
Max mematahkan pulpen di tangannya. Dia begitu kesal saat melihat Leana dipegang oleh Mark. Wanita itu juga tampak pucat. Ada apa dengan Leana? Apa dia sakit? Saat Max pergi, Leana masih tidur. Max juga terpaksa meninggalkan Leana karena ada urusan urgen yang tidak dapat ditunda. Tapi belum ada 5 jam pergi, Max sudah kebakaran jenggot. Seandainya Leana tidak kumat, Max akan bawa Leana bersamanya. Lagipula Ericka sudah bilang supaya Max memberikan ruang pada Leana untuk sendiri dulu.
"Tuan, tangan anda." Rani terpaksa bicara ketika melihat darah mengucur dari tangan kiri Max akibat pecahan pulpen tadi.
"Kita balik sekarang." Max tidak mempedulikan tangannya. Saat ini dia hanya berfokus pada layar Laptop yang menampilkan restoran Leana.
"Tapi Tuan, klien anda 5 menit lagi sampai." Rani menilik jam di tangannya.
Max mengendurkan dasinya yang terasa mencekik. Ya, sebagai pemimpin perusahaan dia tidak bisa seenaknya saja membatalkan janji dengan klien. Apalagi ini di Singapore. Max harus menyiapkan pesawat dan itu juga akan butuh waktu yang tidak sebentar.
"Tuan, saya boleh obati Tuan dulu?" tanya Rani yang sudah membawa kotak P3K di tangannya.
Max tidak menjawab. Dia tidak peduli dengan tangannya. Tapi, Rani tetap mendekat pada Max untuk membersihkan luka dan memberinya perban.
"Apa kamu udah dapat infromasi tentang Mark?"
"Ya. Dia arsitek restoran Nona Leana. Mereka pacaran sejak pembangunan restoran itu."
"Aku gak tertarik dengan kisah cinta mereka." "Kenapa mereka putus?"
Rani melirik sesaat, lalu dia melanjutkan pembicaraannya tentang Mark. "Kalau saya cerita, Tuan jangan marah ya?"
"Tergantung."
"Kalau gitu, saya gak akan cerita."
"Ran, kamu harus cerita atau kamu di pecat." ancam Max dengan nada mengintimidasi.
__ADS_1
Pilihan yang sulit. Rani yakin jika dia cerita, pasti Max akan marah. Tapi kalau tidak cerita, dia akan kehilangan pekerjaannya.
"Jadi, Teman-teman Tuan Mark mengejeknya karena Nona Leana sangat kuno. Mereka pacaran, tapi Nona Leana sama sekali tidak mau disentuh oleh Mark." "Nona Leana gak sengaja dengar percakapan mereka. Jadi, mereka putus setelah bertengkar hebat."
"Pria kurang ajar!" "Tapi tentu saja Leana menolak." ucap Max sambil memperhatikan tangannya yang sudah di perban rapi oleh Rani. "Cepat selesaikan urusan kita dan aku harus kembali ke Jakarta untuk menemui Lea."
Rani mengangguk. Max sudah berubah. Rani pikir Bosnya akan meledak seperti biasanya. Tapi kali ini reaksi Max sangat berbeda. Max juga bilang kalau dia ingin pulang, padahal biasanya dia senang sekali bekerja. Ya, selama ini Max lebih suka menghabiskan waktu di kantor daripada pulang ke rumah. Pengaruh Leana pada Max ternyata besar juga.
*
*
*
Sementara itu, Leana sudah sampai di rumah bersama Gina. Gina langsung pergi ke kamar Vero karena nyonya besar itu butuh bantuan, sedangkan Leana duduk di sofa karena dia masih merasakan perutnya yang sakit. Dia mengambil ponsel untuk menelepon Max. Sejak pergi dari pagi tadi, Max tidak memberi kabar apapun. Dia malah menelepon Gina dan bukan dirinya. Sikap Max ini membuat Leana jadi kecil hati.
"Leana, kamu masak untuk makan malam. Gina akan pergi denganku." Vero yang baru turun dan mendapati Leana sedang bersantai di sofa, langsung menghampiri dia dan memberikan perintah.
"Ayo, Gin." Vero menggunakan kacamata hitamnya, lalu melenggang keluar dengan gaya anggunnya.
Leana memsatikan lebih dulu jika mertuanya itu pergi. Saat bunyi mobil terdengar makin jauh, baru Leana bergerak. Tapi, belum sampai 2 langkah, kaki Leana sudah lemas.
"Lea.." teriak Marco yang langsung menangkap lengan Leana.
"Ko, perutku sakit." keluh Leana yang sudah tidak tahan lagi.
"Ayo, kita ke dokter sekarang." Marco membawa Leana pergi keluar, tepatnya ke parkiran mobil. Marco mengambil sembarangan mobil yang ada di sana. Dia sangat panik karena Leana sejak tadi memegangi perutnya.
__ADS_1
"Kita ke dokter kandungan saja. Aku rasa ada masalah." ucap Leana pada Marco yang sudah menjalankan mobilnya.
"Ya, tolong jangan pingsan dulu. Aku panik."
Marco menjalankan mobilnya dengan cukup cepat. Dia bisa menempuh perjalanan yang seharusnya memakan waktu 30 menit, jadi 15 menit saja.
Marco langsung membuka pintu mobil untuk Leana. Pria itu ingin menggendong Leana, tapi Leana menolak. Dia hanya pinjam tangan Marco untuk tumpuannya saja.
"Dok, tolong periksa kandungannya." ucap Marco begitu suster membuka pintu ruangan praktek.
"Mana Dokter Mega?" tanya Leana pada dokter pria yang berjaga di sana.
"Dia sedang cuti.. dan saya suaminya." ucap pria itu seraya mulai memeriksa Leana. Dia melakukan USG untuk melihat perkembangan janin yang ada di perut Leana.
"Untungnya janin berkembang. Tapi, anda harus sangat berhati-hati. Tolong jangan bekerja berat dulu karena kandungan anda lemah."
"Iya, Dok." jawab Lea singkat.
"Dan satu lagi, jangan banyak pikiran." Dokter itu melepaskan kacamatanya. Dia memandang Marco dengan tatapan tajam. "Kamu harus lebih intens lagi jaga istrimu. Jangan biarkan dia kerja atau kamu bisa kehilangan anakmu."
"Aku? Istri? Anak?" tanya Marco dengan gugup.
"Ya, siapa lagi? Itu semua tugas suami."
"Ya, baik. Aku akan jaga anakku." jawab Marco dengan lantang. Dia lalu beralih pada Leana dan tersenyum padanya. "Anak kita pasti akan lahir dengan selamat."
Leana terdiam ketika melihat tatapan aneh Marco. Dia bicara dengan fasih seolah itu memang anaknya. Apa mungkin jika Marco yang..
__ADS_1
Leana menepis pikirannya. Dia sepertinya sudah berpikir terlalu jauh.
Tapi, sampai di mobil dan dalam perjalan pulang pun, Leana masih memikirkan soal ucapan Marco tadi. Dia beberapa kali mencuri pandang ke arah Marco yang menyetir dengan tenang.