
'BRAK' Rani mendengar suara-suara dari dalam ruangan Max. Sudah pasti bos besar sedang dalam posisi mood yang buruk. Jika sudah seperti ini, Rani tidak dapat masuk. Dia takut akan terkena sesuatu atau Max bisa berbuat nekat padanya.
Yang dapat Rani lakukan sekarang adalah menelepon kakak Max, Marcellino Scotts.
"Kenapa dia? Berita buruk apa yang dia dengar?" tanya Marco di ujung telepon. Biasa Max akan mengalami perubahan suasana hati jika dia mendengar suatu kabar yang mempengaruhinya.
"Saya gak tau, Tuan. Yang jelas, tadi Nyonya ke sini dengan istri Tuan Max. Dia memperlakukan Nona Leana seperti pembantu dan Tuan Max sangat marah." jelas Rani dengan hati-hati.
Bekerja di keluarga Scotts memang tidak mudah. Jika Rani salah bicara, dia akan terkena masalah. Meskipun Marco lebih waras daripada Max, tetap saja ada darah Scotts yang mengalir di tubuhnya.
"Minuman di lemari sudah kamu keluarkan semua, kan?"
"Sudah Tuan."
"Ya, biarkan saja. Dia akan segera membaik. Kita hanya perlu tunggu moodnya stabil." "Cek saja CCTV sesekali." perintah Marco.
"Iya Tuan. Saya akan cek."
Rani menjalankan apa yang telah di perintahkan Marco. CCTV menunjukkan Max sedang duduk di kursinya dengan pandangan tajam. Seluruh ruangan Max sudah berantakan. Laptop di meja juga patah dan tergeletak di lantai. Sambil memandang ruangan itu, Rani mencatat barang apa saja yang harus dia beli setelah ini.
*
__ADS_1
*
*
Sementara itu di dalam ruangan, Max berusaha mengontrol emosinya. Dia sangat marah dan kesal karena mendengar apa yang Bibi Marie katakan di telepon. Leana kemungkinan hamil.
Max dalam posisi sulit sekarang.
Setelah cukup tenang, Max mencari ponselnya di lantai. Dia tentu saja perlu menghubungi psikiater alias Ericka untuk menceritakan keresahannya.
"Ada masalah apa Max?" tanya Ericka to the point.
"Sepertinya aku harus bercerai dengan Leana."
"Max, coba ceritakan dulu. Kenapa kamu ingin lakukan itu." tanya Ericka dengan nada yang sudah turun 1 oktaf daripada ucapannya tadi.
"Sepertinya Mom gak suka dengan Leana. Dan.. " Max berhenti sebentar. "Aku gak siap jadi ayah."
"Max.. maksudnya apa?"
"Leana sepertinya hamil. Dan kamu tau penyakitku. Aku gak akan bisa membesarkan anak. Apalagi itu bukan anakku." ucap Max dengan lirih.
__ADS_1
"Max tunggu sebentar." giliran Ericka yang diam. Seperti Rani, Ericka tidak boleh gegabah dalam memberikan saran untuk Max. Apa yang diucapkan Max benar. Max bukan ciri-ciri orang tua yang baik. Dan dia tau latar belakang Max kenapa pria itu sampai bicara seperti tadi. Ada sesuatu yang kelam yang membuat Max mengalami penyakit bipolar. Jika sudah seperti ini, Max akan berubah pada fase depresi. Dia akan putus asa, sedih, dan tidak dapat membuat keputusan yang baik.
"Kamu yakin Leana itu hamil?" "Kamu sudah cek ke dokter?"
"Entahlah. Tante Leana mengatakan ciri-ciri orang hamil. Dia mual, pusing, lemas."
"Kalau gitu, kamu jangan panik dulu, Max. Bisa saja dia hanya masuk angin." "Bagaimana hubunganmu dengan Leana? Apa semakin baik?"
"Ya, setidaknya dia mau bicara denganku. Dan aku sudah berikan mobil untuknya." "Jujur, aku takut untuk kembali ke rumah dan menghadapi wanita itu."
"Max, kamu nikah sama dia itu keputusanmu sendiri. Kamu harus jalani sekarang. Seandainya dia memang hamil, kamu harus jaga istrimu dengan baik. Soal Nyonya Vero, jangan diambil pusing. Kamu bisa keluar dari rumah itu dengan Leana." "Sekarang, kamu cek dulu keadaan Leana di rumah. Jangan sampai kamu bicara tentang perceraian. " "Kabari aku setelah tau hasilnya."
Max menutup telepon setelah mendapatkan saran dari Ericka. Dia merenungkan kata-kata Ericka lagi. Pekerjaan ini akan mudah dilakukan jika Leana tidak trauma dengannya. Max hanya perlu mengajak Leana ke dokter. Tapi, bagaimana caranya supaya Max bisa mengajak Leana pergi? Bagaimana reaksi wanita itu jika dia tau dirinya hamil? Apakah dia mau menerimanya?
Max mengambil ponsel dan kunci mobilnya, lalu dia pergi keluar.
Rani gelagapan ketika mendengar suara pintu terbuka. Dia buru-buru menutup laptopnya supaya tidak ketahuan Max.
"Tuan, anda sudah mau pulang?"
"Bereskan semua yang di dalam. Aku minta besok semua sudah rapi seperti semula. Jangan ada yang terlewat." ucap Max sambil lalu.
__ADS_1
Rani memegangi jantungnya yang hampir copot. Untung saja semua tepat waktu. Max sungguh menyeramkan. Bagaimana bisa Leana bertahan dengan orang seperti itu? Dia yang tidak 24 jam bersama Max saja setiap hari harus mengalami spot jantung. Semoga wanita itu akan baik-baik saja.