Love In Trauma

Love In Trauma
Bekas merah


__ADS_3

Ericka menutup telepon dengan lesu. Dia yang sudah dalam posisi tidur, langsung bersandar pada headboard. Timothy yang melihat keresahan istrinya itu jadi ikut bangun untuk bertanya pada Ericka.


"Kenapa dengan Max?" tanya Tim yang sempat mendengar percakapan mereka.


"Max cerita jika Leana trauma lagi. Padahal mereka sudah mulai mengungkapkan perasaan lewat ciuman." keluh Ericka sambil memijit pangkal hidungnya. Max sepertinya adalah pasien abadi Ericka. Semua yang Ericka tangani bisa perlahan membaik. Bahkan suaminya sendiri pun bisa mengatasi rasa trauma berkat bantuan darinya.Tapi, untuk kasus Max itu sudah berlangsung terlalu lama. Dari kecil Max sudah berobat ke psikiater lain, sedangkan Ericka melanjutkan saja. Dia sudah menangani Max 6 tahun belakangan ini, dan sepertinya kasus Max makin rumit setelah dia menikah dengan Leana. Max hampir tiap saat menelepon Ericka. Untung saja Timothy mengerti pekerjaan istrinya. Jadi dia tidak masalah jika Max membutuhkan konsultasi dengan Ericka kapan saja.


"Kira-kira kenapa dia bisa kayak gitu? Maksud aku bisa kumat lagi." tanya Tim.


"Ya, dia pasti ingat tentang orang yang memperkosanya."


Tim membenarkan posisi duduknya sambil menatap Ericka.


"Aku sebenarnya menemukan suatu petunjuk tentang pria yang memperkosa Leana, tapi itu belum pasti." ucap Tim dengan lirih. Dia seharusnya tidak boleh menceritakan ini pada Ericka karena semua belum pasti, tapi Tim kasihan pada Ericka yang pusing mengurus Max dan Leana.


"Siapa orangnya? Kalau ketemu aku akan jambak rambutnya." Ericka meremas selimut yang dia pegang.


"Ada 2 orang yang berada di gudang itu di hari yang sama."

__ADS_1


"Ada 2? Gila.." Ericka tidak bisa menahan rasa terkejutnya mendengar pengakuan Tim. "Kasih tau aku Tim."


"No. Sampai sini saja spoilernya."


"Tiiiiim.. nanggung banget gak sih." "Aku selalu cerita tentang pasienku sama kamu, tapi kamu pelit sekali." cecar Ericka. Dia kesal dengan suaminya yang selalu menyimpan rapat sebuah rahasia.


"Kalau mau tau, ada pajaknya." Tim tersenyum penuh arti.


"Tim, hari ini cukup. Aku mau tidur." Ericka yang langsung tau maksud Tim segera merebahkan badannya lagi seperti posisi awal dan menarik selimutnya rapat-rapat. Dia lelah kalau Tim minta jatah. Pasti tidak akan bisa sebentar.


"Nite sayang." Tim mengecup pucuk kepala Ericka dengan lembut. Sebenarnya ini hanya trik Timothy supaya Ericka tidak banyak bertanya lagi tentang identitas orang yang kemungkinan memperkosa Leana.


Leana terbangun dan mendapati ranjangnya kosong. Dia tentu ingat peristiwa yang terjadi semalam. Leana tidak tau kenapa bayangan itu kembali muncul, tapi yang pasti adalah dia pasti membuat Max kesal dan kecewa.


"Nona, anda sudah bangun?" Gina datang membawakan nampan berisi sarapan. Bubur ayam dan teh hangat.


"Gin, mana Max?" tanya Leana sembari menyandarkan diri pada headboard nya.

__ADS_1


"Tuan sudah berangkat pagi-pagi sekali. Katanya ada kerjaan di luar kota." jelas Gina sesuai dengan pesan Max beberapa jam yang lalu.


Ada rasa sedih dalam hati Leana. Max pergi tanpa berpamitan padanya. Tapi, ini juga sesuatu yang baik karena Leana bisa menata lagi hatinya untuk menerima jika anak ini bukan anak Max dan juga bukan pria itu yang telah menyentuh Leana.


"Gin, aku mau pergi ke restoran hari ini."


"Tapi, nona.. anda belum sehat.." Gina tampak keberatan dengan ide Leana untuk pergi ke restoran. Max pasti akan sangat marah jika Leana keluar dengan kondisi yang kurang baik setelah peristiwa yang terjadi semalam.


"Aku mandi sebentar." Leana bergerak ke kamar mandi. Dia segera menutup pintu sebelum Gina mengikutinya juga. Dia sudah tau jika pelayan Max itu pasti akan mengikutinya bahkan ketika Leana mandi. Leana dapat dengan jelas melihat pantulan dirinya di cermin. Dirinya tampak menyedihkan. Wajah Leana kusam karena kurang terawat. Rambutnya kusut dan tidak ada senyuman lagi pada bibirnya. Tapi, tatapan Leana berhenti pada lehernya yang merah dan dia menemukan bekas yang sama di beberapa bagian lain. Itu tanda yang di buat oleh Max.


Dengan cepat, Leana mengambil shower puff, lalu menggosok itu dengan keras supaya tanda merah itu hilang. Tapi sekeras apapun upaya Leana, bekas itu tidak akan hilang dengan sabun. Leana terduduk lemas di lantai sambil kembali menangis. Dia jadi membenci dirinya sendiri karena teringat akan bekas yang sama setelah kejadian itu.


"Nona...aku perlu masuk?" Gina mengetuk pintu dari luar.


"Gak perlu Gin. Aku akan keluar setengah jam lagi." teriak Lea dengan suara serak.


"Siapa pria itu? Siapa ayah dari anak ini? Aku gak akan pernah memaafkannya dan pasti akan aku masukan dalam penjara!"

__ADS_1


__ADS_2