Love In Trauma

Love In Trauma
Ingin punya anak


__ADS_3

Leana menggunakan tips dari Marco untuk mengikat Max. Dia menyambut Max dengan menggunakan lingerie yang ada di walk in closet. Max setiap malam tentu tidak menolak untuk melakukan olahraga malam dengan Leana. Meskipun setelah itu, Max akan pusing dan memikirkan kembali tentang Rani. Leana juga merasakan ada yang berbeda dengan Max. Mereka memang melakukan hubungan suami istri, tapi Max lebih banyak diam setelahnya.


Malam ini, seperti biasa, Leana sudah menggunakan kostum terbaiknya. Dia menyambut Max dengan sebuah ciuman yang mesra. Kegiatan mereka tentu segera dilaksanakan dan Leana selalu memainkan dengan baik. Leana berharap dirinya akan segera hamil lagi sehingga Max akan tetap bersamanya. Tapi selama sebulan ini, tidak ada tanda-tanda kehamilan. Leana bahkan sudah melakukan olahraga rutin juga meminum jamu supaya kandungannya subur dan sehat.


"Max.." ucap Leana ketika Max masih mengungkungnya di atas tubuhnya.


"Hmmm.."


"Aku ingin punya anak."


Max menghentikan kegiatannya yang sedang menjelajah badan Leana. Dia kaget sampai tidak sadar menekan tangan Leana begitu keras hingga Leana menjerit kesakitan.


"Max, kamu kenapa?" tanya Leana sambil memegangi tangannya yang sakit. Tangan Leana langsung lebam akibat cengkraman Max yang begitu kuat. Max juga langsung turun dari Leana. Dia masuk ke kamar mandi tanpa memberikan penjelasan.


Beberapa menit kemudian, Max keluar dari kamar mandi setelah dia cukup tenang menghadapi Leana. Dia sadar jika terlalu keras dengan Leana, bahkan sudah menyakiti wanita itu. Leana pasti kesal dan marah.


Dugaan Max benar. Leana sudah tidur dengan posisi membelakanginya.


"Le,, maafkan aku." bisik Max yang sudah tidur di samping Leana. Dia juga memeluk pinggang Leana dari belakang.


"Aku lelah Max."


"Mana tanganmu?"


"Gak apa-apa Max. Biar saja, gak usah peduli." Leana menepis tangan Max yang hendak menggapai tangannya.


Max tidak mau menyerah. Dia membalikkan tubuh Leana dan melihat tangan Leana yang lebam akibat perbuatannya. Lukanya cukup besar dan mulai menghitam.

__ADS_1


"Ayo bangun."


"Gak mau, Max."


"Le, jangan sampai aku marah lagi." peringat Max.


Leana yang tau dari ekspresi wajah Max kalau pria itu marah dan kesal, akhirnya bangun dan bersandar di headboard.


Max mengambil salep di laci, dan mengoleskan itu pelan-pelan pada Leana.


"Maaf." ulang Max. "Aku sedang banyak pikiran."


Leana diam saja. Dia bahkan melengos ke arah lain ketika Max menatapnya. Tentu saja Leana penasaran dengan apa yang dipikirkan Max. Dia juga mencurigai Rani, tapi Leana tidak bisa ungkapkan itu karena Max akan semakin marah. Emosi Max sedang tidak stabil dan Leana harus mengerti itu.


"Tidurlah dulu. Aku ingin minum di atas." Max membantu Leana untuk tidur. Dia tidak lupa menyelimuti tubuh Leana yang masih menggunakan lingerie tipis, lalu sebelum pergi Max juga mengecup pucuk kepala Leana.


Leana hanya mampu menangis ketika Max pergi meninggalkannya. Max sudah berubah dan sepertinya upaya Leana sia-sia saja.


Max pergi ke ruang atas sendirian. Dia ingin menenangkan pikirannya yang sudah sebulan ini terus menghantui dirinya. Max mengakui jika hubungan dengan Leana sedang tidak baik-baik saja sejak pengakuan dari Rani. Sekarang, Max harus mencari solusi.


"Max, kamu kemana saja." teriak Ericka saat Max meneleponnya. Sudah sebulan Max tidak menghubunginya.


"Ada masalah, Rick."


"Oh astaga. Kali ini apa lagi? Apa trauma Leana kumat?"


Max menggeleng meskipun Ericka tidak dapat melihatnya. "Aku ternyata dijodohkan dengan Rani."

__ADS_1


"Max, kamu jangan bercanda." ucap Ericka tidak percaya.


"Rick, itu wasiat dari Dad ku dan juga Dad Rani alias Tuan Jacob." "Dan Rani ingin aku bercerai dengan Leana."


Ericka diam sesaat. Max yakin Ericka juga sama terkejutnya dengan Max. Tapi, bedanya Ericka dapat mengendalikan emosinya, sedangkan Max tidak. Beberapa hari ini Max sangat sering emosi.Dia menghancurkan barang-barang di ruangan kantornya, dan ada beberapa klien yang hampir putus kontrak karena ucapan pedas dari Max.


"Leana tau?"


"Enggak. Tapi dia cemburu pada Rani. Dia sampai minta punya anak karena takut jika aku meninggalkan dia karena Rani." jelas Max sambil memijit pangkal hidungnya. Dia tau alasan kenapa tiba-tiba wanita itu minta ingin punya anak.


"Lalu, apa rencanamu setelah ini, Mr? Kamu akan menceraikan Leana untuk surat wasiat itu?"


"Rick, aku gak akan menceraikan Leana. Aku cinta dia."


"Lalu, kenapa kamu pusing? Kamu bisa bilang pada Orangtua Rani dan kamu hidup bahagia dengan Leana selamanya." Ericka membantu Max untuk membuat pilihan dengan baik.


"Rick, masalahnya itu adalah.." Max menceritakan pikirannya selama ini dan alasan kenapa dia sampai pusing dan tidak bisa seenaknya saja membuat keputusan seperti saran Ericka tadi.


"Cepat bereskan dan pilih salah satu, Max." "Setiap pilihan itu ada resikonya. Aku tau kamu takut untuk mengambil resiko itu. Tapi, jika tidak memilih, maka semua akan makin rumit dan panjang." saran Ericka setelah mendengar cerita keseluruhan dari Max.


"Aku takut gak bisa kendalikan emosiku di depan Leana jika dia menyinggung tentang Rani. Tadi saja aku sudah membuat tangannya lebam karena terlalu keras mencengkramnya." aku Max.


"Ya, itu akan terus terjadi jika kamu tidak berani melangkah." saran Ericka lagi sebelum mereka mengakhiri teleponnya.


"Arrrrgh" Max menyapu gelas-gelas yang ada di meja sampai semuanya pecah dan berserakan di lantai. Rasanya kepala Max hampir meledak. Dia seolah ditekan dari segala sisi.


"Dad, kamu sudah tidak ada, tapi kenapa kamu masih menghukumku dengan seperti ini?"

__ADS_1


__ADS_2