Love In Trauma

Love In Trauma
Sudah sadar


__ADS_3

Max tidak juga melepaskan tangan Leana. Dia menunggu dengan cemas sambil memandangi alat EKG yang masih berbunyi dengan lemah. Leana mengalami pendarahan dan bayinya tidak bisa selamat. Sementara kondisinya saat ini masih kritis.


"Max, pulang dulu. Biar Leana aku yang jaga." ucap Marco yang sejak tadi berdiri di belakang Max.


"Aku gak akan tinggalin dia."


"Tapi kamu belum makan sejak kemarin, Max." sahut Vero.


Ya, Leana sudah koma selama 2 hari. Selama itu juga Max tidak mau beranjak dari samping Leana.


"Jangan ganggu aku. Kalian pergi saja." usir Max dengan kasar.


"Mom, memang sebaiknya kita pergi dulu." ajak Marco.


"Panggil Ericka. Dia bisa stress jika seperti ini terus." Vero tampak enggan untuk pergi meninggal kan Max. Dia takut Max akan menyusul Leana jika terjadi sesuatu padanya. Sejak kemarin Max tidak bergerak dari tempat itu. Dia bahkan tidur di samping Leana dengan posisi duduk.


"Mom,, Leana akan sadar.." Marco meyakinkan Vero. Dia juga terpaksa merangkul Mom nya untuk segera keluar.


Tinggal Max seorang diri dengan Leana. Max mencium tangan Leana sambil merapihkan rambut Leana.


"Bee,, bangun.." "Kita janji akan pergi makan setelah dari dokter." Max mulai bemonolog sendiri. "Bee.. aku gak bisa hidup tanpa kamu." "Jika terjadi sesuatu padamu, aku akan menyesal seumur hidup."


Leana menggerakkan tangannya tanda dia mendengar apa yang Max ucapkan. Meskipun Leana belum membuka matanya, tapi ini membuat Max jadi 50% lebih tenang.


"Bee,, aku mohon, jangan menyerah. Aku masih ingin menikmati banyak waktu sama kamu. Dan cuma kamu yang bisa bantu aku sembuhkan trauma ku juga." bisik Max lagi. Dia kali ini mendekatkan wajahnya, lalu mencium pipi Leana.


Alat EKG bergerak lebih cepat. Ini pasti karena sentuhan yang dilakukan oleh Max. Tapi, Max malah panik dan mengira itu bukan tanda yang baik. Dia menekan tombol untuk memanggil dokter.

__ADS_1


Satu dokter dan 2 perawat datang untuk mengecek Leana. Mereka bekerja dengan cepat dan dokter itu bisa tersenyum pada Max yang tampak panik.


"Tuan, istri anda sudah melewati masa kritisnya. Semua sudah stabil." ucap Dokter sembari melepaskan beberapa alat yang sudah tidak di perlukan lagi.


"Thanks, Dok." Max kembali duduk setelah dokter itu pergi. Dia hanya perlu menunggu Leana sadar.


*


*


*


Leana perlahan membuka matanya. Dia melihat Max sedang tertidur sambil memegangi tangannya. Tangis Leana langsung pecah.


Max yang mendengar isak tangis Leana, langsung terbangun. Dia begitu senang saat Leana sudah sadar.


"Max, Mark yang.."


"Ya, aku tau Bee." "Pria itu sudah kulempar ke penjara. Kamu gak perlu khawatir."


Leana memejamkan mata sambil mengangguk.


"Aku sangat benci dia." ucap Leana lagi. Siapa yang menyangka jika Mark yang melakukan itu. Sebelum putus, Mark memang sudah berulang kali ingin mencuri cium dari Leana, tapi Leana selalu menolak dan sadar tepat waktu. Mark pasti dendam pada Leana yang jual mahal. Dan alasan mereka putus pun masih berhubungan dengan **** pranikah yang sekarang dipandang wajar bagi orang-orang pacaran.


"Bee, yang penting sekarang kamu sudah sadar."


"Max, bayinya?" Leana menengok ke arah perutnya yang sudah kempis. "Mana anakku, Max?"

__ADS_1


"Maaf Bee, anak kita gak bisa diselamatkan." kata Max dengan penuh penyesalan.


"Enggak Max...kamu bohong.." Leana mulai kembali histeris setelah menyadari anaknya meninggal.


"Bee..."


"Aku mau anakku. Mana dia Max? Kamu jangan sembunyikan dia." teriak Leana.


Max berdiri untuk memeluk Leana yang memberontak. Dia takut jahitan dan infusnya akan terlepas.


"Tenang Le.. aku juga sedih.."


"Maaaax.. kenapa kamu gak selamatkan dia saja? Biar aku yang mati, Max." ucap Leana dalam isaknya.


Tangisan pilu Leana membuat Max ikut merasakan sakit dalam dadanya. Dia pun sangat menyesal, tapi Leana juga tidak tau fakta tentang kehamilannya yang sedikit bermasalah.


Lama Max memeluk Leana sampai wanita itu capek menangis. Max tau ini adalah suatu pukulan untuk Leana. Tapi, Max pikir ini jauh lebih baik. Leana sudah tau siapa pelakunya dan dia tidak perlu tau jika anaknya memang kemungkinan tidak akan selamat meskipun kejadian ini tidak terjadi.


"Aku akan tetap sayang kamu, Bee." Max menatap Leana yang masih tampak shock.


"Max..apa aku bisa bertahan setelah ini?"


"Ya. Aku sangat membutuhkanmu, Le."


Leana memejamkan matanya untuk mencoba menata kepingan hatinya yang hancur remuk. Dia sangat sedih kehilangan anak yang sudah mulai dia cintai.


"Aku akan selalu di sini sama kamu, Bee. Kamu jangan khawatir." Max membelai rambut Leana. Sementara itu, Leana hanya mampu membenamkan wajahnya dalam dada bidang Max yang dapat membuatnya jauh lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2