Love In Trauma

Love In Trauma
Hanya aku yang tau


__ADS_3

Marco sudah putus asa dengan Max dan Leana yang memilih aksi bungkam. Max sampai tidak mau bicara sepatah katapun pada Marco. Jadi, Marco harus segera menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat Max menyekap Leana.


Pagi ini, Marco sudah bersembunyi di dalam satu mobil yang paling dekat dengan garasi. Dia menidurkan kursinya 45° ke belakang supaya waktu Max dan Leana pergi, mereka tidak tau jika Marco mengikutinya. Ya, hari ini Max akan mengantar Leana USG ke rumah sakit. Marco mendapat info itu dari para pelayan yang bercerita di dapur.


Marco berencana ingin menemui Leana di sana. Jadi, Marco nekat mengikuti Max meskipun dengan resiko dia akan dihajar oleh Max jika sampai ketahuan.


Sementara itu, Max dan Leana jalan dengan bergandengan tangan ke tempat parkir. Mereka tampak sangat mesra layaknya anak SMA sedang pacaran.


"Max, setelah ke dokter, baby nya ingin makan sate kambing."


"Itu baby nya atau kamu yang nyidam Bee?"


"2 2 nya."


Max tersenyum kecil. Dia membukakan pintu mobil untuk Leana seperti biasa, lalu sekaligus memasang seat beltnya. Setelah memasang seat belt, tidak lupa Max mengecup bibir istrinya yang manis itu.


"Max, dasar mesum. Sempat-sempatnya curi kesempatan." protes Leana dengan pipinya yang sudah merona.


"Itu namanya bukan curi kesempatan, tapi cerdik." canda Max. Ya, setelah beberapa bulan ini bersama Leana, Max merasa kehidupannya semakin membaik. Meskipun masih ada bayangan Marco, tapi Leana membuat Max lebih positif dan tenang.


"Max, kira-kira anak kita ini perempuan atau laki-laki?" tanya Leana ketika Max sudah menjalankan mobilnya.


"Emmm, aku harap laki-laki. Tapi, apapun itu, yang penting sehat." Jawab Max dengan bijaksana.


"Aku gak sabar untuk melihat hasil USG nya." Leana mengelus perut buncitnya sambil tersenyum. Baby di perut Leana itu pun merespon dengan bergerak dan menendang.


"Max, dia menendang." pekik Leana. Baby nya jarang bergerak, jadi sekalinya begerak, Leana begitu senang dan tampak bersemangat.

__ADS_1


"Dia pasti senang jalan-jalan dengan kita." ucap Max yang sudah menjalankan mobilnya.


Sepanjang perjalanan, Leana tidak henti-hentinya bercerita. Dia sudah merencanakan segala keperluan Baby nya, dan bahkan sudah menyiapkan beberapa nama Baby. Mereka seolah lupa dengan masalah yang selama ini belum terjawab.


*


*


*


Dokter Mega tersenyum melihat kedatangan Max dan Leana yang sangat mesra. Max bahkan mendorong kursi roda untuk Leana supaya wanita itu tidak terlalu jauh berjalan. Tanpa buang waktu lagi Dokter Mega melakukan USG pada Leana. Leana melewatkan trimester 2, jadi Dokter Mega juga penasaran dengan keadaan janin Leana.


"Bayinya cukup sehat dan dia berjenis kelamin perempuan." kata Dokter Mega sambil memandang ke arah monitor.


Leana bernafas lega. Dia sempat takut jika ada masalah dengan kehamilannya, mengingat di awal Leana sangat stress.


"Nona harus sering jalan-jalan ya.. supaya waktu lahiran nanti lancar." pesan Dokter Mega.


"Tuan Max, saya akan memberikan resep vitamin. Tapi, bisa saya bicara sebentar?" Dokter Mega berdiri lebih dulu, sedangkan Max menyusul di belakangnya.


"Bee, jangan ke mana-mana. Aku cuma sebentar." pesan Max sebelum menutup pintu.


Leana mengangguk. Dia bangun dari ranjang pasien untuk kembali duduk di kursi roda. Sembari menunggu Max, Leana kembali melihat foto janin yang tadi di USG.


'Ceklek' pintu terbuka.


"Max, kenapa cepat sekali?" tanya Leana tanpa menengok.

__ADS_1


"Le, ini aku." Marco melepaskan topinya.


Leana terkejut sampai menjatuhkan ponselnya. Dia langsung siaga dengan berdiri. Leana yakin ini bukan kebetulan. Marco pasti merencanakan sesuatu.


"Jangan mendekat, Ko. Atau aku akan berteriak." ancam Leana.


"Le, aku cuma mau kasih tau kamu siapa pelaku sebenarnya, ayah dari anak itu." kata Marco sambil memberi kode dengan tangannya supaya Leana tenang.


"Aku gak percaya sama kamu, Ko." Leana mundur beberapa langkah.


"Terserah." "Max menyewa Timothy untuk selidiki kasus ini. Tapi hasilnya dia tidak bisa menemukan orang itu." "Hanya aku yang tau, Le. Tapi kalau kamu gak percaya, ya sudah." Marco bersiap pergi, tapi Leana buru-buru menahan tangan Marco.


"Oke, aku mau dengar."


"Jangan di sini, Le. Max akan hajar aku jika dia liat aku di sini." "Kita ke taman, dan aku janji gak akan lebih dari 5 menit."


Leana pasrah saja ketika Marco mendorong kursi rodanya. Mereka berdua benar-benar pergi ke taman. Marco baru berhenti di tempat yang jauh dari keramaian.


"Cepat bilang apa yang terjadi Ko." kata Leana penasaran.


"Jadi, aku memang ke gudang itu, tapi ketika kamu sudah.." Marco tidak tega mengucapkannya. "Aku melihat Max tergeletak dan pria itu berdiri sedang mengambil pakaiannya."


"Siapa pria itu? Bicara yang jelas, Ko. Kalau bukan Max dan kamu, kenapa kamu gak bilang sama polisi?" Leana yang mulai emosi langsung berdiri dan mencengkram tangan Marco.


"Le,, aku gak bisa karena.."


"Kalian bicara apa?" Tiba-tiba Max datang. Dia sudah mengepalkan tangannya untuk siap menghajar Marco.

__ADS_1


"Max, kebetulan kamu di sini. Ternyata Marco tau siapa yang memperkosaku." teriak Leana sambil menunjuk ke arah Marco.


"Cepat ikut aku." Max menyeret lengan Marco dengan kasar untuk menjauh dari Leana. Mereka tidak sadar kalau ada seseorang yang mengamati mereka sejak tadi.


__ADS_2