Love In Trauma

Love In Trauma
Memeluk Max


__ADS_3

Malam hari hujan turun deras. Untung saja rumah Max besar dan luas sehingga dia tidak terlalu mendengar suara hujan yang beradu dengan suara genting rumahnya. Max juga terlihat tidur dengan nyaman. Tapi, yang tidak nyaman di sini adalah Leana. Dia sudah mengecek suhu Max dengan memegang dahinya. Panas Max masih belum turun juga. Leana menelepon Gina untuk membawakan baskom dengan air es.Dia berencana untuk mengompres Max.


"Dokter itu bohong. Panasnya belum turun juga." keluh Leana. Dia sejak tadi hanya mondar mandir di kamar Max karena bingung harus mengerjakan apa. Max juga tidur seperti orang mati. Dia bangun untuk makan dan minum obat, lalu lanjut tidur lagi seperti saat ini.


Tak lama Gina datang membawakan pesanan Leana. Dia tetap tinggal sebentar disitu untuk melihat keadaan Max.


"Dia tidur kan? Bukan mati?" canda Gina.


"Sepertinya tidur." "Thanks Gin."


"Nona, apakah baju Tuan Max basah? Kalau basah, tolong di ganti." Gina sebenarnya mencari cara supaya Leana tidak takut lagi dengan Max dan bisa dekat dengannya.


"Nanti aku cek." Leana mengambil handuk kecil, lalu mengompreskan pada dahi Max.


"Aku tinggal dulu, Nona. Anda juga istirahat ya. Anda keliatan lelah sekali. Tidur saja di samping Tuan Max." saran Gina lagi. Gina segera meninggalkan Leana sembari dia membawa piring bekas makan malam Tuannya itu.


'Tidur di samping Max? Mana mungkin aku bisa.' batin Leana sambil tertawa putus asa. Mungkin mereka adalah pasangan suami istri teraneh sedunia. Leana perlu terus membiasakan diri dengan Max, tapi untuk tidur satu ranjang, Leana masih sedikit trauma.


Sibuk dengan pikirannya sendiri sambil memandangi Max, Leana sampai ketiduran di samping Max. Tapi, setiap mendengar suara petir, dia terbangun untuk mengecek Max.


Tubuh Max masih panas. Tapi keringatnya mengalir deras membasahi pelipisnya. Alis Max juga berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa dia? Apa dia mimpi buruk?" Leana sedikit membungkukkan badan untuk mengelap wajah Max dengan tisu.


'JEDER.' suara petir kembali terdengar begitu keras sampai jendela kamar mereka bergetar. Bersamaan dengan itu lampu padam.


Leana merasakan seseorang mencengkram tangannya begitu kuat. Dia tentu tau siapa pelakunya. Max. Leana kembali teringat kejadian di gudang yang persis dengan kejadian saat ini. Dia buru-buru melepaskan tangan Max.

__ADS_1


"Jangan..aku mohon.. jangan tinggalkan aku." suara yang parau itu terdengar begitu menyedihkan.


"Max, kamu kenapa?" dalam kondisi seperti ini, seharusnya Leana yang trauma. Tapi, Max terdengar begitu ketakutan.


"Tolong, Dad.. jangan pergi."


"Max, ini aku Leana."


Entah apa yang terjadi, tapi Leana merasakan tangan Max menariknya begitu kuat hingga Leana terjatuh di ranjang. Leana bisa merasakan nafas Max yang memburu karena saat ini tubuh mereka begitu dekat.


"Max,," tidak ada kata lagi yang mampu Leana ucapkan. Saat ini Max sudah memeluknya sambil menangis. Tangisan pilu itu membuat rasa takut Leana pada Max lenyap dan berganti menjadi rasa prihatin. Dia akhirnya membiarkan Max memeluknya.


Mereka berdua dalam posisi itu sampai Leana lupa akan rasa traumanya. Padahal mereka saat ini sedang berpelukan. Leana pun bingung kenapa dia bisa sedekat ini dengan Max. Dia juga tidak berusaha melepaskan diri dari pria yang membuatnya trauma itu.


"Apa kamu ingin dekat dengan Daddy?" ucap Leana sambil berpikir. "Apa mungkin dia senang jika orang tuanya bersama seperti ini?" "Ya, ini pasti bawaan baby nya."


Leana tidak bisa memandang wajah Max karena terlalu gelap. Dia hanya mendengarkan Max yang mengigau memanggil Daddy nya dan meminta tolong. Dan sekarang yang bisa Leana lakukan adalah mengusap punggung Max.


Dering telepon membuat Max tersadar. Dia meraba nakas untuk mencari sumber suara yang berisik itu. Max berhasil menggapai ponselnya tanpa membuka mata.


"Halo" ucap Max setengah sadar.


"Tuan, saya di depan kamar anda."


"Masuk saja Ran. Bukankah kamu punya kunci cadangan?"


Max bisa tau siapa yang menelepon hanya dengan mendengar suaranya saja. Telepon itu dari Rania alias sekretaris Max. Dia memang punya kunci cadangan ruangan kantor dan kamar milik Max. Marco sengaja memberikan Rani kunci-kunci itu supaya dia bisa dengan mudah masuk jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

__ADS_1


'Ceklek.' pintu terbuka.


"Astaga." pekik Rani. Dia langsung menutup matanya melihat pemandangan yang berada di depan matanya.


Max baru membuka mata. Dia memandang ke bawah, tepatnya ke arah seseorang yang sedang memeluknya saat ini. Leana bahkan memeluk Max dengan erat. Posisi mereka begitu intim membuat Rani kaget dan malu sendiri.


Max sempat shock. Apalagi Leana mulai mengulet dan membuka matanya. Pandangan mereka bertemu sesaat, tapi Leana buru-buru menjauhkan diri dari Max dan duduk membelakanginya.


"Sorry.." kata Leana lirih.


"No problem Le." jawab Max singkat.


"Apa kamu sudah sembuh?" Leana bicara dengan setengah menoleh ke belakang.


"Sepertinya berkat pelukanmu, aku sudah sembuh." jawab Max penuh arti.


"Maaf, Tuan. Sepertinya saya datang di saat yang tidak tepat. Saya lupa jika anda sudah.. menikah." Rani menginterupsi percakapan mereka. Tujuannya tentu saja untuk pamitan pergi.


"Kamu sudah di sini. Jadi, bilang saja ada apa. Jangan buang waktu ku." kata Max sembari melepaskan pakaiannya yang basah.


"Emm.. hari ini jadwal anda ke kantor polisi untuk melapor." jelas Rani sambil menunduk. Dia tidak bisa melihat badan Max yang terlalu bagus. Imannya bisa tergoda.


"Aku sebaiknya mandi dan sarapan dulu."


"Aku akan buat sarapan." Leana menemukan celah untuk kabur. Dia sempat berhenti ketika berada di depan Rani. Sekretaris Max itu juga memandang Leana, lalu dia membalas dengan senyuman.


"Max harus bersiap, sebaiknya kamu juga turun dan tunggu di bawah." kata Leana sambil berlalu.

__ADS_1


"Eh, iya.." Rani buru-buru mengikuti Leana untuk keluar dari kamar Max. Dia sepertinya harus memasukkan dalam otaknya jika Max sudah menikah dan sepertinya Leana adalah tipe pencemburu.


__ADS_2