
Max segera memanggil Rani begitu dia datang ke kantor. Dia harus menunggu Rani cukup lama, karena wanita itu masih pergi dengan Mom Vero dan baru kembali di jam 11.
Sementara itu, Rani jelas saja tau apa yang akan dibicarakan oleh Max. Bosnya pasti ingin mencari tau kata-katanya semalam.
"Apa kamu tadi sarapan dengan Mom?" ucap Max sambil menatap Rani dengan tajam.
"Ya. Aku dan Mom Vero sedang bicara sesuatu."
"Mom?" Max makin meradang karena Rani menyebut Vero dengan sebutan Mom.
"Tuan Max, apa Nyonya Vero gak bilang sesuatu?" pancing Rani lagi.
"Ran, aku gak suka main teka teki. Katakan saja."
Rani duduk di depan Max sambil menyilangkan kakinya. Dia juga tampak sangat percaya diri, tidak seperti biasanya.
"Saya ingin kasih tau anda, tapi jangan kaget." "Saya juga takut nanti penyakit anda kumat."
Max tau ini sesuatu yang serius. Tidak mungkin Rani berani seperti ini padanya. Max yakin ini berhubungan dengan perkataan Rani semalam.
"Tuan, saya ini sebenarnya anak dari keluarga Jacob." Rania mulai menunjukkan identitasnya. Dia adalah salah satu keluarga Jacob yang terkenal di negara tetangga. Max mengenal baik ayah Rania, tapi dia tidak tau jika Tuan Jacob mempunyai seorang anak perempuan. Yang Max tau, pria tua itu memang berteman akrab dengan Daddy nya.
Max yang datar tidak banyak bereaksi. Dia masih ingin tau kenapa Rania harus pura-pura jadi sekretarisnya. Jadi Max memilih diam supaya Rani melanjutkan ceritanya.
"Seharusnya Mom Vero cerita, jadi aku tidak perlu jelaskan padamu." keluh Rani yang kini tengah memandang Max. Tatapan yang dalam dan penuh keyakinan, beda dengan tatapannya yang biasa.
"Seharusnya, aku yang menikah denganmu, Max. Bukan Leana."
"What???"
"Ya,, aku sudah mengikuti kamu kemana-mana dan rela jadi sekretaris. Dad ingin supaya kamu gak kaget dengan perjodohan ini. Tapi kamu malah menikah dengan gadis kampungan itu." "Dia bahkan bekas orang lain."
__ADS_1
"Rania! Jaga ucapanmu." teriak Max. Dia bahkan berdiri sambil menggebrak meja. "Apa maksud semua ini? Halusinasi mu terlalu tinggi."
"Itu semua perjanjian Dad mu dengan Daddy ku." "Kita sudah di jodohkan dari kecil." "Kalau kamu gak percaya, kamu bisa tanyakan pada Mom Vero."
Max memang tidak semudah itu percaya pada ucapan Rani. Dijodohkan? Ini sungguh tidak masuk akal.
Rani mendekati Max. Dia baru pernah sedekat ini dengan Max selama bekerja menjadi sekretarisnya. Seperti yang semua orang tau, Max sangat sulit disentuh. Jadi, dia harus berpura-pura jadi sekretaris Max supaya bisa tetap dekat dengannya. Bahkan ketika jadi sekretarisnya pun Max masih jaga jarak.
"Max, aku sudah sabar begitu lama padamu. Jadi, kamu harus cepat ceraikan Leana." bisik Rani.
"Maxmillian Scotts!"
*
*
*
Leana tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Posisi Rani membelakangi pintu, sehingga Leana melihat Rani seperti sedang melakukan sesuatu dengan Max.
"Bee, kamu datang?" tanya Max gugup.
Rani menunduk dan mulai melakukan aktingnya yang masih berstatus jadi sekretaris Max. "Maaf, Nona jangan salah paham. Tadi saya hanya sedang bicara saja dengan Tuan Max."
Diam. Leana mengepalkan tangannya dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak meledak.
"Ya,, gak mungkin kalian melakukan sesuatu." "Aku percaya dengan suamiku." Leana menatap Max yang masih seperti orang bingung.
"Sayang, aku antar makan siang untuk kamu." Leana menunujukkan paper bag yang dia bawa ke depan Max.
"Ran, kamu keluar sekarang." usir Max.
__ADS_1
Rani menatap Leana dengan tidak suka. Mau tidak mau, Rani mengikuti perintah Max. 'Ya, selamat menikmati hari-hari terakhirmu dengan Max.' batinnya seraya berjalan keluar ruangan.
Max terduduk lemas. Dia bukan shock karena Leana memergokinya, tapi masih memikirkan Rani.
"Le, maaf. Itu gak seperti yang kamu bayangkan." jelas Max pada Leana.
"No problem, Max. Aku yakin wanita itu yang menggodamu. Aku harus lebih hati-hati lagi." Leana duduk di pangkuan Max. Marco benar. Leana harus menjadi istri yang baik dan selalu menyenangkan dia.
"Bee,, sudah berapa kali aku bilang kalau aku gak mungkin melirik wanita lain selain kamu."
"Iya, aku tau sayang." Leana mencium bibir Max singkat. "Sekarang, kamu makan dulu." "Mau aku suapi?"
Max tersenyum dan mengangguk dengan cepat. Mereka makan bersama dengan posisi Leana masih dalam pangkuan Max.
Leana sebenarnya tidak mau pergi dari ruangan Max karena takut dengan Rani, tapi karena Max banyak pekerjaan dan butuh konsentrasi, akhirnya Leana pulang ke rumah. Ya, Max tidak akan bisa berkonsentrasi jika istrinya ada di sekitarnya. Tadi saja Max hampir kebablasan.
*
*
*
Leana masuk ke dalam mobil Marco sambil menghela nafas panjang. Dia sudah ingin menangis saat ingat kejadian Max dan Rani tadi.
"Gimana??" tanya Marco penasaran. Dia melihat raut kesedihan di wajah Leana.
"Kamu benar Ko. Tadi Max dan Rani.." "Entahlah.." Leana sudah tidak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya.
"Ada satu cara lagi kalau kamu gak ingin Max tergoda Rani."
"Apa ko?"
__ADS_1
Marco berbisik di telinga Leana dan pipi wanita itu langsung bersemu merah.
"Semangat Le!" Marco menepuk pundak Leana, lalu mulai menjalankan mobilnya.