
Hari berganti hari dan bulan berganti bulan. Max dan Leana sudah sangat jauh. Leana sering pergi ke restoran, sedangkan Max sibuk di kantor. Leana semakin hari semakin curiga dengan Max. Tapi dia tidak bisa berbuat apapun. Leana hanya bisa meluapkan rasa kekhawatirannya dengan makan. Entah kenapa belakangan ini nafsu makan Leana semakin besar. Jika pergi sendirian ke mall, Leana akan mencicipi segala macam makanan yang ada di sana. Awalnya Leana cuek saja, tapi ketika menimbang badan pagi ini, Leana sangat shock dan hampir pingsan. Leana naik 5 kg. Pantas saja ada beberapa baju yang sudah sesak dan tidak bisa dia pakai.
Leana menatap dirinya di cermin dalam posisi miring. Lagi-lagi Leana kaget. Dia baru sadar jika perutnya sedikit membuncit.
Tanpa menunggu lagi, Leana mengambil alat test pack yang dia simpan di laci. Dia sengaja membeli banyak untuk persediaan, karena dulu hampir tiap hari Leana menggunakan test pack untuk mengecek apakah dia hamil atau tidak. Tapi, lama kelamaan Leana malas untuk mengecek. Lagipula Max jarang menyentuhnya. Mereka hanya berhubungan sesekali jika mood keduanya sedang baik.
Leana sudah mencelupkan testpack nya dan dia harus menunggu beberapa detik. Pandangan Leana berubah seketika saat melihat 2 garis merah yang tertera begitu jelas di testpack itu. Leana hamil!
Ini kabar yang sangat bagus. Leana harus memberitahu Max jika dirinya hamil.
Max masih tertidur ketika Leana keluar dari kamar mandi. Tapi baru saja akan membangunkan Max, ponsel Max berdering.
Leana melihat dengan jelas nama Rani tertera di situ. Leana yang geram langsung saja mengangkat telepon itu.
"Halo, Max.."
Leana terdiam. Rani memanggil Max hanya dengan namanya saja?
"Ini aku, Leana. Max masih tidur." "Ada apa kamu telepon suamiku?" Ucap Leana ketus. Dia sudah sangat jengah dengan Rani. Selama ini Max melarangnya ke kantor, jadi Leana tidak bisa bicara pada Rani.
__ADS_1
"Oh, gak apa-apa. Kasih tau aja kalau aku menelepon. Suruh dia telepon balik."
"Apa?? Telepon balik?" "Sorry, apa kamu gak bisa berhenti ganggu suami orang? Max itu suamiku. Dan saat ini aku sedang ha... "
"Leana!" Max yang terbangun karena suara berisik, segera menyadari jika Leana sedang bicara dengan Rani. Maka dari itu Max langsung melompat dari ranjang dan merebut ponselnya.
"Jangan sembarangan angkat teleponku." bentak Max.
Leana sudah berkaca-kaca. Dia baru akan memberitahu Max perihal kabar baik yang baru saja dia ketahui, tapi sepertinya Max tidak akan menyukainya. Max sudah dibutakan oleh Rani.
"Kenapa, Max? Apa kamu takut kalau ketahuan selingkuh?" tebak Leana.
"Kenapa kamu gak bisa jawab?" "Apa istimewanya Rani sampai semua orang menyukainya?!" "Aku ini wanita Max. Aku punya perasaan." "Aku gak tahan lagi jika kamu bela Rani terus." teriak Leana tak kalah keras.
"Leana Scotts!" Max sudah bersiap mengayunkan tangannya. Tapi, dia sadar sesaat sebelum tangannya menyentuh pipi Leana.
Leana terduduk lemas mengetahui Max berniat menampar dirinya. Dia tidak pernah menyangka jika Max tega melakukan hal itu.
"Maaf, Le." sesal Max. Dia memegang tangan Leana, tapi Leana langsung menepisnya.
__ADS_1
"Max, aku ingin pisah untuk sementara sampai kamu memutuskan apakah kamu pilih aku atau Rani." kata Leana dengan suara tercekat. Dia sudah bosan dengan permintaan maaf dari Max yang terdengar sangat klise.
"Le,, jangan pergi.. aku mohon." Max tersungkur di lantai, tepatnya di depan Leana.
"Aku gak bisa seperti ini terus Max. Aku takut kamu melukai aku." 'Dan juga bayiku.' lanjut Leana tapi dalam hati.
Leana berdiri dan mulai mengepak pakaian secukupnya. Dia tidak mempedulikan Max yang memohon supaya Leana tidak pergi. Sampai keluar pun, Max masih coba menghentikan Leana.
Marco, Vero dan Gina terbengong melihat Leana dan Max yang menuruni tangga dengan cepat. Apalagi Leana membawa koper yang cukup besar.
"Le, kamu mau kemana?" ucap Marco yang berdiri di depan Leana, supaya wanita itu berhenti.
"Aku akan pergi dari rumah ini." "Kalian pasti senang kan jika aku pergi?" Leana bicara sambil menatap Vero yang diam saja seperti patung.
"Le, apa kamu sudah gila? Kenapa kamu pergi?"
"Saudaramu yang gila. Dia gila karena Rani." teriak Leana. Setelah mengatakan itu, Leana menangis sesenggukan seperti anak kecil.
Leana sudah tidak tahan lagi berada di sana. Dia mendorong Marco, lalu segera menarik kopernya keluar dari rumah keluarha Scotts. Ya, Leana, sudah tidak mau ambil pusing dengan teriakan Max atau Marco. Saat ini dia hanya perlu menenangkan diri.
__ADS_1