
"Maaarcoooo." suara Max menggelegar ke seluruh ruangan. Vero yang sedang menelepon langsung mematikan ponselnya karena dia tau sebentar lagi akan ada singa marah.
"Max, kenapa teriak-teriak?"
"Mana anak kesayangan Mom itu." ucap Max dengan nada tinggi.
"Sabar Max. Mom gak tau di mana Marco." "Kenapa kamu marah seperti ini sih? Pasti gara-gara wanita penyakitan itu." tuduh Vero tanpa basa basi.
Max menatap tajam ke arah ibunya. Dia tau Vero tidak suka dengan Leana karena Lea bukan wanita yang sederajat dengan mereka.
"Mom, sekali lagi bilang Leana penyakitan, Mom lebih baik gak usah di rumah ini, atau aku dan Leana yang akan pindah." ucap Max dengan emosi yang meluap.
Vero diam dan tidak bicara lagi. Anaknya itu sangat keras dan tidak bisa di bantah. Jika Vero menjawab Max sekali lagi, dia yakin Max langsung membawa kopernya keluar.
"Apa kamu cari aku, Max?" Marco yang baru saja pulang langsung menemui Vero dan Max yang sepertinya sedang dalam suasana tegang.
"Ikut aku ke bar." Max berjalan lebih dulu ke arah lift.
"Kamu ngapain lagi? Jangan macam-macam dengan Max. Dia bisa usir kita sewaktu-waktu." Vero menarik Marco dan berbisik padanya.
"Aku ngapain? Aku tadi cuma ke mall dan makan. Apa aku salah?"
"Ya udah sana.. Cepat temui Max. Jangan pukul-pukulan lagi. Nanti wajah kalian rusak. Mom ga mau anak-anak Mom jadi jelek."
__ADS_1
"Astaga, Mom. Pikiran Mom itu sungguh antimainstream sekali." Marco melepaskan tangan Vero, lalu berjalan menyusul Max ke lantai teratas rumah mereka.
"Haduh,, sulit sekali membesarkan 2 anak laki-laki. Kerjaan mereka hanya berantem saja." Vero mengusap dadanya dengan sabar sambil memandangi Marco yang sudah menghilang masuk ke dalam lift. "Lagian, wanita itu selalu saja membuat ulah. Semoga Marco mendapatkan istri yang lebih baik dari Leana."
*
*
*
Max duduk menatap ke arah pintu masuk bar. Tak lama, Marco datang dengan wajah tanpa dosa. Marco mengambil posisi untuk duduk di depan Max.
"Ada apa Max?"
"Apa rencanamu kali ini?" tanya Max yang langsung menginterogasi Marco. Dia sangat mengenal sosok Marco. Dari tingkahnya, Max tau Marco sedang berusaha mendekati Leana.
"Jangan pura-pura. Apa yang tadi kamu bicarakan dengan Lea di mall?" Max berusaha mengontrol emosinya walaupun dia sudah sangat ingin menghajar Marco.
Marco tersenyum kecil. "Wah, kamu awasi dia dengan ketat." "Aku hanya makan di bawah. Leana tanya kenapa kamu bekerja sangat keras, sedangkan aku hanya main-main aja." "Apa dia bilang sesuatu sama kamu?" giliran Marco yang bertanya pada Max.
"Dia kembali ingat traumanya."
Tawa Marco meledak.Dia menepuk pundak Max untuk menenangkan adiknya itu. "Kamu salah orang, Max." "Kalau Leana kumat, kamu seharusnya tanya pada Ericka, bukan sama aku."
__ADS_1
Max masih diam dan memikirkan semua perkataan Marco. Dia juga meneliti pria itu dengan seksama. Apakah Marco memang hanya makan saja bersama dengan Lea?
"Tapi, kenapa kamu terus mengikuti Leana?"
"Ya aku mengikuti dia." aku Marco. "Tapi aku ingin bertanya tentang Jessica saja." Marco beranjak dan berjalan menuju rak minuman. Dia mengambil salah satu wine favoritnya.
"Jangan macam-macam pada Leana, Ko. Atau kamu akan tau akibatnya." ancam Max. Dia berbalik untuk melihat apa yang Marco lakukan. Pria itu dengan santainya memutar gelas wine sambil mencium aromanya.
"Max, apa aku segila itu untuk merebut istri adikku sendiri?"
"Ya, kamu selalu merebut apa yang aku inginkan." ucap Max dengan nada datar, tapi sangat sinis.
"Max,, itu dulu. Sekarang sudah taun 2023. Jangan diingat-ingat lagi." Tapi, kalau kamu bantu aku dapatkan Jessi, aku akan berhenti mengganggu Leana." Marco menenguk wine di gelas dengan cepat seperti minum air putih.
"No.Aku gak akan mengulangi kesalahan yang sama. Berhenti lah terobsesi akan suatu hal."
Max mengambil botol wine di tangan Marco, lalu meminumnya langsung dari botolnya. Dia bisa berakhir dengan Leana pun karena Marco yang merengek untuk membantu membawa Jessica kabur. Begitulah Marco. Karena terlalu khawatir pada Marco, tanpa sadar Max sudah menghabiskan setengah botol sendiri.
"Jangan terlalu banyak minum, Max. Ericka bisa ngomel." Marco merebut botol Max dengan sedikit paksaan. Meskipun sering bertengkar dan tidak akur, tapi Marco selalu mengingatkan Max tentang batasannya.
"Kamu cerewet sekali."
"Ya, kalau kamu mati, aku yang repot gantikan kerjaanmu." jawab Marco asal.
__ADS_1
Mereka berdua duduk diam tanpa mengatakan apapun lagi.
Mereka berdua tidak sadar jika seseorang sedang mengamati dari celah pintu bar yang sedikit terbuka. Ya, Vero mengikuti Max dan Marco karena dia penasaran dengan apa yang membuat Max marah. Hubungan kedua anaknya memang sangat unik. Mereka bisa bertengkar sampai pukul-pukulan atau seperti sekarang, mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing karena tidak menemukan solusi. Dan tebakan Vero tadi benar. Max membicarakan tentang Leana. Dia mengingat lagi apakah benar yang Max katakan jika Marco mengikuti Leana. Kepala Vero tiba-tiba berdenyut memikirkan anak pertamanya itu. Selama ini Marco memang kerap dekat dengan Leana. Dia bicara dengan Lea di kolam renang, lalu Marco ke kamar Max, dan bahkan pergi ke mall saat Lea juga berada di situ. Ini bukan tanda yang bagus.