Love In Trauma

Love In Trauma
Bukan aku yang melakukannya


__ADS_3

Setelah kejadian itu, hubungan Max dan Leana justru semakin membaik. Leana di larang untuk keluar dari kamar bahkan hanya untuk sekedar makan. Semua yang diinginkan Leana diantar ke kamar Max oleh Gina.


Max beralasan Leana harus bedrest supaya kandungannya kuat. Padahal Max takut jika Marco memang orang yang telah menyentuh Leana. Sedangkan Leana juga tidak protes karena dia tidak mau bertemu Marco yang kemungkinan berada di gudang itu. Dia hanya sedih karena tidak bisa bereksperimen di dapur.


"Sayang, sudah mau berangkat?" Leana melihat Max yang sudah berpakaian rapi sedang bercermin membenarkan dasinya.


"Ya, aku pulang malam hari ini. Tidur saja dulu, gak usah tunggu aku pulang." Max memandang Leana dari cermin.


Leana berdiri untuk mengantarkan suaminya. Usia kandungan Lea sudah memasuki 6 bulan. Perut Lea juga sudah semakin terlihat buncit. Jadi, wanita itu berjalan sedikit lambat dan hati-hati.


"Sayang, aku belum USG. Apa boleh aku pergi ke rumah sakit?"


"Bee,, tunggu jadwal liburku. Aku yang akan antar kamu ke rumah sakit." Max memegang pipi Leana yang sudah mulai makin berisi. Max semakin gemas dengan Leana. Meskipun terkadang Leana masih trauma ketika bemesraan dengan Max, tapi Max dapat memaklumi itu.


"Kamu bilang itu dari seminggu yang lalu." keluh Leana. Suaminya sangat sibuk melebihi jadwal aktor Korea.


"Maaf Bee..aku sendirian mengurus mall." sesal Max. Dia juga lelah menghadapi hari-hari dengan pekerjaan yang menumpuk. Untung saja penyakit Max sudah tidak kambuh lagi belakangan ini. Moodnya bisa stabil dan Max sudah lepas dari obat. Hanya saja jika dengar suara petir, Max masih kerap ketakutan.


"Iya, Oke oke." "Suamiku memang sangat rajin dan pekerja keras." hibur Leana.


"Semoga anak ini laki-laki, jadi bisa bantu Daddy nya." Max mengelus perut Leana. Dia sudah tidak canggung lagi karena setiap malam Leana baru bisa tidur saat perutnya di usap oleh Max. "Bye Bee." Max mencium bibir Leana singkat, lalu tidak lupa juga mencium baby nya.


Selepaa Max pergi, Leana kembali untuk tiduran di ranjang. Dia menyalakan TV, tapi tidak ada acara yang bagus. Dia lalu beralih pada ponselnya untuk bermain game. Tapi belum ada satu menit bermain, ponsel Leana berdering.

__ADS_1


Marco calling..


Leana mereject telepon Marco dengan cepat. Dia tidak ingin melihat bahkan bicara dengan pria itu.


Sudah beberapa bulan ini Marco menelepon Leana. Dan setiap Leana memblokir nomernya, Marco akan menelepon dengan ponsel yang lain. Karena bosan dan takut, akhirnya Leana membiarkan saja Marco melakukan sesukanya.


Le, kenapa kalian menghindar seperti ini?


Marco mengirimi Leana pesan.


Marco dan Vero tidak akan pernah mengganggu Leana lagi di kamar karena Max sudah menyiapkan 2 bodyguard untuk berjaga di depan. Meskipun ini tampak seperti penjara, tapi ini yang terbaik untuk Leana. Dia harus berfokus pada kehamilannya dan tidak boleh stress. Satu-satunya cara menemukan siapa yang telah menyentuh Leana dengan tes DNA setelah anak itu lahir. Jadi, Max dan Leana sudah sepakat untuk tidak berhubungan badan sebelum menemukan pelaku yang sebenarnya.


Le, aku sudah bilang ratusan kali jika aku ga melakukan itu.


*


*


*


"Max, kamu memang gila. Bisa-bisanya kamu mengurung istrimu di kamar." Vero menyeruak masuk ke dalam ruangan putranya tanpa ijin. Ya, dia menerobos masuk ke dalam dengan mengambil paksa akses card Rani.


Max memutar kursinya dengan santai. Dia sudah biasa menghadapi teriakan ibunya itu. Dan menurut Max ini sangat aneh. Vero tidak peduli pada Leana. Tapi, dia tiba-tiba datang dan melayangkan protes. Sungguh tidak masuk akal.

__ADS_1


"Apa Mom mau suruh Leana masak?" sindir Max. "Dia istriku, Mom bukan tukang masak di rumah."


"Siapa yang mau suruh dia masak?" "Mom cuma kasihan pada dia." Vero mengelak.


'Kalau saja Marco gak janji belikan aku berlian, aku gak akan menemui anak kurang ajar ini.' batin Vero dalam hati. Tapi, jauh di dalam sana, Vero ingin melihat cucunya yang entah anak Marco atau bukan. Tentu saja, setelah didesak, akhirnya Vero tau perselisihan antara Max dan Marco. Dan meski Marco bilang kalau bukan dia yang melakukannya, tapi Vero tidak percaya.


"Mom tolong sekali ini saja, Max ingin Mom bela Max bukan Marco." ucap Max dengan penuh penekanan.


"Max.. tapi biarkan Marco jelaskan semua."


"No. Max akan percaya dengan tes DNA."


"Max, kamu keras kepala seperti Dad."


"Ya, aku tentu saja mirip dengannya. Dia yang mendidik ku untuk jadi seperti ini."


"Lalu, gimana jika anak yang dikandung Leana itu memang anak Marco? Apa kamu akan bercerai dengan Leana?" tanya Vero penasaran. Jika anak itu memang milik Marco, seharusnya Marco yang menikah dengan Leana.


"Max akan masukkan dia ke penjara dan pastikan hukumannya berat." jawabnya dengan tegas. Lagipula, terlepas itu anak Marco atau bukan, Max sudah mencintai Leana. Dia tidak mau kehilangan wanita malang itu.


"Maxmillian Scotts.. kamu memang benar-benar membuat Mom darah tinggi."


"Mom, silahkan keluar dan belanja saja. Tempat Mom bukan di sini." Max mengusir ibunya secara halus.

__ADS_1


__ADS_2