Love In Trauma

Love In Trauma
Terapi


__ADS_3

Hotel


Setelah berkendara 15 menit, Leana menemukan sebuah hotel yang cukup besar. Tapi, hujan perlahan mulai berhenti dan Max sudah meminum obatnya. Sekarang pria itu jauh lebih tenang daripada saat hujan tadi.


"Max, kamu mau pulang ke rumah atau kita menginap dulu di sini?" tanya Leana pada Max yang sedang menutup matanya.


"Kita turun di sini saja." "Kamu harus ganti bajumu yang basah." Max membuka matanya, lalu menengok ke samping. Penampilan mereka saat ini seperti kucing yang tersiram air seember.


Leana setuju dengan Max. Mereka berdua turun. Leana yang masih khawatir dengan Max membantu suaminya itu dengan cara memapahnya ke resepsionis.


"Kami sewa kamar presiden suite sekarang." Max mengeluarkan black card pada resepsionis yang memandang mereka dengan bingung. Jelas saja bingung karena mereka datang berdua dengan mobil mewah, tapi baju mereka semua basah.


"Sudah, Pak. ini kartunya. Kamarnya ada di lantai paling atas." "Apa kami perlu antar pak?"


"Tidak perlu." jawab Max cepat.


Dia melepaskan pegangan Milka, tapi sebagai gantinya, Max menggenggam tangan Milka. Mereka jalan bergandengan menuju Lift. Sampai di lift pun, Max tidak melepaskan Milka.


Ketika sudah berada di kamar, Max segera menuju ke kamar mandi. Dia melepaskan tangan Milka di sana.


"Cepat mandi supaya kamu gak sakit."


"Tapi, Max.." "Kita gak bawa baju ganti." ucap Leana malu-malu.


"Pakai bath robe untuk sementara." Max mengambil satu untuk dirinya, lalu dia menutup pintu kamar mandi.


Sementara itu, dia berjalan ke kamar mandi yang lain. Max sangat ingin menyiram kepalanya dengan air dingin. Sejak tadi otak Max tidak bisa berpikir jernih. Leana begitu menarik dan Max hampir tidak dapat mengendalikan diri. Itulah sebabnya sejak tadi Max memejamkan mata di mobil. Dia tidak sanggup melihat Leana seperti itu. Semakin lama Max melihat, Leana semakin cantik dan seksi. Ini membuat Max gila, karena meskipun Lea istri sah nya, tapi dia tidak bisa disentuh.


*


*


*


Max dan Leana keluar pada saat yang sama. Mereka berdua menggunakan bath robe sementara baju mereka di laundry di bawah.

__ADS_1


"Tidurlah, Le.. aku akan pergi ke kamar yang lain." Max memberi kode supaya Leana segera tidur.


"Emm.. Max.." "Kamu tidur di sini saja."


"Maksudnya?"


"Aku takut kalau nanti hujan lagi, kamu akan ketakutan. Jadi gak apa-apa kita tidur berdua." ucap Leana malu-malu. Dia berjalan lebih dulu ke ranjang tanpa menunggu jawaban Max.


Max membeku di tempat untuk sesaat. Dia tidak percaya Leana mengijinkan dia untuk tidur di ranjang yang sama. Itu bagai sebuah keajaiban untuk Max. Dan Leana bilang dia takut kalau Max kumat lagi. Itu artinya Leana sudah mulai peduli pada Max.


Max tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia tentu saja segera naik ke ranjang.


Leana mencoba memejamkan mata. Dia harus membuang segala perasaan negatif yang saat ini menghantui pikirannya. Jantung Leana kembali berdegub kencang saat ranjang bergerak.


"Le, makasih." ucap Max lirih.


Leana membuka matanya perlahan. Dia dihadapkan dengan wajah Max yang hanya berjarak beberapa centi saja darinya.


"Apa kamu takut?" tanya Max sambil memandang Leana intens.


"Kisah masa lalu yang kelam."


"Apa aku boleh tau?"


"Tidak, sebelum aku lakukan terapi ku."


"Katakan apa terapinya, aku bisa bantu."


"Benar? Kenapa kamu mau bantu? Bukankah kamu benci padaku?"


"Max, aku.." Leana tidak dapat menjawab pertanyaan Max lagi.


"Kalau kamu memang mau bantu aku, baiklah."


Max mendekatkan wajahnya pada Leana. Dan dia mencium bibir Leana mengikuti saran Ericka, yaitu untuk melakukan langkah selanjutnya.

__ADS_1


Leana terkejut. Mereka sedang membicarakan terapi, tapi kenapa Max menciumnya?


Leana tidak tau, tapi dia menutup matanya dan tidak menolak Max.


"Max.." ucap Leana terengah-engah setelah Max melepaskannya.


"Aku jauh lebih baik." Max mengecup dahi Leana, lalu memeluk wanita itu. "Ayo, kita tidur."


Leana menggigit bibir bawahnya tanpa banyak protes lagi. Dia bahkan menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Max. Leana tidak bisa mendeskripsikan apa yang dia rasakan saat ini. Dia bisa berciuman dengan Max tanpa ketakutan, bahkan Leana bisa menikmati itu.


'Pasti hormon ku sedang tinggi.' ucapnya dalam hati. 'Kenapa badan Max nyaman sekali?'


Baru beberapa detik, Leana sudah tertidur lelap dalam dekapan Max.


Max masih terjaga. Dia juga mengalami hal yang sama dengan Leana. Dan tentunya Max sangat senang karena Leana perlahan mulai menerimanya. Hubungan meraka akan semakin membaik jika seperti ini.


Ponsel Leana berdering. Gina calling..


Max mengambil ponsel Leana perlahan supaya Lea tidak terbangun.


"Nona, aku di depan hotel." ucap Gina panik.


"Ini aku, Gin. Kenapa kamu lama sekali?"


"Maaf Tuan Max, saya tadi tidak tau ada pesan dari Nona."


"Kamu selalu pasang dering yang paling keras, kenapa bisa gak dengar?" cecar Max.


Gina tidak menjawab.


"Sebaiknya kalian semua bersiap besok." Ucap Max menekankan nada besok. Dia tentu akan memarahi para karyawannya di rumah karena membiarkan Leana akhirnya kehujanan.


Max kembali pada Leana. Dia melihat tangan Leana yang terluka karena Max terlalu keras memegang istrinya itu.


"Aku pasti akan jaga kalian dengan baik Le, meskipun itu bukan anakku." Max bermonolog sendiri.

__ADS_1


__ADS_2