
Leana terbangun dengan badan yang remuk redam. Semalaman mereka lembur dan itu membuat Leana kelelahan. Max membuat Leana sembuh dari traumanya, karena Leana tidak ketakutan saat mereka making love. Leana juga menikmatinya sehingga mereka lupa waktu.
Perlahan, Leana menyingkirkan tangan Max yang masih berada di pinggangnya. Max tampak tidur sangat nyenyak , jadi Leana sengaja tidak ingin membangunkan suaminya itu.
Leana sudah menjadi seorang keluarga Scotts, jadi dia harus mengikuti aturan yang ada di sini, khususnya perkataan dari mertuanya. Ya, Leana bertekad akan membuat pandangan Vero padanya bisa berubah. Jadi, Leana akan turun ke bawah dan menemui Vero untuk bicara padanya.
Tapi, baru satu langkah berjalan, Leana berteriak kesakitan. Max yang mendengar suara istrinya langsung terbangun. Dia sangat peka dengan suara Leana.
"Bee, mau kemana?" tanya Max yang kini sudah berada di samping Leana.
"Mau mandi. Tapi, ini sakit." kata Leana sambil menggigit bibir bawahnya.
"Astaga Bee.. kenapa gak bangunkan aku?" Max menggendong Leana tanpa banyak bicara lagi. Dia tau pasti Leana pasti akan sakit, mengingat dia baru saja mulai making love yang sesungguhnya di luar peristiwa buruk itu.
Sembari menyiapkan air, Max mendudukan Leana di pinggir wastafel, tempat kemarin mereka berciuman. Leana memperhatikan punggung pria nya yang penuh dengan bekas luka. Pertanyaan semalam terbesit lagi. Pertanyaan yang tidak sempat dia tanyakan karena terlalu asyik melakukan olahraga malam.
"Airnya siap. Silahkan tuan putri." Max kembali menggendong Leana untuk menaruhnya di dalam bath tub.
Leana yang memang masih ingin bertanya pada Max, menahan tangan pria yang hendak pergi itu.
"Max, boleh aku menggosok punggungmu?" ucap Leana malu-malu.
"Tentu saja. Tubuh ini milikmu, jadi kamu boleh lakukan apapun." canda Max sembari masuk ke dalam bathtub juga. Dia malah senang karena Leana yang berinisiatif lebih dulu. Max rasa Leana sudah tidak lagi malu-malu.
Leana mengambil shower puff dan mulai menggosok dengan hati-hati.
"Max..apakah ini sakit?"
"Apanya?"
"Luka-lukanya."
Max diam sebentar. "Ya, masih sakit." jawabnya dengan penuh arti.
"Apa kamu bermain dengan harimau sampai seluruh punggungmu lecet seperti ini?" tanya Leana lagi. Max punya beberapa binatang peliharaan ekstrem di ruang bawah tanah yang beberapa waktu lalu Leana lihat. Tapi, sepertinya Leana tidak melihat harimau.
"Ya, kamu benar."
__ADS_1
"Serius?" Leana cukup terkejut mendengar jawaban Max. "Tapi, mana harimaunya?"
"Sudah meninggal."
"Ooh.. syukurlah." "Jangan main dengan binatang buas lagi, Max."
"Meskipun kamu sayang binatang itu?"
"Yaa,, kamu harusnya liat aja dari kejauhan dan jangan dekat-dekat."
"Oke, aku gak akan main lagi dengan binatang buas, karena aku mainnya sama kamu."
"Max,,,, kamu bisa bercanda juga." Leana mencubit pelan pinggang Max.
"Cuma sama kamu, Bee." Max berbalik untuk menatap Leana. "Jangan pernah tinggalin aku, Bee."
"Harusnya aku yang bilang itu, sayang." Leana memegang pipi Max. Suaminya sangat tampan dan berwibawa, jadi bukan tidak mungkin jika banyak wanita yang menyukai Max.
"Sepertinya aku gak butuh Ericka lagi." Max memegang bibir Leana yang begitu manis. Itu adalah obat yang mujarab dan Max mungkin bisa melakukan terapi dengan Leana saja.
"Max, kamu harus kerja." ingat Leana.
"No, nanti Mom akan marah kalau kamu gak kerja."
"Biar saja. Kenapa kamu begitu takut sama Mom?" tanya Max penasaran.
"Mom gak suka sama aku. Jadi, seperti kata Marco, aku harus menjadi menantu yang diinginkan Mom."
Mendengar Leana membicarakan Marco dan Vero, mood Max langsung rusak.
Leana yang menyadari perubahan sikap Max jadi merasa bersalah. Sepertinya hubungan mereka bertiga memang tidak baik-baik saja dan terasa asing. Mereka seperti orang asing yang tinggal bersama.
"Sayang.. gak perlu khawatir.." "Kamu kerja saja." Leana menatap Max dan menciumnya lebih dulu.
*
*
__ADS_1
*
Max dan Leana keluar dari kamar bersama-sama. Max berjalan selangkah di belakang Leana untuk mengawasi istrinya yang tidak mau di gendong. Padahal mereka tadi mengulangi lagi kegiatan making love setelah mandi.
"Pagi Mom, Marco." sapa Leana dengan ramah.
Vero tidak menjawab, malah sibuk memainkan ponselnya. Sedangkan Marco hanya tersenyum tipis, lalu kembali makan dengan santai.
"Kamu kenapa Max? Apa kamu sakit?" tanya Vero yang kini memperhatikan pakaian Max.
Max menggunakan sweeater lengan panjang yang menutupi sampai leher.
"Untuk menutupi luka." jawab Max jujur.
'Uhuk' Leana langsung terbatuk mendengar Max yang terlampau jujur.
Ya, semalam Leana mencakar Max, dan juga ada bekas merah pada leher Max.
"Pelan-pelan Bee." Max mengusap punggung Leana dengan lembut.
"Oh iya, hari ini Mom akan kumpul bersama dengan teman Mom di Hotel Emerald. Mom akan bawa Gina." ucap Vero yang tidak mempedulikan Leana yang masih terbatuk.
"Mom, boleh Lea saja yang ikut?"
"Bee.." "Leana!" Max dan Marco berteriak bersamaan. Gina saja malas mengikuti Vero, tapi Leana malah menawarkan dirinya untuk jadi tumbal?
"Kamu gak boleh pergi, Bee.. ingat itu.." Max memberi kode ke arah perut Leana. Tapi, maksudnya pada luka Leana yang belum sembuh.
"Ya, kenapa kamu gak pergi aja ke restoran?" imbuh Marco.
"Max, aku ingin lebih dekat dengan Mom, apa gak boleh?" ucap Leana to the point.
"Le, kenapa kamu mau pergi sama Mom?" bisik Marco yang duduk di sebelah Leana.
"Katamu aku harus jadi menantu yang disukai Mom?"
"Tapi, gak perlu seperti ini."
__ADS_1
"Okey, Mom akan pergi dengan Leana." kata Vero dengan nyaring.
Itu membuat Marco dan Max menengok bersamaan ke arah Vero.