Love In Trauma

Love In Trauma
Mulai peduli


__ADS_3

Rumah Max


Leana makin takjub saja ketika sampai di ruang bawah tanah. Dia sudah pernah melihat shark aquarium. Tapi, ternyata Max tidak hanya memelihara ikan. Max juga memelihara binatang lainnya. Max punya kura-kura predator, juga punya burung elang dan burung hantu. Semua Max taruh di sebuah taman yang luas, tepatnya setelah shark aquarium.


"Tuan suka menghabiskan waktu di sini jika sedang stress."


"Apakah punggungnya terluka karena terkena binatang-binatang ini?" tanya Leana tiba-tiba yang teringat punggung Max yang penuh luka.


Gina terperangah. Bagaimana Leana bisa tau tentang punggung Max? Apa artinya mereka sudah? Gina senyum-senyum sendiri membayangkan pasangan suami istri yang baru menikah itu.


"Wah, saya tidak tau nona. Mungkin Tuan Max bertengkar dengan temannya." jawab Gina sambil menahan ekspresi wajahnya.


"Nona, sepertinya anda sudah mulai peduli dengan Tuan Max." ucap Gina sambil tersenyum kecil.


"Mana ada seperti itu. Aku hanya penasaran saja, seperti apa dia."


Leana berjalan lebih dulu melewat Gina. Dia cukup lelah setelah berjalan dari atas sampai bawah. Ternyata memang untuk jalan-jalan di rumah ini memang membutuhkan lift.


"Selain ini, di lantai 3 ada tempat untuk spa, ada tempat billiard dan bar." "Tapi, anda sebaiknya jangan pergi ke bar."


"Kenapa?"


"Yah, anda tau sendiri kelakuan orang di sini. Tuan Marco dan Max." Gina bergidik ngeri membayangkan suara pecahan botol atau teriakan Max yang bertengkar dengan Marco.


"Apakah mereka berdua orang yang menakutkan?" Leana makin penasaran dengan cerita Gina soal Marco dan Max. Perkenalan yang diucapkan Marco kemarin malam sungguh tidak jelas.


"Tuan Marco orang yang ceria. Dia juga mudah bersosialisasi. Tapi kalau dia sudah menginginkan sesuatu, dia harus mendapatkannya bagaimanapun caranya."


Leana teringat Jessi. Pantas saja Marco mengejar-ngejar Jessi meskipun mereka sudah putus.

__ADS_1


"Kalau yang satunya lagi, Bi?"


Gina mengalami dilema. Jika dia cerita tentang keadaan Max pada Leana, nanti Leana akan makin takut pada Max. Tapi, kalau tidak cerita, rasanya tidak adil bagi Leana. Dia harus tau semua tentang suaminya. Ini juga bisa melindungi Leana dari perubahan Mood yang sering Max alami.


"Anda sama sekali tidak tau tentang Tuan Max?" tanya Gina sekali lagi.


Leana menjawab dengan gelengan kepala. "Yang aku tau, dia itu jahat dan kejam." jawab Leana lirih. Max kejam karena dia tetap menodainya meskipun Leana sudah memohon. Dan Max juga jahat karena dia memutuskan secara sepihak untuk menikah tanpa sepengetahuannya.


"Nona,, sebenarnya Tuan Max tidak sekejam yang Anda kira... dia hanya.."


"Kalian di sini?" Marco tiba-tiba muncul sehingga mengganggu pembicaraan keduanya.


"Hai, Le. Aku mencarimu ke kamar Max." Sapa Marco sambil memandangi Leana yang masih menggunakan pakaian tidur.


"Kenapa mencari aku?" tanya Leana kikuk. Dia sungguh tidak terbiasa dengan duo bersaudara ini.


"Emm.. kita ngobrol di depan saja. Aku kurang suka di sini." Marco memegang pergelangan tangan Leana, tapi Leana segera memberontak.


"Sorry, Le.. aku lupa."


Mereka bertiga masuk dalam lift untuk pergi ke lantai 1. Marco membawa Leana ke tepi kolam, tepatnya pada kursi santai.


"Kamu lebih suka coklat panas atau teh chamomile atau kopi?" tanya Marco pada Leana yang langsung duduk di sana.


"Teh saja." jawab Leana singkat.


"Gin, bikinkan teh 2.. tidak pakai lama." Perintah Marco pada Gina.


Gina membungkuk, lalu segera pergi ke dapur.

__ADS_1


"Apa rumah ini bagus?" Marco mulai percakapan mereka dengan hal yang ringan.


"Ya, rumahnya bagaikan istana." Leana mendeskripsikan dengan cepat rumah Marco-Max.


"Ya, Mom sangat suka kemewahan." "Rumah kami di Inggris juga tidak kalah megah dengan yang ini." jelasnya dengan bangga. "Karena itu, Mom sangat ingin punya menantu yang sederajat dan juga yang menyukai hal yang sama."


"Lalu, apa hubungannya denganku?"


Marco memandang Leana dengan miris. Tadi dia dan Vero sudah menyelidiki latar belakang Leana. Ternyata Leana memang dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang chef hotel bintang 5 di Korea, tapi itupun sudah meninggal. Ibu Leana juga sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Leana hidup dengan Bibinya dan membuka usaha restoran di sini.


"Kamu harus mengerti selera Mom Vero."


"Aku masih belum paham."


"Maksudnya, kamu harus bisa menjadi wanita yang elegan dan menarik di mata Mom."


"Apa aku harus?" Leana menjadi semakin lemot setelah menghadapi banyak tekanan dalam hidupnya.


"Ya, tentu saja. Kamu bisa minta bantuanku."


Gina datang membawa teh untuk mereka. Dia tadi mendengar apa yang Marco ucapkan. Kenapa Marco tiba-tiba ingin membantu Leana? Apakah Gina harus memberitahu Max soal ini?


"Le, aku juga minta maaf. Peristiwa itu bisa terjadi karena keegoisan ku. Aku tidak menyangka kalau Max sebejat itu."


"Stop Marco. Aku tidak ingin bicara lagi." Leana menutup kedua telinganya karena dia teringat lagi kejadian di gudang saat Max menyentuh tubuhnya.


"Tuan, saya bawa Nona ke kamar saja." Gina mengambil alih pembicaraan. Dia memegang pundak Leana dengan lembut. "Nona, ayo kita kembali ke kamar. Nona perlu mandi supaya lebih segar dan tenang."


Gina melirik ke arah Marco yang begitu menyebalkan. Sudah pasti Marco juga sengaja untuk mengingatkan Leana soal kasus pemerkosaan Max.

__ADS_1


"Dah, adik ipar.. pikirkan apa yang tadi aku katakan soal Mom." Marco melambaikan tangan pada Leana yang sudah berlalu bersama Gina.


__ADS_2