Love In Trauma

Love In Trauma
Jadi rumit


__ADS_3

'BRAK' Gina mendengar suara benda benda yang di banting dari kamar Max. Dia tidak menyangka jika keadaan akan berubah jadi seperti sedia kala lagi. Max kerap melampiaskan emosinya dengan mengamuk seperti itu. Rani hanya mendengar dari percakapan Marco dan Vero jika Max seperti itu karena Rani. Leana juga pergi karena cemburu pada Rani. Kenapa keadaan jadi berubah 180° seperti ini? Belum lagi Leana tidak dapat dihubungi. Kemana wanita itu?


"Gina, bereskan kamar tamu." Marco menepuk pundak Gina yang sedang berdiri di depan pintu kamar Max.


"Apa ada tamu Tuan Marco?"


"Ya, Rani akan tinggal di sini untuk sementara waktu."


"Tapi..."


"Dia yang mengerti Max dan obat apa yang harus dia minum. Jadi, lebih baik jika Rani berada di sini." Marco berlalu tanpa banyak bicara lagi.


Gina merasa kepalanya berputar. Keluarga macam apa ini? Vero lebih suka dengan Rani daripada Leana, dan Marco juga tampaknya mulai pro dengan Rani.


"Nona.. kenapa anda pergi?" ucap Gina lirih dan penuh kesedihan.


"Gina cepaaaat.. Dia akan datang sebentar lagi." teriak Marco.


Gina buru-buru pergi ke kamar tamu yang terletak di sebelah kamar Max.


Sementara itu, di dalam kamar, Max duduk di pojok ruangan dengan nafas yang memburu. Max baru saja menghancurkan seisi kamar, bahkan menjatuhkan foto pernikahan yang belum lama mereka buat di studio foto.

__ADS_1


Tangan Max berdarah karena pecahan kaca. Tapi dia tidak peduli. Max mengambil foto Leana dan fotonya yang tidak sengaja terobek menjadi 2.


Pernikahannya hancur dalam sekejap mata. Max belum lama merasakan kebahagian dengan Leana, tapi sekarang semua hancur berkeping-keping karena surat perjanjian aneh yang tidak masuk diakal itu. Sekarang, Leana kabur. Max bahkan tidak bisa menghubungi ponsel Leana. Dia sudah berusaha untuk menyuruh orang melacak Leana, tapi wanita itu tidak juga ditemukan.


"Apa sedangkal itu cintamu padaku, Le?" "Kenapa kamu kabur?" ucap Max pada foto Leana.


Entah berapa lama Max tetap dalam posisinya. Dia sampai tidak sadar jika hari sudah malam dan dia belum menyentuh makanan sama sekali kecuali bubur bikinan Leana tadi pagi.


'Ceklek' pintu kamar terbuka. Max langsung menengok dan mengira itu adalah Leana. Tapi, harapannya pupus ketika melihat Rani berdiri di situ dengan membawa nampan berisi makanan.


"Mau apa kamu di sini?" "Apa kamu tuli? Sampai kapanpun aku gak akan nikah sama kamu." Ucap Max sambil memandang Rani dengan tatapan yang membunuh.


"Max.. aku mohon.. jangan lukai diri kamu kayak gini." Rani mendekati Max dengan perlahan dan hati-hati.


"Aku gak bisa, Max." "Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu." batin Rani.


"Ya, aku akan coba bicara pada Dad. Tapi, kamu harus makan dulu dan minum obatmu." Rani memutuskan untuk berpura-pura lagi mengikuti Max, hanya supaya pria itu mau makan.


"Aku gak akan memaafkan mu kalau kamu bohong." jawab Max dengan penuh penekanan.


"Ya, oke." "Makan dulu saja." Rani menyodorkan piring yang berisi makanan kesukaan Max.

__ADS_1


Max mencoba menelan makanan yang tersedia. Sebenarnya dia tidak berselera makan, apalagi dia tidak tau keberadaan Leana.


"Ini obatmu." Rani memberikan Max obat penenang yang sudah di konsultasikan dengan Ericka.


Butuh waktu hanya beberapa menit supaya obat itu bereaksi. Max mulai tenang dan dia mengantuk.


Rani membenarkan posisi bantal Max, lalu dia memapah Max untuk tidur di ranjang.


"Istirahat Max." Rani mengelus rambut Max yang sudah hampir tertidur.


"Bee, jangan pergi ke mana-mana. Kamu harus tetap di sini." Max berhalusinasi jika wanita yang ada di dekatnya itu adalah Leana.


"Max, aku bukan Leana, aku Rania." Rani mengepalkan tangannya karena dalam alam bawah sadarnya pun, Max hanya memikirkan Leana.


Ponsel Rani bergetar. Rani keluar dari kamar Max untuk mengangkat teleponnya.


"Halo, kamu sudah menemukan Leana?" tanya Rani dengan ketus pada orang di seberang sana. "Dia ke dokter kandungan? Maksudnya dia hamil?" teriak Rani. Tapi Rani tersadar jika dia saat ini ada di kediaman keluarga Scotts. Rani mengecilkan volume suaranya karena dia tidak ingin orang di rumah ini tau jika Leana hamil. Sepertinya tidak ada yang tau tentang hal ini. Dan jika Max tau, sudah pasti Max tidak akan peduli lagi dengan perjanjian atau warisan atau keluarganya.


"Ya, oke. Aku harus segera membujuk Max untuk menceraikan Leana."


Rani masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan untuknya. Dia tidak tau jika seseorang sudah mendengarkan percakapannya tadi.

__ADS_1


"Kenapa jadi makin rumit seperti ini?" Vero keluar dari persembunyiannya. Tadi dia ingin menengok Max karena laporan dari Gina. Tapi dia malah mendapati fakta baru yang sangat membuat dia jadi makin bersalah pada Max. Seandainya Vero punya kekuatan untuk membantu Max. Tapi, dia tidak mau juga di depak dari keluarga Scotts. Vero tidak mau hidup susah.


__ADS_2