Love In Trauma

Love In Trauma
Rencana


__ADS_3

Max membuka matanya setelah merasakan ada yang hilang. Benar saja. Leana tidak ada di ranjang. Max berjalan ke kamar mandi dengan setengah sadar untuk mencari Leana, tapi ternyata Leana tidak ada di situ.


"Ke mana wanita itu?" ucap Max pada dirinya sendiri. Dia lalu berinisiatif menelepon Gina untuk menanyakan keberadaan Leana.


"Nona ada di bawah, Tuan. Dia sedang memasak sarapan." lapor Gina.


Tanpa buang waktu, Max segera turun ke bawah.


Di bawah, tampak Leana sedang menata piring-piring di meja makan. Leana segera menyadari kehadiran suaminya yang berdiri 50 meter darinya.


"Morning sayang.." Leana meninggalkan pekerjaannya untuk menyapa Max. Dia tidak lupa memberi kecupan singkat di pipinya.


Gina yang menyaksikan keromantisan mereka hanya senyum-senyum sendiri. Setelah keguguran, Max dan Leana justru semakin dekat. Gina sempat berpikir jika kejadian Itu pasti akan membuat Leana sedih, tapi sebaliknya mereka justru seperti pengantin baru yang sangat mesra. Itu sungguh membuat Gina senang.


"Kamu ngapain masak sendiri, Bee?" omel Max.


"Max, aku sudah lama gak pergi ke dapur. Aku kangen masak."


"Memang susah punya istri koki." Max mengalah dan dia memilih duduk di kursinya. Leana juga melanjutkan untuk menata apa yang dibawa Gina dari dapur.


Hari ini Leana memasak makanan kesukaan Vero, bubur ayam. Leana mendapatkan informasi soal Vero dari Gina. Jadi, Leana menyiapkan sarapan hari ini khusus untuk ibu mertuanya.


Leana menyiapkan dengan cepat. Semua harus beres sebelum Vero dan Marco turun.


Tepat saat semua beres, Vero muncul sudah dengan pakaian rapi.


"Pagi Mom." sapa Leana ramah.

__ADS_1


Vero berhenti melangkag dan dia memandang semua yang sudah terhidang di meja makan.


Leana yakin Vero tidak akan marah lagi dan bilang kalau dirinya penyakitan lah , malas tidak bisa bangun pagi lah, atau tidak pantas jadi bagian keluarga Scotts. Semua kemauan Vero sudah Leana lakukan.


"Mom akan langsung pergi dan gak akan sarapan." "Kalian makan saja."


Vero melewati begitu saja Leana yang masih terbengong. Leana terduduk lemas di kursinya. Dia sudah lelah membuat semua ini, tapi tampaknya Vero memang tidak menyukai Leana.


"Mom mau ke mana?" tanya Max pada Marco yang sudah duduk di tempatnya juga.


"Katanya mau sarapan dengan Rani."


"Max.." ucap Leana sedih. Lagi-lagi Rani.


Max juga terkejut dengan pengakuan Marco. Kenapa Mom jadi sedekat ini dengan Rani? Biasanya dia tidak pernah dekat dengan orang-orang yang bukan sekelas dengan dia.


"Gak apa-apa Le. Marco akan habiskan semuanya." Max mengusap rambut Leana.


Marco hendak protes, tapi setelah melihat mata elang Max, dia langsung menciut. Ini masih pagi dan Marco tidak mau merusak suasana yang memang sudah rusak ini.


Max sudah berangkat menyisakan Marco dan Leana saja. Leana masih duduk diam di meja makan yang sudah dibereskan oleh Gina. Marco juga belum beranjak karena dia sibuk untuk main games online.


"Ko, kamu tau sesuatu tentang Rani?" Leana memecah keheningan diantara mereka.


"Rani itu sekretaris Max." jawab Marco tanpa menengok.


"Maksudnya dia itu sangat dekat dengan Mom. Apa mereka punya hubungan spesial?"

__ADS_1


"No. Mungkin dia ingin bicarakan bisnis dengan Mom. Atau mungkin mau curhat soal Max." Marco berhenti bermain karena tampaknya pembahasan Leana ini serius. "Rani mungkin gak betah dengan Max."


"Justru kebalikannya, Ko. Aku merasa Rani sedang merayu Max." ungkap Leana dengan resah.


Marco memutar bola matanya seraya berpikir. Dia mengambil kesimpulan jika memang benar apa yang dikatakan Leana. Akhir-akhir ini Rani dekat dengan Vero. Pasti mereka sedang merencanakan sesuatu. Kenapa Vero tidak melibatkannya? Dulu, meskipun di Inggris, Vero selalu menceritakan apapun pada Marco.


"Ya sudah. Jadi apa rencanamu?" tanya Marco pada Leana.


"Rencana apa?"


"Wah.. aku lupa. Kamu gak punya darah seorang Scotts." "Maksudku, jika memang betul Rani mendekati Max, maka kamu harus lakukan sesuatu." Marco memperjelas ucapannya.


"Apa?"


"Kamu seorang istri. Jadi kamu harus memuaskan dia." "Hahahaha.." kata Marco dengan gamblang.


"Ish, pikiranmu memang kotor."


"Lho, benar kan?" "Awasi Max. Coba kamu antar makan siang ke kantornya."


"Ide yang bagus. Aku akan ke restoran dulu."


"Apa mau aku antar? Aku ingin ketemu Bibi."


Leana berpikir sejenak, lalu dia mengangguk. Bibi juga tampaknya cocok dengan Marco. Mereka bisa mengobrol lama sekali jika bertemu. Kemarin Bibi Marie juga menanyakan kabar Marco.


"Buburnya enak.. Makasi ya.." puji Marco.

__ADS_1


"Sama-sama." "Cuma kamu yang bilang terima kasih." ucap Leana sedih. Bukan cuma Vero yang mengabaikannya, Max juga buru-buru pergi, setelah sarapan. "Sudahlah. Aku ke atas dulu untuk siap-siap."


"Oke adik ipar. Berdandanlah yang cantik." Marco melambaikan tangan pada Leana meskipun wanita itu tidak melihatnya.


__ADS_2