
"Maax.. kamu melanggar janjimu." protes Leana setelah mereka sampai di ruangan suaminya.
"Baru di tinggal 15 menit saja sudah ada semut yang mendekatimu." Max melepaskan lelahnya dengan duduk di kursi kerjanya. "Aku gak bisa kalau kita sembunyi-sembunyi seperti ini." "Kita bukan anak SMA, Le."
"Iya, tapi pasti mereka ingin sosok seperti Aileen untuk jadi pendampingmu." Leana tertunduk lesu.
"Duduk sini, Bee." Panggil Max. Dia menepuk pahanya dan memberi kode supaya Leana duduk di pangkuannya.
Leana berjalan ogah-ogahan dan menuruti Max. Dia duduk di pangkuan Max dan supaya tidak jatuh, Leana melingkarkan tangan di leher Max.
"Siapa itu, Mark?" tanya Max dengan nada curiga.
"Dia itu mantan pacarku, Max."
"Kenapa dia masih mau menemui mu? Ada berapa banyak mantan mu?"
Leana tersenyum kecil. Dia baru lihat ternyata seorang Max bisa cemburu. Dan ternyata pesona Max yang cool dan berwibawa itu hanya tampak di luar saja. Max lebih seperti anak kecil bagi Leana.
"Kamu gak bisa jawab, Bee?" Max tampak tidak sabar dengan Leana.
"Ada 2. Satu itu Boy Setiawan, dan yang satu Mark Laurence. Sebelum kejadian itu, aku baru saja putus dari Mark." jelas Leana sambil menatap Max yang masih terlihat kesal.
"Kamu masih menyukainya?"
Leana diam sejenak. Leana tidak tau harus mengucapkan apa. Perasaannya kosong saat ini. Meski sudah memberikan ijin pada Max untuk melakukan sentuhan seperti ciuman, tapi Leana belum percaya dengan Max 100 persen.
"Bee, kamu itu milikku. Cuma milikku." Max mulai kembali melakukan hobi barunya yaitu mencium Leana. Dia melakukan itu dengan lembut dan hati-hati. Leana hanya membalas apa yang di lakukan Max sambil menutup matanya. Beberapa kali melakukan ini dengan Max, Leana semakin terbiasa dan bayangan buruk itu pun tidak muncul.
Untung saja Leana menggunakan turtle neck, kalau tidak, sudah dapat dipastikan Max akan menjelajah ke mana-mana.
"Sudah, Max. Ini tempat kerja." Leana memegang pipi Max dan menjauhkan wajah Max darinya. "Kamu gak perlu tunjukkan apapun karena kita memang sudah menikah secara sah dan kamu itu suamiku." ucap Leana menyakinkan Max.
"Tuan Max, Tuan Romano Smith sudah me... nunggu." Rani yang tidak tau di dalam ada Leana segera menunduk karena melihat bosnya sedang bermesraan dengan istrinya.
__ADS_1
"Max, kamu kerja dulu. Aku lapar. Aku ingin makan di bawah."
"Bee..pergi saja dengan Rani." usul Max yang tidak rela Leana pergi dari ruangannya.
"No.. kan kamu sudah berikan bodyguard. Dan, Rani harus membantu mu." Leana turun dari bangku hidupnya. Dia tersenyum pada Max yang masih menatapnya dengan intens.
"Setelah makan kamu istirahat saja. Itu kamar ku, dan kamu bisa masuk dengan ini." Max memberikan kartu akses ke ruangannya.
"Okey..aku pergi dulu. Baby nya ingin makan donat." Leana mengusap perutnya yang masih rata dan tersenyum ke arahnya.
Rani melihat kedua pasangan itu dengan takjub, khususnya Max. Selama bekerja, Max tidak pernah setenang ini. Dan meskipun sedikit, sudut bibir Max menunjukkan senyuman tipis. Apakah Max benar-benar mencintai Leana?
"Ran, hadiah apalagi yang seharusnya aku berikan untuk Leana?" tanya Max setelah Leana pergi.
"Emm..mobil sudah, jadi bagaimana kalau perhiasan Tuan?" jawab Rani ragu-ragu. Meski sedang dalam mood baik, tapi Rani tetap harus berhati-hati pada Max.
"Ya, siapkan itu. Dan juga booking restoran dengan view yang paling bagus di kota ini. Aku ingin mengajak Leana makan malam dan memberikan perhiasannya." perintah Max. "Satu lagi Ran, selidiki pria bernama Mark Laurence, langganan kita itu."
"Baik Tuan, saya akan segera kerjakan."
Jujur saja, Max sedikit khawatir pada Mark. Leana cuma milik Max dan dia tidak boleh dekat dengan pria lain.
Lantai bawah tidak terlalu ramai karena ini bukan hari weekend. Leana sudah membeli croffle, donat, crepes dan lemon tea untuk makan siangnya. Dia mengambil tempat di salah satu bangku yang kosong.
"Duduk saja di sini." kata Leana pada bodyguard Max yang sejak tadi berdiri seperti tiang listrik.
"Saya gak berani Nona. Saya bisa habis oleh Tuan Max. Anda lihat sendiri Tuan Max sangat protektif pada anda." jawab Bodyguard itu dengan sopan.
"Memang dia menakutkan." Leana setuju dengan Bodyguard Max yang entah siapa namanya. Dia baru bertemu hari ini dan bodyguard itu juga tidak banyak bicara.
Leana memutuskan untuk menikmati saja makanannya dan tidak mau ambil pusing lagi. Tapi baru saja menancapkan sedotan ke minumannya, ponsel Leana berdering. Mark calling..
Leana menggeser ponselnya karena dia tidak mau angkat telepon dari Mark. Setelah ponselnya mati, baru Leana membuka pesan dari Max.
__ADS_1
"Le, besok bisa kita bertemu di restoran mu? Ada yang ingin aku bicarakan. Jam 2 siang. Thanks."
"Kenapa pria ini tiba-tiba ingin ketemu? Aneh sekali." Leana bermonolog sendiri.
"Ada apa Nona cantik?" seorang pria menepuk pundak Leana, lalu tanpa ijin dia duduk di depan wanita itu.
"Marco!" seru Leana kaget. Dia pikir Marco adalah orang jahat. Apalagi penampilan Marco sudah mirip penculik dengan masker dan topi hitam. Leana bisa tau itu Marco dari tatapan matanya yang khas. Sipit dan tajam.
"Kenapa makan sendiri? Mana Max?" tanya Marco yang kini sudah melepaskan atributnya.
"Max kerja."
"Hmm.. ya sudah, aku temani kamu."
"Gimana kamu bisa tau aku ada di sini?" tanya Leana yang mulai memakan donat dengan toping strawberry yang dia inginkan. Dia harus bisa terbiasa dengan Marco karena Marco adalah kakak iparnya.
"Aku sedang berkeliling mengecek mall."
"Kenapa kamu gak kerja seperti Max?" Leana mulai berani bercerita dengan Marco.
"Hmm pertanyaan yang bagus." "Sebelum meninggal, Dad memang meminta Max untuk mengelola bisnisnya. Aku dan Mom hanya bantu mengecek saja." Marco mencomot satu croffle yang ada di meja.
"Bagaimana hubungan kamu dan Max?" Marco mengalihkan pembicaraan supaya Leana tidak bertanya lebih jauh tentang keluarga Scotts.
"Semakin baik. Aku rasa aku mulai bisa menerima Max sebagai suamiku."
"Bagus lah. Aku ikut senang dengarnya." "Tapi, bagaimana dengan anak itu? Apa Max bisa menerimanya?"
Leana berhenti mengunyah karena mendengar pertanyaan Marco yang begitu ambigu.
Melihat reaksi Leana, Marco sadar jika Max tidak menceritakan yang sebenarnya pada Leana.
"Max, gak cerita?"
__ADS_1
"Cerita apa?" Leana meletakkan makanannya yang tinggal segigit lagi. Tiba-tiba dia tidak lagi tertarik untuk makan, dan lebih tertarik dengan cerita Marco.
"Apa Max tidak cerita padamu kalau anak itu bukan anaknya?"