
Leana baru bisa merasakan kenyamanan ketika sudah berendam di bathtub. Dia bisa merasakan otot-ototnya yang tegang sedikit rileks. Jika sudah seperti ini, Leana baru bisa berpikir dengan jernih.
Leana Jung.. mau dibawa kemana hidupmu ini? Biasanya orang akan punya 2 pilihan dalam hidupnya. Tapi aku hanya punya 1. Aku menikah dengan Max, orang yang membuatku trauma. Apakah aku bisa menjalani hari demi hari bersama dia?
Leana bermonolog dengan dirinya sendiri.
Leana sangat tertekan. Tapi dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang kemarin dia lakukan. Tindakan Leana yang lalu adalah sebuah kesalahan besar. Dia akan berdosa jika mengakhiri hidupnya. Leana tidak akan melakukan itu lagi hanya karena kenyataan pahit jika dia menikah dengan Max.
Leana sibuk dengan pikirannya yang begitu rumit, sampai dia tertidur. Dia begitu mengantuk setelah seharian ini mengalami banyak kejadian yang menegangkan.
"Le,, kamu masih mandi?" suara Max terdengar cukup kencang dari luar.
Leana terbangun karena suara ketukan pintu yang keras. Dia berdiri dari bathtub dan menggunakan bath robenya sebelum membuka pintu kamar mandi.
"Are you okay, Le?" tanya Max yang sedikit lega setelah melihat Leana di depan pintu.
"Apa kamu takut aku akan tenggelam di bathtub?" tanya Leana seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Max terpaku saja di tempatnya. Ucapan Leana itu benar. Max khawatir dengan Leana yang tidak keluar dari kamar mandi selama 1 jam.
"Bagaimana dengan pakaianku? Aku tidak membawa apa-apa ke sini." Leana dengan malu-malu harus mengatakan itu pada Max. Dia tidak mungkin menggunakan pakaian yang sama karena pakaian itu sudah basah oleh keringatnya.
"Aku sudah siapkan semua pakaian di walk in closet." Max memiringkan badannya supaya Leana bisa lewat dan memilih pakaiannya. Pandangan Max tidak lepas dari Leana. Wanita itu memiliki badan yang bagus, putih dan juga mulus. Tapi, yang menarik perhatian Max adalah bibir mungil Leana.
__ADS_1
Sementara itu, Leana cepat-cepat berlari ke walk in closet dan segera mengunci pintunya. Jantungnya berdetak dengan cepat saat pandangan matanya tidak sengaja bertemu dengan Max.
'Dia sangat menyeramkan.' batin Leana sambil memegangi dadanya yang masih berdegub kencang.
Leana mulai melihat-lihat pakaian di depannya. Walk in closet milik Max berasa seperti Mall mini. Max menyediakan segala jenis pakaian, sepatu, tas, jam tangan, bahkan aksesoris yang semuanya bermerk.
"Dia sangat pandai memilih pakaian."
Deretan pakaian di depan Leana membuat wanita itu kebingungan. Untuk piyama saja, Max menyediakan berbagai model dan tidak ada yang kembar. Leana memilih piyama jenis baby doll dengan warna salem.
Max bahkan dapat memilihkan ukuran yang tepat untuk Leana. Tidak terlalu longgar atau ketat.
Leana keluar setelah dia mengatur nafasnya. Dia harus terbiasa dengan Max, karena setiap hari mereka akan bertemu.
Pria itu ternyata sudah tertidur di sofa.
Leana langsung naik ke ranjang, lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Dia harus menjaga diri untuk tidak berada dekat dengan Max.
Ponsel Leana berdering menandakan pesan masuk.
Bibi Marie
Lea sayang, bagaimana keadaanmu di sana? Apakah Max memperlakukanmu dengan baik?
__ADS_1
Leana membalas chat Bibinya dengan cepat
Bibi.. aku kangen kamu Bi. Rasanya sangat tidak nyaman di sini. Aku selalu ketakutan ketika Max menyentuhku atau berada di dekatku.
Lea, kamu harus belajar melupakan masa lalu mu yang buruk dengan Max. Buatlah memori yang baik dengan Max karena kalian sudah suami istri.
Lea masih tidak percaya jika Lea sudah menikah dengan Max. Lea takut Bi kalau Max akan berbuat seperti itu lagi.
Ya, itu memang sangat wajar. Semoga waktu bisa mengobati segala lukamu. Bibi ingin melihat kamu bahagia bersama dengan Max.
Leana tidak melanjutkan chat nya. Dia lagi-lagi menangis membaca chat terakhir Bibinya. Leana hanya bingung dengan situasi ini. Seratus kalipun mencoba memahaminya, Leana tidak akan mampu.
*
*
*
Max membuka matanya. Hal yang pertama dia cari adalah Leana. Wanita itu sedang tidur sambil memeluk guling. Max sedikit lega karena setidaknya malam ini Leana tidak kabur dan bisa tidur tanpa menggunakan obat.
Max bangun dari sofa untuk mendekati Leana. Dia membungkukkan badannya untuk dapat melihat dengan jelas wajah cantik istri yang tidak bisa dia sentuh itu.
"Le, apa yang harus aku lakukan supaya kamu tidak lagi trauma?" "Apakah kita bisa menjalin rumah tangga dengan normal?" Max begitu ingin membelai rambut Leana. Tapi, dia mengurungkan niatnya karena takut Leana terbangun dan berteriak atau yang terburuk, pingsan lagi.
__ADS_1