
Rani senang bukan main ketika mendapat telepon dari Max. Dia langsung buru-buru pulang sampai hampir lupa dengan Vero. Di dalam mobil, Rani terus mengoceh dan terus mengucapkan terima kasih pada Vero. Tapi, Vero hanya menanggapi dengan senyuman kecil. Dia bingung, kenapa Max bisa berubah pikiran? Apa yang Marco katakan? Apakah Marco sudah tidak ada karena dihajar oleh Max jadi dia merasa bersalah?
Ponsel Marco mati. Jadi, Vero tidak bisa menghubungi Marco. Dia akhirnya melamun sepanjang perjalanan sambil menatap keluar jendela.
Sesampainya di rumah, Max sudah menunggu kedatangan mereka di ruang makan. Gina berada di belakang Max dengan wajah muram.
"Max,,," panggil Rani sembari berlari ke arah Max.
"Cepat sekali kamu kembali." sindir Max. Dia tidak menyukai Rani sama sekali. Max melakukan ini hanya demi Vero dan Marco.
"Tentu saja Max. Ini kabar yang sangat baik." ucap Rani senang.
Gina menelan ludah. Tamat sudah jika Rani menjadi pengganti Leana. Baru tinggal beberapa hari saja Rani sudah sangat menyebalkan. Gayanya melebihi Vero. Dia selalu minta ini itu dan Gina harus melakukannya dengan cepat.
Max mengambil pulpen di sakunya. Dia bisa tenang karena sudah minum obat dari Ericka sebelum bertemu dengan Rani.
Sekali lagi Max memandang kertas di hadapannya. Satu tanda tangan berarti akan mengakhiri hubungannya dengan Leana.
Rani sudah bergelayutan manja pada lengan Max. Dia tidak sabar untuk melihat Max menandatangi surat cerai itu. Sedangkan Vero hanya berdiri mematung di sebelah Gina.
"Tunggu dulu." Sebuah Suara membatalkan niat Max untuk menjalankan pulpennya di kertas itu.
Semua menengok ke arah sumber suara yang sudah tidak asing.
__ADS_1
"Leana!" pekik Max.
Leana melangkah maju dengan yakin. Dia tidak mengalihkan pandangan dari Max yang juga menatapnya. Sesampainya di depan Max, Lea mengambil kertas itu, lalu merobeknya menjadi potongan-potongan kecil.
"Dia sudah dijodohkan dengan ku, Leana." sambar Rani tidak terima.
"Silahkan jika kalian ingin menikah nantinya, tapi tidak sekarang. Urusan ku dengan Max belum selesai."
"Lea, kamu ke mana saja? Aku sangat merindukanmu."
"Max, stop." Leana menahan Max yang sudah akan memeluknya. Dia tidak ingin Max tau jika dirinya sedang hamil.
"Aku ingin bicara dengan mu di kamar." Leana melenggang pergi begitu saja, meninggalkan semua orang yang masih bengong karena kehadirannya yang tiba-tiba.
Max tanpa buang waktu segera mengikuti Leana yang lebih dulu naik ke atas.
"Mom pusing. Mom mau kembali ke kamar." Vero melepaskan tangan Rani. Dia berjalan sempoyongan ke arah kamarnya. Hari ini begitu panjang. Max setuju menikah, Marco menghilang dan Leana muncul. Itu membuat kepala Vero berdenyut.
***
Sementara itu, di kamar, Leana berusaha menahan mati-matian perasaan rindunya pada Max. Dia sudah mendengar semuanya dari Gina. Max bukan selingkuh dengan Rani, tapi dia terpaksa terikat perjanjian karena surat wasiat dari Tuan Scotts. Ya, Leana kembali karena dia ingin membantu Max melewati masa sulitnya. Hanya saja, Leana harus sedikit bersandiwara supaya Rani tidak semakin menekan Max. Dia hanya akan mendampingi Max tanpa banyak bicara.
"Lea.. aku pikir kamu benar-benar tega tinggalin aku."
__ADS_1
Pemilik kamar alias Max datang. Lea segera berbalik. Dia tidak mau Max tiba-tiba memeluk dari belakang dan menyadari kehamilannya. Lea sudah sengaja menggunakan baju yang longgar agar tidak terlihat orang lain.
"Aku bilang kan, urusan kita belum selesai." "Aku kembali itu karena..."
"Karena kamu kangen aku, kan?" potong Max.
"Max, aku gak ingin memperpanjang masalah dengan Rani. Jadi, kalau kamu macam-macam, aku akan langsung pergi." ancam Leana dengan nada yang tegas.
Max sedikit terkejut. Leana adalah wanita yang lembut dan kelihatan lemah. Dia bahkan takut dengan Vero. Tapi kali ini, Leana seperti berbeda. Dia sangat berani bicara pada Rani dan Vero.
"Lea, jangan pergi, aku mohon." Max meraih tangan Leana. Tapi, belum ada satu detik, Leana segera menarik tangannya.
"Max, aku sudah bilang, no skin ship."
"Tapi, Le.. kita ini suami istri."
"Suami istri yang harus berpisah sementara karena pihak ketiga." imbuh Leana.
"Aku cuma sayang sama kamu, Le." "Cuma kamu."
Jika tidak menahan diri, Leana pasti langsung memeluk Max. Tapi, dia harus ingat tujuannya. Max sudah membantu Leana menyembuhkan traumanya. Sekarang, giliran Lea yang perlu membantu Max. Max terlihat lusuh dan tidak terawat. Di tambah, akhir-akhir ini hujan sering turun di Jakarta. Trauma Max pasti juga kumat.
"Le, maafkan aku." ucap Max dengan lirih.
__ADS_1
"Aku mau mandi dulu, Max." Leana beranjak dari tempatnya karena dia tidak tahan ketika menatap Max yang begitu sedih.
'Max, aku tidak tau apakah keputusanku ini sudah tepat. Tapi, setidaknya biarkan aku bisa rawat kamu sampai aku tau apa yang bikin kamu trauma.'