
Marcelino berjalan dengan gontai ke dalam sebuah restoran. Dia bahkan menyingkirkan pegawai yang melarangnya masuk ke ruang VIP.
'BRAK' dia membuka pintu dengan kasar.
Semua mata di dalam ruangan itu menatap ke arah Marco. Pelayan sudah menunduk lesu karena setelah ini mereka pasti akan di pecat. Tapi, reaksi orang di dalam sungguh berbeda. Mereka tidak komplain, malah memandangi Marco dengan terpesona.
Sosok Marco memang bisa mencuri perhatian. Siapa yang tidak kenal anak tertua dari Keluarga Scotts. Hampir seluruh selebgram dan artis menengal Marco. Dia sosok ambisius yang tidak mudah tersaingi. Tapi, itu justru yang membuat Marco jadi terkenal.
"Marcelino, ada angin apa kamu datang ke sini?" tanya seorang wanita cantik bak barbie hidup yang menggunakan mini dress. Marco tersenyum kecil pada gadis cantik itu. Namun sesaat kemudian senyumnya pudar. Pandangan Marco beralih pada pria yang duduk diam di tempatnya dengan wajah tanpa dosa.
"Aku ingin bertemu kekasihmu." jawab Marco sembari menarik pinggang gadis itu sehingga dia bisa merangkulnya.
Semua menatap tak percaya. Beberapa bahkan ada yang mengeluarkan kamera untuk merekam apa yang sedang terjadi.
Melihat kekasihnya di peluk oleh Marco, pria itu menggebrak meja. Dia balik menatap Marco tajam seolah memberikan peringatan pada Marco.
"Maaf, Marco.. meskipun kamu sangat tampan, tapi aku sudah memiliki kekasih." wanita itu hendak pergi, tapi Marco malah memperat pelukannya, bahkan barang pribadi wanita itu sampai menyentuh tubuh Marco.
"Hentikan Marcelino Scotts!" teriaknya dengan keras.
"Kenapa? Kamu marah kalau kekasihmu aku sentuh?" tanya Marco sambil tersenyum sinis.
"Aileen, kamu itu sangat cantik, sayang kamu itu bodoh." ucap Marco yang kembali memandang kekasih Mark itu.
__ADS_1
"Marco, hentikan. Kita bicara berdua." teriaknya lagi.
"Apa saja yang sudah dia lakukan padamu? Hmmm?" Marco tidak berhenti memanasi kekasih Aileen itu.
"Itu.. kenapa kamu ngomong gitu?"
"Karena kekasihmu itu sudah menghamili wanita lain. Dan karena dia, wanita itu tertabrak mobil." jelas Marco dengan santai.
"Kamu gila, Marco." Aileen mendorong tubuh Marco. Dia kaget sekaligus malu dengan teman-temannya yang berada di situ.
Dikatai gila, Marco malah tertawa. "Ya, aku adalah Marcelino Scotts yang gila." "Tapi, Mark Laurence lebih gila lagi." "Setelah melakukan kejahatan dia masih bisa setenang itu dan bahkan pesta bersama kalian." cerocos Marco.
"Apa maksudmu, Marco?" Aileen mulai tertarik dengan fakta dari Marco. Mark bilang jika Aileen adalah yang pertama dia sentuh. Mark juga berjanji akan menikahi Aileen setelah ini. Makanya mereka membuat acara perayaan di restoran untuk merencakan pernikahan mereka.
"Perlu aku jelaskan di sini?"
Mark tidak dapat menahan emosinya lagi. Dia bergerak keluar dengan menyeret Marco seperti menyeret anak kecil yang rewel tidak mau pulang ke rumah.
"Beraninya kamu muncul di sini." teriak Mark dengan suara 3 oktaf lebih tinggi dari biasanya.
Dia juga sudah mencengkram kerah baju Marco untuk mengintimidasinya.
Tapi, Marco bukan tipe yang mudah terintimidasi. Dia tadi sempat melihat Mark yang membawa Leana pergi. Tapi, Max lebih dulu menghajarnya sehingga dia tidak punya kesempatan untuk memberitahu adiknya itu. Kini, Marco sudah berhadapan langsung dengan orang yang memperkosa Leana.
__ADS_1
Ya, Mark Laurence adalah sosok yang Marco lihat di gudang. Dia yang waktu itu mau menemui Max begitu terkejut melihat Mark yang baru saja selesai melakukan aksi bejatnya.
Mark yang polos itu ternyata orang yang sangat menyeramkan. Dia mengancam Marco akan membuat perusaahan Scotts bangkrut dan membuat hidup Max susah jika Marco sampai bicara ke publik. Mark punya kekuatan itu dari Orangtuanya yang notabene adalah Teman dari Tuan Scotts. Orang tua Mark mengerti semua yang terjadi dalam keluarga Scotts, dan dia menggunakan aib keluarga Scotts sebagai kartu AS nya.
"Sepandai-pandinya kamu simpan bangkai, pasti tercium juga." sindir Marco dengan tajam.
Selama ini, Mark selalu menggunakan kekayaan orangtuanya untuk menutupi semua peristiwa ini. Bukan tidak mungkin jika polisi tidak bisa melacak TKP. Detektif sekelas Timothy pun bahkan tidak bisa menemukan jejak Mark.
"Aku pikir, aku dan Max sudah orang yang paling gila di dunia ini. Ternyata ada yang lebih gila." lanjut Marco lagi.
"Apa mau kamu?" Mark akhirnya membuka suaranya.
"Mau ku? Tentu saja, kamu bisa masuk penjara." "Nama baik aku dan Max sudah rusak, jadi gak masalah kalau kamu mau speak up di publik tentang aib masa lalu keluarga kami."
Mark kembali diam. Jika Marco sudah tidak mempan lagi pada ancamannya, berarti ini bukan suatu pertanda yang bagus.
Benar saja, baru akan melayangkan tangan untuk menghajar Marco, petugas datang dengan membawa borgol.
Polisi berterimakasih pada Marco dan berjanji akan mencabut tahanan bersyarat Max dan juga Marco.
Marco terduduk lemas setelah semua sudah pergi. Dia akhirnya menyelesaikan masalah yang sudah dia mulai. Akibat ambisinya pada Jessica, Marco sampai menyeret banyak sekali pihak. Jika Marco tidak menyuruh Max menculik Jessica, kejadian Leana tidak akan pernah terjadi. Leana tidak akan trauma dan sampai tertabrak seperti ini.
Ponsel Marco berdering membuyarkan lamunan Marco. Max calling..
__ADS_1
"Leana kritis dan bayinya gak selamat."
Marco seperti tersambar petir di siang bolong. Dia merasa sangat bersalah pada Leana dan Max. Berjuta maaf pun sepertinya tidak akan berguna jika Marco menyesali perbuatannya sekarang. Sudah terlambat.