
"Kenapa Max?" tanya Leana yang mulai ketakutan. Dia takut pasalnya jalanan yang mereka lalui sepi dan gelap. Leana tidak melihat mobil lain selain mobil Max dan beberapa motor yang lewat.
Max segera mengeluarkan ponselnya untuk menelepon sopir dan memarahinya. Sepertinya sopir Max lupa mengisi BBM mobil ini. Max juga tidak sadar karena sejak tadi dia kurang fokus.
Leana mendengarkan Max yang memarahi orang rumah habis-habisan. Jika dalam mode seperti itu, Max sangat menyeramkan. Leana lebih baik tidak ikut campur. Dia sudah mengantuk dan ingin segera pulang.
"Cepat bawa mobil ke sini, dan aku akan share lokasinya." ucap Max di akhir telepon. Dia masih sibuk mengetik sampai tidak mempedulikan Leana.
"Le, kamu tidur dulu saja." suara Max melembut begitu bicara pada Leana.
"Aku akan temani sampai sopir datang." Leana memandangi Max yang masih sedikit emosi.
Tapi masalahnya adalah meraka tidak tau apa yang akan mereka lakukan di mobil dan juga apa yang mereka bicarakan. Di tambah, AC mobil tidak nyala dan membuat udara di dalam mobil panas.
"Udaranya panas sekali." keluh Max sambil membuka kaca jendela mobil.
"Sepertinya akan turun hujan." Leana menggunakan tangannya sebagai kipas. "Apa kita mau tunggu di luar dulu, Max?"
"Jangan." teriak Max. Meskipun di sini tidak banyak orang seperti di mall, tapi tetap saja Max khawatir.
__ADS_1
Mereka akhirnya memutuskan menunggu sopir Max datang. Leana tampak kikuk memainkan ponselnya, sedangkan Max lebih memperhatikan keadaan luar melalui spion.
1 jam menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda orang datang. Max kembali mengecek ponselnya, tapi ternyata ponselnya mati. Mau mereka menunggu sampai gajah bertelur, sopir Max tidak akan datang.
"Oh, astaga." Max mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia tidak bisa lagi berpikir jernih lagi.
"Telepon Gina, kirim sherlock padanya. Aku akan cari Bahan bakar dulu." "Ingat, jangan keluar dari mobil. Aku akan kembali secepatnya." Max memberi pesan pada Leana sembari melepaskan seat belt. Dia tidak mau hanya duduk diam dan menunggu lebih lama lagi. Max harus melakukan sesuatu.
"Jangan lama-lama Max." entah kenapa Leana tidak rela Max meninggalkan dia sendirian di tempat yang sepi ini.
"Aku hanya sebentar." Max berlari untuk mencari motor atau mobil yang lewat. Sebenarnya sulit bagi Max untuk meminta tolong pada orang lain, tapi dia tidak punya pilihan lain.
Sementara itu, di mobil, Leana semakin kegerahan. Dia sungguh merasa sesak berada di dalam mobil dengan seluruh kaca tertutup. "Aku bisa mati jika seperti ini terus." Meski sambil mengeluh, Leana berusaha untuk tidak turun dari mobil. Dia sibuk mengirim pesan pada Gina. Sudah beberapa kali Leana mengirim pesan dan meneleponnya, tapi tidak ada balasan. Pasti pelayan Max itu sudah tidur mengingat ini sudah jam 12 malam.
Suara hujan mulai terdengar. Tebakan Leana tepat. Hujan langsung turun dengan derasnya.
"Max." pekik Leana. Dia segera teringat Max ketika suara petir menggelegar di tengah derasnya hujan.
Leana kalut. Dia tidak bisa melihat keadaan luar karena wiper tidak berfungsi. Akhirnya, mau tidak mau, Leana harus turun untuk melihat apakah Max sudah datang dengan selamat. Dia cemas pada suaminya itu karena tadi pagi Gina bilang jika Max tidak suka gelap dan petir.
__ADS_1
Hujan langsung mengguyur tubuh Leana. Dia panik sampai lupa memakai payung.
Sebuah mobil putih berhenti di samping mobil Max. Suami Leana itu muncul dengan wajah pucat.
"Max, kamu gak apa-apa?" teriak Leana dalam derasnya hujan.
"Kenapa kamu keluar, Le? Aku bilang kamu di dalam. Cepat masuk!" Max tampak marah besar pada Leana.
'JEDER' suara petir kembali terdengar, membuat Max langsung menutup telinganya. Kejadian semalam terjadi lagi. Max ketakutan sampai menggigil.
"Max!" Leana memeluk Max. Dia mencoba menenangkan Max. "Aku di sini Max."
"Le, tolong.." Max mencengkram tangan Leana. Leana bisa merasakan kuku Max menancap ke kulitnya.
"Ya, kita akan pergi dari sini." Leana segera membuka tangki BBM, lalu mengisi mobil itu dengan bahan bakar yang sudah Max bawa.
Setelah selesai, Lea membimbing Max untuk masuk ke dalam. Dalam kondisi seperti ini, Leana yang harus mengambil alih. Dia yang menggantikan Max untuk menyetir. Tapi, pikiran Leana juga kacau. Dia tidak tau ke mana arah mereka dan tidak bisa bertanya pada Max. Saat ini, Max masih ketakutan pada hujan bercampur petir.
Leana akhirnya menjalankan mobil menuju hotel terdekat. Yang terpenting saat ini adalah mencari tempat yang terang dan yang bisa meredam suara hujan supaya Max tidak ketakutan lagi.
__ADS_1