
Max melepaskan Leana setelah menyalurkan rasa rindunya pada istrinya itu. Dia langsung membawa Leana ke ranjang, supaya Leana bisa istirahat. Ya, Max sudah tau semua yang terjadi pada Leana hari ini. Dia tau soal Mark, juga soal Marco yang membantu Leana ke dokter dan makan di subway. Max tau semua itu dengan bantuan dari Timothy yang sedang menyelidiki kasus Leana.
"Le, apakah kamu masih trauma denganku?" tanya Max dengan lembut. Dia hanya bicara seperti itu pada Leana. Jika dengan orang lain, Max tidak akan menggunakan suara pelan dan bahasa yang di tata dengan baik.
Leana menggeleng lemah. Justru Max sudah banyak sekali berkorban untuk Leana.
"Le, aku ingin kamu jujur meskipun itu akan membuat aku sakit." bujuk Max lagi.
"Aku sudah tau kalau bukan kamu yang melakukan perbuatan itu." "Dan.." Leana memberi jeda sebentar. "Anak ini bukan anakmu." Leana bicara tanpa berani memandang Max.
Max terkejut. Jadi, kemarin Leana ketakutan karena dia sudah tau jika bukan Max yang menyentuhnya. Ini sesuatu yang bagus untuk Max. Setidaknya pandangan Leana pada dirinya berubah. Tangan Max terulur untuk mengangkat dagu Leana supaya wanita itu memandang dirinya.
"Kenapa kamu mau menikahiku, Max? Apa karena kamu kasihan dan ingin bersihkan nama baikmu saja?" tanya Lea dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bee.. dengar." "Aku akan bertanggung jawab. Dan meskipun ini bukan anakku, aku akan tetap sayangi dia sampai kapanpun karena aku juga sayang kamu."
"Max.." Leana sudah menangis. Dia sedih dengan hidupnya sendiri yang sungguh berantakan. Seharusnya dia senang dengan pernyataan Max, tapi sebaliknya Leana merasa bersalah dan kecewa pada dirinya sendiri.
"Le, aku tau ini konyol, tapi aku terima kamu apa adanya." jelas Max lagi. Dia harus meyakinkan Leana jika Max tidak masalah dengan masa lalu Leana dan trauma yang membayanginya setiap saat.
"Meskipun aku gak bisa melayani kamu sebagai seorang istri?" tanya Leana di tengah isak tangisnya.
"Ya, aku gak akan paksa kamu. Aku akan tunggu sampai kamu yang lebih dulu memulainya."
Leana memeluk Max dan menangis di dalam pelukannya. Max mengusap punggung Leana dengan lembut.
"Jika kamu ingat sesuatu, kamu bisa kasih tau aku atau Ericka." bisik Max.
Leana mengangguk perlahan. Kini dia mulai bisa mengontrol emosinya setelah mendapat jaminan dari Max.
__ADS_1
"Apa kamu pergi dengan Rani?"
"Hmm.. iya.." Max mengurai pelukannya. Dia membantu Leana membersihkan sisa air mata di wajah Leana. "Apa kamu cemburu?"
"Cemburu?" Leana melengos dari tatapan Max. Tapi wajahnya pasti sudah bersemu merah.
Max tersenyum kecil melihat Leana salah tingkah karena cemburu pada sekretarisnya.
"Bee, gak ada yang aku suka selain kamu." "Kalau kamu gak suka Rani, aku akan pecat sekarang juga."
"Aku sangat beruntung punya suami seperti kamu, Max." Leana memegang pipi Max. Dia berusaha menepis keraguannya. Dan Leana mulai mencium Max lebih dulu. Dia ingin mencoba lagi apa yang kemarin tertunda. Sekarang mereka berdua hanyut dalam ciuman yang panas dan memabukkan.
"Apa kamu siap?" tanya Max sambil memandang Leana dengan intens.
Leana mengangguk dengan yakin. Max kembali menciumnya, tapi tiba-tiba bayangan itu kembali muncul lagi. Leana mendorong Max dengan kuat. Dia segera bangun dan duduk di tepi ranjang dengan nafas terengah-engah.
"Le, ada apa?" Max memakai kembali handuknya yang sudah terlepas.
"It's okay. Kamu lebih baik mandi dulu. Aku siapkan air hangat." Max mengecup pucuk kepala Leana, lalu dia pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk istrinya.
"Mata itu.." Leana bermonolog sendiri. "Ini gak mungkin." "Apa yang harus aku lakukan?"
"Bee, airnya sudah siap." teriak Max dari dalam kamar mandi.
Leana beranjak dari ranjang untuk menyusul Max yang masih berada di kamar mandi. Dia sangat menyesal ketika melihat Max yang sedang mengecek air yang ada di bathtub. Sudah 2x mereka gagal making love. Sebagai pria, Max tentu akan kecewa. Tapi, nyatanya pria itu masih bisa tersenyum dan berbaik hati padanya.
"Max, aku minta maaf." ucap Leana lirih.
"Sudah berapa kali aku bilang,, Aku gak akan paksa kamu."
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakuin untuk menebus kesalahanku, Max?"
Max berbalik. Dia mencoba untuk tetap tenang dan bersikap wajar.
"Jaga kesehatanmu dan juga anak kita." "Jangan bekerja lagi di restoran untuk sementara waktu." "Jangan dekati Marco atau pria lain."
"Banyak sekali, Max." protes Leana.
"Jadi, gak diterima syaratnya?" Max memicingkan satu matanya.
"Iya.iya.. aku akan lakukan itu, sayang."
"Sayang?" Max tersenyum senang mendengar Leana yang memanggilnya dengan mesra. Itu sedikit mengobati rasa sesak dalam diri Max.
"Sekarang biarkan aku mandi dulu." Leana mendorong tubuh Max untuk segera keluar dari kamar mandi.
Setelah Max keluar, Leana langsung merosot di belakang pintu. Kakinya lemas setiap mengingat orang itu, yang kemungkinan telah menyentuhnya.
Sementara itu, Max berjalan dengan gontai ke ruang bawah tanah. Dia harus melampiaskan emosinya pada hal lain, kalau tidak dia akan meledak.
Max mengambil busur panah dan anak panahnya, lalu mulai melakukan hobi panahannya. Semua anak panah Max tidak ada yang meleset satupun.
"Jadi, Max.. ada 2 tersangka. Tapi aku tidak tau siapa yang satunya." percakapan dengan Tim kembali berputar dalam otak Max.
"2? Siapa yang kamu tau?"
"Kakakmu."
"Aku harus menghajar dia."
__ADS_1
"Tunggu, Max. Kalau itu gak benar, kamu bisa masuk penjara dan Leana akan makin stress." "Dan aku bilang ada 2 orang yang pergi ke gudang itu. Aku harus cari yang satunya. Kamu bersabarlah sebentar. Lebih baik kamu jaga Leana dan juga anaknya." pesan Timothy pada Max.
Max memejamkan matanya memikirkan apa yang akan dia lakukan jika memang Marco yang melakukan perbuatan bejat itu. Apa dia bisa berpura-pura biasa saja pada Marco?