Love In Trauma

Love In Trauma
Selamat Tuan Max


__ADS_3

Max memarkirkan mobil sembarangan. Dia langsung pergi ke dalam sambil berlari terburu-buru. Tapi langkah Max terhenti ketika melihat Leana sedang tertidur di meja makan.


"Tuan, nona menunggu anda pulang." lapor Gina yang berdiri di samping Leana.


"Mom yang suruh?" tebak Max.


Gina mengangguk pelan. "Nona sedang tidak enak badan, jadi mungkin dia ketiduran di situ."


Max mengusap wajahnya dengan kasar. Veronica benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya dia menyuruh Leana yang sedang sakit menunggu Max pulang.


Jika Leana sudah tidak trauma dengannya, Max akan segera membawa Leana pergi dari rumah ini.


Max menggulung lengan kemejanya. Dia bersiap untuk menggendong Leana. Tapi, Max berhenti sebentar untuk memperhatikan wanita itu. Wajah Lea tampak pucat seperti orang hipotermia. Max memang perlu mengecek kondisi Leana.


"Gin, apa kamu bisa ikut ke dokter?" ucap Max tanpa mengalihkan pandangan pada Leana.


"Bisa Tuan. Saya akan menyuruh sopir menyiapkan mobil." Gina segera tanggap dan secepat kilat dia berjalan ke depan.


Max dengan hati-hati menggendong Leana. Dia tidak ingin Leana bangun dan akhirnya dia harus berteriak atau ketakutan karena Max menyentuhnya.


'Sabar Max, kamu harus mengendalikan dirimu.' batinnya dalam hati. Keringat dingin mengucur deras dari dahi Max.


Gina sudah menunggu di depan dengan salah satu mobil Max yang cukup luas. Max-Leana duduk di belakang, sedangkan Gina menemani sopir di depan. Max menidurkan Leana di pahanya.


"Tisunya Tuan." Gina dengan perhatian memberikan satu kotak tisu pada Max yang tampak gugup.


Max menerima tisu dari Gina, tapi dia gunakan untuk mengusap Leana yang juga berkeringat. Karena sentuhan dari Max, Leana sedikit bereaksi. Dia menggeliat.


"Bi, apakah ada gempa?" igaunya.


Max diam saja. Dia masih mengelap keringat Leana perlahan.


"Tuan, maksud saya, tisunya untuk Tuan juga." sela Gina.


"Gin, apakah dia mungkin bisa hamil?"


Sopir Max mengerem mendadak karena terkejut dengan ucapan Max. Untung saja Max sigap dengan memeluk Leana supaya kepalanya tidak terbentur.

__ADS_1


"Maaf Tuan. Maaf. Saya gak sengaja." ucap Sopir Max ketakutan.


Gina paham kenapa pria tua di sebelahnya berbuat itu. Dia pasti kaget dengan pertanyaan konyol dari majikannya. Mereka berdua adalah pasangan suami istri. Meskipun baru menikah beberapa hari, tapi pertanyaan Max terdengar sangat lucu.


"Tuan, kita cek saja di dokter." jawab Gina dengan bijaksana. Padahal dalam hati Gina sudah ingin berteriak untuk mengomel pada Max.


Max kembali diam. Dia menjadi tegang karena Leana kini tidur menghadap ke arahnya. Dia berharap semoga mereka bisa sampai rumah sakit dan segera memeriksa hasilnya.


*


*


*


Setelah perjalanan panjang 1 jam, mereka sampai juga di rumah sakit. Max memarahi sopirnya supaya dia tidak membawa mobil terlalu cepat karena Max takut Leana terbangun.


"Apa kamu sudah buat jadwal dengan dokternya?" tanya Max pada Gina yang langsung turun dan membantunya.


"Tuan masuk saja. Saya sudah booking dokternya."


"Bagus." Max kembali menggendong Leana ke dalam.


Max sampai di tempat Dokter Mega. Dia masuk tanpa memberi salam, dan langsung menidurkan Leana di ranjang yang ada di situ.


Dokter Mega sudah mulai biasa menghadapi orang konglomerat dengan tingkahnya yang aneh-aneh. Dia dengan tenang mempersilahkan Max dan lainnya duduk.


"Jadi, apakah anda ingin memeriksa kehamilan dari nyonya ini?" tanya Dokter Mega basa-basi. "Apakah anda sudah melakukan test pack?"


"Belum, Dok. Tapi, nona ini mengalami gejala seperti orang hamil." jawab Gina mewakili Max. "Dia mual ketika mencium bau parfum suaminya. Dia juga pusing dan lemas." lanjutnya lagi.


Dokter Mega mengangguk. Dia mengambil stetoskopnya untuk mengecek denyut nadi Leana.


"Sudah telat berapa minggu?"


Gina menoleh pada Max yang duduk diam dengan wajah pucat.


Max hanya mengangkat bahu tanda dia tidak tau. Apa yang Max ketahui tentang Leana? Dia saja baru bertemu dengan Leana 1x dan langsung meminta menikah pada pertemuan kedua mereka.

__ADS_1


"Dok, kami harus bertanya pada nona dulu." jawab Gina lagi. "Dia tidur sejak tadi."


Dokter Mega mengerutkan keningnya. Setelah pemeriksaan, dia memang menemukan ciri-ciri orang hamil, tapi mereka belum mengecek dengan test pack.


"Apakah kalian bisa memeriksanya dengan test pack dan baru membawanya ke sini?" tanya Dokter Mega akhirnya.


"Selesaikan sekarang." ucap Max tiba-tiba. Dia tidak mau menahan ini lebih lama lagi. Jika Leana memang hamil, dia harus mempersiapkan mentalnya. Tapi jika tidak, Max akan sedikit lega dalam melanjutkan hari-hari ke depan.


"Tapi.."


"Saya bayar 5x lipat asal saya mendapat jawaban sekarang." paksa Max.


Hening. Ketiga orang di ruangan itu sama sekali tidak dapat bersuara. Siapa yang dapat melawan Max?


"Oke, kita tunggu sampai Nyonya Scotts bangun." Dokter Mega kembali ke tempat duduknya. Dia tidak banyak bicara lagi dan langsung sibuk mengurusi data.


Max juga duduk dengan tenang sambil menatap ke arah Leana.


*


*


*


Setelah 6 jam menunggu, akhirnya Leana bangun. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Semalam dia menunggu Max pulang, tapi kenapa sekarang dia berakhir di ruangan dengan bau rumah sakit? Dan Leana melihat ada mesin USG di sampingnya.


"Nyonya Scotts.. anda sudah bangun?" Dokter Mega membantu Leana untuk bisa duduk.


"Kenapa saya di sini?" tanya Leana bingung. Dia melihat Max, Gina dan sopir mereka duduk berjejer di sofa. Mereka juga memandangi Leana dari tempatnya. Ya, Gina sudah menceritakan latar belakang Leana pada Dokter Mega, jadi Dokter itu meminta mereka untuk duduk diam saja dan tidak banyak bicara.


"Silahkan ikut saya ke kamar mandi." Dokter Mega membimbing Leana untuk pergi ke dalam kamar mandi.


Max menunggu dengan cemas. Tidak ada yang cukup menakutkan untuk Max dalam hidupnya. Tapi kali ini Max mengakui jika dia sangat takut. Tentu saja dia takut menjalani kehidupan ini dengan Leana jika dia hamil.


Beberapa menit kemudian, mereka keluar. Leana sudah berlinang air mata, sedangkan Dokter Mega memegang lengan Leana supaya wanita itu tidak jatuh.


"Selamat Tuan Max, Nyonya Leana hamil."

__ADS_1


Sebuah batu besar menimpa kepala Max. Dia menatap Leana dengan pandangan kosong. Di detik berikutnya ketika sadar, Max malah pergi meninggalkan ruangan tanpa penjelasan apapun.


__ADS_2