Love In Trauma

Love In Trauma
Surat Cerai


__ADS_3

Max terbangun dan mendapati kamarnya sudah rapi. Dia juga melihat tangannya yang terluka sudah dibalut dengan perban. Max berharap ini semua hanya mimpi buruk. Tapi, kenyataannya tidak begitu. Max tetap kehilangan Leana. Dia tidak bisa melihat Leana lagi di rumah ini.


"Lee, kamu di mana?" ucap Max saat melihat space kosong di ranjangnya. Max sangat rindu ketika Leana memandangnya dan memberikan morning kiss.


"Kamu udah bangun, Max?" Tiba-tiba pintu kamar Max terbuka. Rani datang dengan senyuman lebar. Dan lagi-lagi dia membawa nampan berisi sarapan untuk Max.


"Ran, kamu sudah bicara dengan Dad mu?" tanya Max sembari bersandar pada head board. Dia tidak akan tenang sebelum Rani bisa membatalkan perjanjian ini.


"Belum. Dad sedang berada di luar negeri untuk berobat. Mungkin dia akan pulang 1 bulan lagi."


"Itu terlalu lama, Ran." ucap Max penuh kesedihan. Dia akan segera bicara pada Timothy untuk mencari Leana, setelah Rani bicara pada Dad nya.


Rani meletakkan sarapan Max di nakas, lalu dia duduk di pinggir ranjang.


Max sedikit terkejut dengan keberanian Rani. Dan belum sempat Max melayangkan protes, Rani sudah lebih dulu memegang tangannya dengan erat.


"Max, aku tau kamu sangat menyukai Leana." "Tapi, apa dia juga menyukaimu?"


"Apa maksudmu, Ran?" Max menyingkirkan tangan Rani dengan cepat.


"Sorry, Max.." ucap Rani sambil tertunduk lesu. "Leana mengirimkan surat cerai padamu, Max."


Mata Max membulat. Dia menangkap kedua bahu Rani, dan mencengkeramnya kuat dengan tangannya.


"Kamu ketemu Leana? Di mana dia sekarang Ran?!" teriak Max.


Rania menatap Max dalam. Dia melihat kecemasan dalam wajah Max.


"Dia hanya mengirimkan surat cerai ke rumah ini, jadi aku gak tau di mana Leana sekarang." jawab Rani tanpa mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Aku harus bicara dengan Timothy." Max meraih ponselnya yang tergeletak di samping nampan.


"Max, kamu sungguh bodoh."


"Diam, Ran." "Berhenti bertindak seolah kamu ini dekat dengan ku." "Kamu gak ngerti apapun karena kamu cuma karyawan ku." Ucap Max sengit.


Rani merebut ponsel Max, lalu dia segera berdiri.


"Ya, aku gak ngerti apapun. Tapi aku tau sesuatu tentang keluarga Scotts."


Max terperangah. Dia sama sekali tidak dapat protes dan hanya mampu memandang wanita yang berada di depannya itu.


"Max, aku tau kamu sangat sayang dengan Mom Vero dan Marco meskipun dia.."


"Cukup Ran." potong Max. Dia melayangkan pandangan membunuh pada Rani yang tampak begitu percaya diri.


"Kamu cuma punya 2 pilihan, Max. Kehilangan Leana atau kehilangan Mom Vero dan Marco." Rani memberikan ultimatum pada Max, lalu dia keluar dengan senyum penuh kemenangan.


Begitu Rani keluar, dari dalam kamar terdengar suara piring pecah. Sudah pasti Max mengamuk lagi.


"Kenapa Max, Ran?" Vero yang tidak sengaja lewat kamar Max langsung berhenti ketika mendengar suara benda pecah belah dari dalam.


"Max gak terima karena Leana mengirimkan surat cerai." jawab Rani santai.


"Max gak mungkin mau tandatangan."


"Tenang saja, Mom. Aku yakin dia mau." Rani menepuk pundak Vero, lalu beranjak dari situ.


Vero bengong sesaat. Dia hendak menarik handle pintu kamar Max, tapi pintu itu lebih dulu terbuka. Max keluar dengan penampilan acak-acakan.

__ADS_1


"Max, kamu kenapa?" Vero menahan Max yang hendak pergi.


"Minggir Mom. Max mau mencari Lea." Max menyingkirkan Vero dengan mudah. Tapi, Vero lebih dulu meraih tangan Max. Dia bahkan sampai terduduk lemas di depan Max.


"Mom minta maaf, Max. Tapi, Mom mohon kamu berbaik hati pada Mom dan juga Marco." ucap Vero dengan suara bergetar. Vero yang biasanya sombong, kini jadi seperti burung yang kakinya terluka dan tidak bisa terbang.


"Mom, urusan keluarga kita itu gak berhubungan dengan Leana."


"Justru itu, Max." "Leana itu gak seharusnya masuk ke dalam keluarga Scotts. Kamu harusnya bersanding dengan Rania."


"Mom! Jangan ikut campur urusan Max." suara Max menggelegar sepanjang koridor.


Vero bahkan sampai pucat pasi, dan di detik berikutnya dia menangis sesenggukan.


Max hanya menengok ke arah belakang, tapi dia tidak peduli pada Vero dan tetap berjalan keluar untuk menemui Timothy.


"Mooom.. mom kenapa?" Marco berlari ke arah Vero yang masih duduk di lantai sambil menangis.


"Kita sudah tamat, Ko. Max sepertinya tetap gak mau menikah dengan Rani." ucap Vero terisak.


"Sabar Mom.. Leana juga gak akan mau kembali pada Max."


"Max sama seperti Daddy. Sangat keras kepala."


"Max pasti akan buat pilihan yang tepat, Mom." hibur Marco. Dia membantu Vero berdiri, lalu mengusap wajah Mom nya yang tampak khawatir itu.


"Mom pergi sebentar, Ko."


"Kemana Mom? Biar Marco yang antar Mom."

__ADS_1


"Gak perlu, Ko. Mom cuma sebentar."


Marco membiarkan Vero pergi. Entah kenapa perasaan Marco tidak enak. Dia merasa Vero seperti menyembunyikan sesuatu. Kenapa anggota keluarganya makin lama makin aneh saja?


__ADS_2