
Leana menjalankan mobilnya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Leana sudah memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah ini.
Leana akan menyewa satu apartemen supaya Bibi Marie tidak curiga. Dia juga akan menyembunyikan kehamilan ini dari keluarga Scotts. Tapi, Leana harus memastikan dulu berapa usia kehamilannya dan juga kondisi janinnya. Dia sudah cukup kehilangan anaknya satu kali saja. Dia tidak ingin peristiwa buruk itu terjadi lagi.
"Apa saya memang hamil, dok?" tanya Leana saat dokter sedang melakukan USG.
"Ya, anda sedang hamil. Dan usia kandungan anda sudah 15 minggu."
"Hampir 4 bulan? Tapi saya gak mual-mual Dok. Saya juga baru tau kalau saya itu hamil. Gimana mungkin sudah 4 bulan?" Leana tampak tidak percaya dengan hasil pemeriksaan Dokter Mega.
Dokter Mega menatap Leana sambil tersenyum.
"Anda ingat kapan anda haid?"
Leana menggeleng. Dia memang tidak teratur haid. Jadi ketika dia tidak haid selama 3 bulan, itu hal yang biasa.
"Nona, kamu kehilangan banyak berat badan setelah keguguran yang lalu. Jadi, wajar kalau usia 4 bulan kandungannya belum terlihat besar."
"Tapi, gimana kondisi janinnya dok?"
"Janinnya sehat dan baik-baik saja. Tapi, tolong hati-hati kali ini. Jangan terlalu kerja berat seperti yang lalu." ingat Dokter Mega.
"Baik Dok. Saya akan jaga anak ini sebaik-baiknya."
"Oh iya, mana Max? Kenapa dia tidak ikut?"
"Max sedang banyak kerjaan Dok." "Kalau gitu, saya pamit dulu." Leana mencoba tersenyum walaupun hatinya sudah hancur berkeping-keping.
'Hey, baby.. bertahan ya sama Mom..' ucap Leana sambil mengelus perutnya. Dia sudah biasa sendiri, dan kali ini pun dia harus bisa melewati ini.
Ponsel Leana berdering tepat saat Leana akan menjalankan mobil. Ericka calling..
Pasti Max yang menyuruh Ericka untuk meneleponnya.
"Halo Rick."
"Kamu di mana Le? Max sangat khawatir padamu."
__ADS_1
Leana tersenyum getir. Dugaannya tepat. Dia juga yakin Max sudah menceritakan semua pada Ericka.
"Seharusnya dia pergi mencari ku, bukan menyuruh kamu untuk menelepon."
"Leana, pria itu sudah telepon ratusan kali, tapi kamu gak angkat. Jadi, kamu ada di mana?"
"Rick, aku ingin menenangkan diri dulu untuk sementara."
"Jangan pergi, Le. Max membutuhkanmu." ucap Ericka setengah memohon seperti Max.
"No Rick. Ini keputusanku."
Leana menutup telepon Ericka lalu dia mematikan ponselnya. Dia tidak ingin dirinya diganggu oleh siapapun itu, termasuk Ericka.
*
*
*
Cafe
"Kamu yakin ingin menikah dengan Max?" tanya Vero yang menatap dalam mata Rani.
"Ya, tentu saja Mom. Max sangat sempurna." Rani menerawang membayangkan betapa kekar dada bidang Max.
"Kamu gak keberatan dengan penyakitnya?" tanya Vero lagi.
"Ada Ericka dan ada obat. Kenapa aku harus bingung?" jawab Rani santai. Dia meminum kopinya yang sudah mulai dingin.
"Mom, pulang sekarang." Tiba-tiba Marco datang ke dalam cafe. Dia memegang lengan Vero, lalu memaksanya berdiri.
"Apa sih, Ko. Mom belum selesai bicara sama Rani." Vero mengomel karena Marco sangat tidak sopan padanya.
Marco menatap sengit pada wanita cantik dengan rambut ikal itu.
"Hay, kakak ipar." sapa Rani ramah.
__ADS_1
"Aku bukan kakak iparmu. Jangan mimpi ya." ucap Marco sinis.
Dia memaksa Vero lagi meskipun Mom nya enggan untuk beranjak dari situ.
Sejak Rani menjajah keluarga Scotts, hubungan antara Vero, Marco dan Max sungguh berantakan. Max tidak mau memberi penjelasan padanya sedangkan Vero selalu sibuk sendiri entah melakukan apa.
Di mobil, Marco langsung meluapkan rasa penasaran dan emosinya pada Vero. Kenapa Vero jadi lengket sekali dengan Rani?
"Mom, Marco butuh penjelasan."
"Penjelasan apa? Leana pergi dan berpisah dengan Max." "Sebentar lagi Leana juga akan mengirimkan surat cerai untuk Max dan yah, seperti yang kamu tau Max akan menikah dengan Rani."
"Mom.. mana bisa gitu?" "Marco gak setuju. Kasihan Leana Mom."
"Apa urusannya dengan Leana? Jangan membawa orang lain dalam masalah keluarga Scotts."
"Apa hubungannya dengan keluarga Scotts?"
"Marco.. Rani dijodohkan dengan Max oleh Daddy." "Dan di situ tertulis kalau Max tidak menikah dengan Rani, maka kamu dan Mom tidak akan jadi bagian dari Keluarga Scotts lagi." ungkap Vero dengan wajah cemas.
"Maksud Mom gimana? Kenapa Dad bikin surat wasiat aneh seperti itu?" ucap Marco terbata.
"Selama ini, kenapa kamu selalu merebut barang milik Max atau apa yang Max inginkan?"
"Itu karena.." Marco tidak melanjutkan kata-katanya.
"Karena Dad lebih sayang pada Max." Vero membantu Marco untuk menjawab.
Sejak kecil, Marco merasakan ketidakadilan. Tuan Scotts memberikan segalanya yang terbaik untuk Max. Karena itulah Marco iri dengan Max dan selalu menginginkan apa yang Max sukai.
Semakin dewasa, perlakuan Marco pada Max semakin ekstrem sehingga Tuan Scotts memutuskan untuk memisah mereka. Marco tinggal di Indonesia, sedangkan Max tinggal bersamanya di Amerika, dan Vero tinggal di Inggris. Itulah awal mula kehidupan mereka sebagai keluarga jadi renggang.
Vero menjadi sosialita elite yang hobi menghamburkan uang, sedangkan Marco jadi pribadi yang ambisius yang selalu harus mendapatkan apa yang dia inginkan.
Sementara itu, Max yang tinggal dengan Tuan Scotts, mendapatkan segalanya. Max menjadi ahli waris utama keluarga Scotts. Dan tidak ada nama Vero dan Marco di sana. Itulah sebabnya kenapa Max yang mengurus perusahaan sendirian.
"Jadi, Mom mohon kamu bisa bantu supaya Max mau menikah dengan Rani." Vero menatap dalam ke arah Marco.
__ADS_1
Marco tidak menjawab karena kepalanya pusing. Dia tidak tau jika semua akan serumit ini. Dan saat ini pikiran Marco malah tertuju pada Leana. Kemana Leana pergi dan kenapa perasaannya tidak enak?