengambil ikan sendiri, karena pekerjaannya memang di dapur dan dia pernah melakukan itu sebelumnya.
Para karyawan berbisik melihat perlakuan Max pada Leana. Baru kali ini seorang Max bisa memperhatikan orang lain dalam arti tulus. Biasanya Max selalu memperhatikan orang lain untuk mencari kesalahan mereka. Tapi, tadi dia bisa memberikan jasnya yang mahal pada seorang gadis yang bahkan menolak ditolong oleh Max. Siapa sebenarnya gadis itu?
Sepeninggal Max, Leana masih gemetaran. Nafasnya juga tidak beraturan. “Mom, ayo kita pulang. Leana butuh istirahat.” Kata Leana lirih.
“Haduh, menyusahkan saja. Aku belum selesai berbelanja.” Keluh Vero. “Apa kamu sangat takut dengan Max?” Vero memberi kode kepada salah satu pegawai untuk membawa belanjaan mereka ke kasir. Leana mengikuti Vero tanpa banyak bicara lagi.
“Kamu sudah janji untuk masak ini, bukan?” tanya Vero sambil mengeluarkan kartu debitnya. Ya, meskipun mall ini milik keluarga Scotts, tapi dia tetap harus membayar belanjaannya. Mereka harus disiplin dan tidak boleh seenaknya mengambil barang di tempat sendiri.
“Ya, tapi Leana harus menenangkan diri dulu.”
Vero diam saja. Wanita di belakangnya itu menunjukkan jika dia takut pada Max. Tapi, di satu sisi, Leana menggenggam erat jas yang di berikan Max untuk menutupi baju Leana yang basah.
“Kamu begitu suka dengan Max, tapi kamu mengatakan sebaliknya. Sungguh aneh.” Ucap Vero lirih.
“Kenapa, Mom?” tanya Leana yang sudah mulai tenang.
__ADS_1
“Tidak. Sudah ayo pulang.”
Leana mengikuti Vero sambil menunduk.
*
*
*
Sementara itu di ruangan Max, pria itu kembali mengamuk. Dia sudah memporak porandakan barang-barang di mejanya. Rani sudah paham dengan situasi ini. Dia sebenarnya takut pada Max, tapi dia harus menahan diri untuk tenang, karena Dokter Max bilang supaya Rani bisa memposisikan dirinya dengan tepat dan coba untuk menemani Max.
“Kenapa wanita itu sulit sekali untuk di sentuh.” Teriak Max.
“Maksud anda, gadis tadi?” tanya Rani yang berdiri di pojok ruangan.
“Dia itu istriku, Ran. Istriku!”
Rani membulatkan matanya. Pantas saja Max terlihat begitu kesal sekarang. Ternyata wanita blesteran Korea yang cantik itu adalah istri bosnya.
“Mom keterlaluan. Dia menjadikan Leana seperti pembantu.” Protes Max.
Max sangat kesal ketika Vero menyuruh Leana mengambil ikan di akuarium. Selain itu, dia kesal kenapa Leana berpenampilan seperti tadi. Semua orang bisa melihat tubuh Leana yang cukup seksi.
“Tuan, Nyonya Vero adalah orang yang baik. Mungkin dia hanya ingin lebih akrab dengan menantunya.” Kata Rani. Dia harus memberikan kara-kata positif pada Max sesuai dengan saran psikiater Max.
“Tidak perlu bohong, Ran. Aku tau jelas isi otakmu.” Max memandang Rani sengit.
“Maaf Tuan.”
“Cepat buang akuarium di supermarket. Atau taruh itu di belakang. Biarkan pegawai saja yang bisa mengambilnya.” Perintah Max.
“Baik, saya akan segera beritahu bagian supermarket.” Rani membungkuk, lalu undur diri dari hadapan Max.
"Lea, kamu itu bodoh sekali." Ucap Max sengit. "Aku harus cepat menyembuhkan trauma mu padaku."
__ADS_1