Love In Trauma

Love In Trauma
Langkah berikutnya


__ADS_3

Makan malam bersama keluarga Dokter Andre sangat berkesan untuk Leana dan Max. Keluarga Dokter Andre sangat hangat. Sepanjang mereka makan, mereka saling bercerita banyak hal. Timothy sangat cocok dengan mertuanya. Dan mereka bercerita dari A sampai Z. Max dan Leana hanya sesekali menanggapi, sedangkan Ericka ngomel sendiri karena suaminya begitu heboh dan memalukan. Tapi, keadaan itu sangat berbeda dengan rumah keluarga Scotts yang dingin. Max tampak tidak dekat dengan Vero. Yang suka bercerita hanyalah Marco itupun jarang di tanggapi oleh yang lain.


Satu hal lagi, Max senang karena Leana menghabiskan makanannya. Dia juga tidak mual.


"Ehem." Tim berdehem melihat Max yang tidak berkedip memandangi istrinya.


"Max, aku ingin melakukan konseling dulu denganmu. Apa kamu keberatan meninggalkan istrimu yang cantik sendiri di sini?" tanya Leana setelah Daddy nya masuk ke kamar.


Max melirik ke arah Tim. "Apa suami mu bisa di percaya?" ucap Max ragu. Sejak tadi Tim juga menatap Leana.


"Tentu saja aku percaya pada Tim 100%. Dia tidak akan mungkin jadi duda 2x."


"Sayang.. jangan buka masa lalu ku." protes Tim.


"Maksudnya dia pernah menikah? Kamu menikah dengan Duda?" Max tampak tercengang mendengar pengakuan Ericka.


"Memangnya hanya kamu dan Leana yang punya masa lalu kelam?" sindir Ericka. "Psikiater juga punya masalah, Max."


"Di sana saja, supaya aku bisa mengawasi Leana." Max menunjuk ke sudut ruangan. Mereka bisa bicara tanpa terdengar oleh Leana ataupun Timothy, tapi Max masih bisa mengawasi mereka.


Ericka setuju. Dia berjalan lebih dulu, di susul Max di belakangnya.


"Leana mulai penasaran dengan masa lalu mu." ucap Ericka to the point. Saat Leana bertanya tadi, Ericka tidak menjawab karena Dokter Andre keburu memanggil mereka. Kini Ericka punya kesempatan untuk bertanya lebih dulu pada Max.


"Kamu gak beritahu dia kan?"


"Belum sempat."


"Biarkan aku yang kasih tau dia, Rick. Tapi tidak sekarang." Max memandang ke arah Leana yang sedang mengobrol juga dengan Timothy.


"Tapi aku lihat kalian makin dekat. Leana pasti akan segera sembuh." "Apa saja yang sudah kamu lakukan dengan dia?" tanya Ericka sambil tersenyum nakal.


"Kami tidur berpelukan. Dia juga menyuapi ku." kata Max sedikit bangga.


Ericka tertawa cekikikan. Max memang pertama kali dekat dengan wanita. Jadi mungkin bagi Max berpelukan dan suap-suapan itu adalah suatu prestasi besar. "Langkah berikutnya kamu tau apa kan?" Ericka mengerucutkan tangan kanan dan kirinya, lalu menempelkan itu.


"Kamu dokter jiwa atau dokter mesum?" omel Max yang jelas mengerti maksud Ericka.


"Max, santai lah. Kamu dan Leana sudah sah. Dia milikmu."

__ADS_1


"Aku takut dia akan berteriak, mencakar dan menendang ku. Harga diriku bisa hancur. Aku belum siap." kata Max tanpa malu-malu. Ya, Max tampak lebih sedikit cerewet jika bersama Ericka. Dia sudah bayar Ericka mahal, jadi dia akan menceritakan semuanya pada Ericka supaya Ericka juga pusing.


"Tapi kalau kamu gak coba, kamu gak akan tau seberapa dalam lukanya padamu." "Dan kalau kamu lakukan itu, siapa tau malah trauma Leaba bisa sembuh."


"Kamu memang aneh, Rick." "Yang ada di otak Leana, aku ini yang melakukan perbuatan bejat itu. " "Apa akhir-akhir ini pasien mu sangat banyak sampai kamu lupa dengan ku?"


"Gimana aku bisa lupa kalau setiap hari kamu atau Leana menggangguku." jawab Ericka dengan tepat.


"Sudahlah, aku mau kembali." Max yang malas berdebat dengan Ericka memutuskan pergi pada Leana. Tapi, tangan Ericka menahan Max.


"Tunggu dulu. Aku belum selesai." "Bagaimana hubunganmu dengan Mom kamu dan Marco?"


"Biasa saja. Hanya saja Marco terlihat aneh. Dia beberapa kali mendekati Leana dan Mom sepertinya belum bisa menerima menantu seperti Leana."


"Wah, banyak sekali PR Leana." "Kamu harus benar-benar memenuhi keinginannya." "Dan soal Marco, kamu tidak perlu khawatir. Dia pasti sedang menjaga Leana karena perasaan bersalah." Ericka menepuk pundak Max.


"Ya, aku harap juga begitu."


Sementara itu, Timothy dan Leana juga sedang berbincang ringan soal pekerjaan masing-masing. Leana baru tau jika detektif swasta itu memang ada.


"Ya, kalau kamu butuh bantuan, aku siap membantu, Le." tawar Tim sambil memberikan kartu namanya.


"Okay.." "Kapan-kapan kamu dan Ericka juga bisa mampir ke restoranku. Aku akan kasih gratis satu kali."


"No problem. Ericka dan Om Andre banyak membantu." Leana membalas dengan tersenyum kecil. Dia nyaman bicara dengan Tim karena dia begitu friendly seperti mantannya, Boy Setiawan. (Baca You're my Boy yaa..)


Tim mengangguk. Dia sebenarnya sedang memancing Leana untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi di gudang saat dia bersama Max. Ericka sudah memberitahu Tim jika Max mengatakan bukan dia yang menodai Leana, tapi orang lain. Itu sebabnya Tim ingin di tinggalkan berdua saja dengan Leana.


"Oh, iya Le. Bagaimana kamu bisa menikah dengan Max? Max itu orang paling sulit didekati."


Leana yang sejak tadi memainkan cangkir teh di depannya, mendadak berhenti sejenak. Dia memandang Tim dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


"Aku menikah dengannya karena sebuah kecelakaan." "Maksudku, dia itu.." "Melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan." jawab Leana sedih. Tim membuat Leana teringat lagi akan kejadian siang itu.


"Emmm, apa Max saat itu sedang kumat?" tanya Tim hati-hati. "Biasanya jika dia sedang merasakan kemarahan atau tertekan, dia tidak bisa berpikir dengan baik." "Max bahkan bisa melukai dirinya sendiri,, karena emosinya tidak stabil."


"Entahlah, Tim. Aku sangat takut waktu itu." ucap Leana lirih.


"Apa tidak ada orang lain saat itu?" "Maksudku apa Max sendiri?"

__ADS_1


"Ya, dia sendiri. Tapi aku tidak bisa melihat karena gudangnya gelap, tidak ada cahaya."


"Apakah kamu dengar ada bunyi sesuatu?"


Leana terdiam lagi. Dia tidak tau bagaimana awalnya. Yang dia ingat tiba-tiba Max mulai memaksanya setelah 20 menit dia berada di gudang itu. Percakapan yang sempat terjadi diantara mereka sebelum itupun Leana tidak ingat.


"Tim, aku gak tau." "Kenapa kamu tanyakan itu terus? Aku sedang ingin melupakannya, kamu malah bikin aku jadi mengingatnya." Leana mulai kesal dengan Tim.


"Sorry, Le. Jiwa detektif ku memang selalu membuat aku jadi seperti ini."


"Ya, tolong jangan ceritakan itu lagi, karena aku sedang berusaha menerima Max demi anak ini." Leana mengusap perutnya yang masih rata.


"Ada apa, Le?" Max datang setelah melihat perubahan sikap Leana yang tampak kesal.


"Max, aku mau pulang." Leana langsung berdiri di samping Max. Dia juga reflek memegang pergelangan tangan Max dengan kuat.


"Oke. Kita pulang sekarang." "Tim, Rick, makasi undangan makannya. Mungkin lain kali kalian harus ke rumah untuk mencicipi masakan Leana." Max menjabat tangan Ericka dan Tim bergantian.


Ericka dan Tim mengantarkan Max sampai ke depan pintu.


"Max, jangan lupa langkah berikutnya." goda Ericka, ketika Max membukakan pintu untuk Leana.


"Kamu bicara apa sih sama Max?" Tim menatap Ericka curiga.


"Aku beritahu di kamar." Ericka mengerlingkan satu matanya pada Tim. Mendapat kode dari istrinya, Tim menyambut dengan baik. Dia menggendong Ericka ala bridal dan membawa wanita itu ke kamar, meninggalkan Max.


*


*


*


Di dalam mobil, Leana juga penasaran dengan apa yang di katakan Ericka sebelum mereka pergi.


"Max, apa yang Ericka bilang tadi? Langkah berikutnya itu apa?" Lea memberanikan diri untuk bertanya pada Max.


Ditanya seperti itu, Max jadi panas dingin. "Maksudnya, Ericka ingin aku melakukan terapi. Tapi, nanti saja lah."


"Ooh.. mungkin aku bisa bantu. Katakan saja." jawab Leana polos.

__ADS_1


Max memperbaiki posisi menyetirnya. Dia yang jadi salah tingkah sendiri dengan Leana.


Di tengah momen kecanggungan itu, mobil mereka mendadak berhenti.


__ADS_2