Love In Trauma

Love In Trauma
Bee, i miss you


__ADS_3

"Le, apa kamu nyidam mau liat aku terus?" sindir Marco tanpa menengok ke arah Leana. Ya, sejak tadi sebenarnya Marco sudah tau jika Leana berulang kali memandanginya.


Leana yang kepergok menjadi salah tingkah.


"Eh itu.. anu.. ini kayaknya bukan jalan pulang." Leana menengok ke arah luar jendela mobil.


"Oh.. aku lapar. Aku ingin makan sesuatu. Gak apa-apa kan?"


"Emm.. aku ga lapar. Dan tadi Mom suruh aku masak. Nanti dia marah."


'Krrukk krrruk'


Perut Leana berbunyi nyaring setelah dia mengatakan tidak lapar.


Marco tertawa. Wanita memang selalu mengatakan hal yang bertentangan antara hati dan pikiran.


"Ingat kata dokter Le. Kamu harus banyak makan." "Jadi, sekarang kamu mau makan apa?" tanya Marco yang saat ini sambil sesekali menengok ke arah Leana.


"Terserah saja."


"No. Aku gak akan berhenti kalau kamu gak pilih sesuatu."


"Aku ingin makan sandwich di subway." ucap Leana malu-malu.


"Kol." jawab Marco yang berarti setuju dalam bahasa Korea. "Itu makanan kesukaanku." "Aku rasa bayinya cocok denganku."


Lagi-lagi Leana merasa ada yang ganjil dengan Marco. Tapi untuk saat ini, Leana memilih diam. Dia hanya memegang seat beltnya dengan erat sambil memandang keluar dan tidak melihat Marco lagi.


Sesampainya di subway dan memesan makanan, mereka duduk berhadapan di meja paling pojok dekat pintu masuk.


Leana langsung memakan sandwichnya dengan lahap. Sejak tadi pagi Leana belum makan, jadi dia bisa memakan 2 porsi sekaligus malam ini. Dokter juga tadi sudah memberi Leana obat untuk mengurangi rasa mual dan itu membuat Leana bisa makan dengan tenang.


"Pelan-pelan, Le. Aku gak akan minta makananmu."

__ADS_1


Leana tidak menjawab karena sibuk mengunyah.


"Apa kamu dan Max berantem?" tanya Marco di sela-sela makannya.


"Enggak, memang kenapa?" jawab Leana singkat.


"Ya, karena ponsel Max mati. Tadi aku mau telepon dia untuk kasih tau kalau kamu pergi ke dokter, tapi gak aktif." "Ponsel Rani juga gak aktif."


Leana menghentikan makannya. Marco sangat pintar untuk membuat pikirannya kacau.


"Ko, apa kamu mau bikin aku dan Max salah paham?" tanya Leana to the point. Setiap bicara dengan Marco, Leana selalu teringat akan trauma nya dan membuat hubungan dia dengan Max jadi renggang.


"Kenapa kalian selalu menuduh tanpa bukti seperti itu?" "Aku bicara kenyataan, Le. Max itu pria dan Rani wanita. Mereka pergi berdua dan ponselnya gak aktif. Apa kamu gak curiga?"


"Bukan itu masalahnya, Ko." "Kamu tau apa yang bikin aku trauma, dan sepertinya kamu senang ungkit-ungkit itu." jawab Leana dengan nada cukup tinggi. Suara Leana itu juga mengundang beberapa orang untuk menengok ke arah mereka.


"Astaga,, kamu makin mirip Max saja. Pantas saja kalian itu cocok." Marco menyandarkan badan di kursinya sambil bersedekap. Dia kesal karena selalu dituduh oleh Max dan istrinya itu.


"Gudang? Kamu tuduh aku kalau..." Marco kelihatan gugup dan tidak mau melanjutkan kata-katanya.


"Aku mau pulang." Leana menyambar tasnya dengan buru-buru. Dia keluar dengan langkah gontai, meninggalkan Marco yang masih duduk tanpa bicara apapun.


*


*


*


Rumah keluarga Scotts


"Dari mana aja kamu?" Vero mencegat Leana yang baru datang dan melewatinya begitu saja tanpa memberikan salam.


"Mom, Leana gak punya tenaga lagi untuk debat." ucap Leana lirih.

__ADS_1


"Siapa yang ajak debat? Mom cuma tanya, kamu darimana?" ulang Vero.


"Pergi ke dokter dengan Marco."


"Marco? Kenapa pergi dengan dia, bukan Max?" Vero mengendurkan pegangan tangannya pada Leana.


"Mom saja bingung, apalagi aku." "Tanyakan saja sama anak Mom itu." "Maaf Mom, Lea mau ke kamar dulu, atau cucu Mom gak akan selamat." ucap Leana dengan penuh arti.


Vero mengangguk pelan. Dia membiarkan Leana pergi dengan perasaan bingung. Sebenarnya tadi Vero mau mengomel karena Leana tidak menuruti dia untuk memasak makan malam, tapi semua buyar setelah Leana bicara tentang Marco.


Leana melemparkan tas sembarangan, lalu dia membuka cardigannya. Leana juga melepaskan celana jeansnya sehingga menyisakan celana pendek dan tank top saja.


"Sudah makannya?"


"Astaga, Max." Jantung Lea hampir copot ketika dia menengok ke arah pintu kamar mandi. Max berdiri dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


Lea juga sadar dengan keadaannya yang minim pakaian. Dia langsung menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.


"Aku sudah liat semuanya, jadi gak perlu malu." ucap Max santai. Dia berjalan mendekat dan berhadapan dengan Leana.


"Kapan kamu balik? Katanya beberapa hari?"


"Kamu gak suka kalau aku balik? Kamu ingin aku pergi?"


"Bukan gitu Max, tapi.."


"Bee, i miss you.." tanpa banyak bicara, Max memeluk Leana. Dia ingin tau apakah Leana masih trauma padanya atau tidak.


Leana tentu saja tidak menolak Max. Dia sangat butuh pria itu, khusunya untuk saat ini. Sejak pagi, Leana terus memikirkan Max. Dia takut Max kecewa dan marah padanya, tapi sepertinya dari perlakuan Max, pria itu tidak marah padanya.


"Max.. aku.."


"Ssst. Diam dulu. Biar aku peluk kamu sebentar lagi." "Setelah itu baru kita bicara." Max memotong ucapan Leana sambil mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2