
Max membuka pintu kamar dengan hati-hati. Dia harus mengecek Leana di dalam. Kamar Max tampak kosong. Max mencari Leana di setiap sudut. Dia mencari di walk in closet, balkon dan kamar mandi. Tapi Leana tidak ada.
"Le.. Leana.." teriak Max panik. Dia keluar dari kamar. Jika Leana tidak melompat, itu artinya Leana pergi dari rumah ini.
Vero memandang Max dari bawah yang berteriak-teriak seperti orang gila.
"Memang anak keras kepala. Kenapa juga menikah dengan wanita itu?" ucap Vero sinis.
Max berlari dan mengecek satu persatu ruangan. Leana tidak ada dimanapun. Max mengambil ponsel di saku untuk mengecek CCTV di setiap sudut rumah. Cara ini lebih praktis daripada berlari-lari tidak jelas. Max meneliti setiap kamera. Dan akhirnya Max menemukan gadis itu di ruang bawah tanah, tepatnya di shark aquarium. Max menekan pintu lift dengan tidak sabar. Dia harus menyusul Leana sebelum wanita itu kabur lagi.
'Ting' pintu lift terbuka. Max sampai di shark aquarium yang menyerupai mini seaworld. Aquarium miliknya memang tidak sebesar seaworld, tapi itu berisi hiu-hiu berukuran sedang dan beberapa ikan laut lainnya. Tempat itu sangat dingin dan tenang. Max sering menghabiskan waktu di sini untuk sekedar memandang ikan hiu miliknya sekaligus menenangkan pikiran.
Dia menemukan Leana sedang memandang ikan miliknya juga. Dia tertawa kecil melihat ikan pari yang menari di depan matanya.
Max terpana melihat kecantikan Leana yang sedang tertawa. Tapi, dia segera menyadarkan diri lalu menghampiri wanita itu dengan hati-hati.
"Leana." panggilnya.
Ekspresi Leana langsung berubah begitu melihat Max sudah berada di situ.
"Jangan mendekat." ucap Leana sembari mundur teratur.
"Tenang Le, aku tidak akan menyakitimu." Max tidak mendekat dan tetap diam di tempatnya. "Aku hanya ingin memanggilmu untuk makan malam."
"Aku tidak mau."
__ADS_1
Max mencoba untuk tenang. Dia harus ingat perkataan Ericka. Leana sedang terluka. Dan lukanya cukup dalam. Max tidak boleh menambahkan garam pada luka Leana, sebaliknya dia harus membalut luka yang dalam itu dengan perban. Meskipun bukan Max yang menodai Leana, tapi Max ikut andil juga. Jika saja Max tidak menuruti ide konyol Marco, semua tidak akan terjadi.
"Le, tolong percaya padaku. Aku tidak akan menyentuhmu, jadi kamu tidak perlu takut." Max mencoba kembali berkompromi dengan Leana. "Kita ini sudah suami istri dan harus saling percaya satu sama lain." lanjut Max
"Sampai kapanpun aku tidak akan sudi jadi istrimu."
Ucapan Leana yang keras dan menyakitkan itu tentu saja membuat tekanan darah Max naik. Baru kali ini ada wanita yang bicara begitu kasar pada Max. Jika Leana tidak dalam keadaan trauma, Max pasti sudah menyeret wanita itu ke atas. Tapi, kali ini Max harus menggunakan akal sehatnya.
"Aku akan naik lebih dulu. Jika kamu tidak naik ke atas dan menyusul, aku akan kembali membawa makanannya ke sini." ucap Max dengan penuh penekanan. "Sekarang terserah padamu."
Setelah Max menyelesaikan percakapannya dengan Leana, Dia masuk kembali ke dalam lift tanpa mengalihkan pandangan dari wanita itu.
Leana bernafas lega setelah Max menghilang. Dia melihat ada kemarahan dalam wajah Max. Pria itu benar-benar mengerikan. Bagaimana Leana bisa melanjutkan hidupnya setelah ini? Dia tidak akan bisa menghindar dari Max. Dan Max benar. Mereka sudah terikat dalam status suami istri.
Leana sudah tidak bisa menangis lagi. Ericka juga tidak mau memberikan dia obat. Dan Bibi Marie tidak dapat dihubungi. Leana harus berlatih untuk tidak mengkonsumsi obat penenang dan obat tidur. Jadi sekarang jalan satu-satunya, Leana harus menghadapi ini semua.
*
*
*
Ruang makan masih kosong. Leana menengok ke seluruh ruangan. Penghuni rumah ini belum terlihat batang hidungnya. Dia lalu berjalan ke dapur karena mencium bau makanan yang sangat enak.
Gina hampir berteriak mendapati Leana berada di dapur. Apalagi penampilan Leana cukup menyedihkan dengan kantung mata yang menghitam bagai panda.
__ADS_1
"Nona, jangan ke sini. Nanti saya dimarahi Tuan Max." ucap Gina ketakutan.
"Apa yang sedang anda bikin?" tanya Leana pada Gina.
"Saya sedang bikin Salmon steak asparagus untuk main course." jelas Gina dengan takut-takut.
"Lalu, appetizer dan dessertnya?"
"Saya hanya bikin lemon garlic butter scallops dan untuk dessert nya es krim saja yang praktis."
"Boleh aku bantu?" Leana merasa bersemangat ketika melihat makanan yang akan di plating.
"Nona, nanti saya di marahi." Gina menahan tangan Leana yang hendak memegang piring.
"Pria itu tidak akan memarahi Bibi." Leana mengambil piring yang cantik dalam rak untuk hidangan yang akan di sajikan.
Dengan cekatan, Leana menyusun tomato cherry dan sayuran di tengah piring, lalu menaruh 2 biji scallops dalam tiap piring. Setelah itu, dia menaburkan parsley dan menaruh edible flowers di atasnya. Gina begitu takjub dengan daya kreatif Leana yang membuat hidangan mereka menjadi bak di restoran bintang 5. Leana meminta Gina untuk menyingkirkan piring appetizernya. Dia kemudian memoleskan saus steak secara menyilang di tengah piring. Leana mengambil mashed potato, lalu menaruh steak salmon di atasnya. Sedangkan asparagusnya, Leana menaruh itu di pinggir.
Gina dan pelayan lainnya mengerubungi Leana karena mereka berasa menonton masterchef secara live.
Setelah selesai untuk main course nya, Leana berpindah pada dessert. Dia mengambil gelas dan mengisinya dengan potongan buah-buahan. Dia juga mencincang kacang mete yang ada di toples, menaruhnya jadi satu, lalu menuangkan greek yogurt.
"Untuk dessertnya, Bibi tinggal beri es krim saja di gelasnya." Leana tersenyum pada Gina setelah menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
"Wah, nona luar biasa." Gina bertepuk tangan. Begitu juga pelayan yang ada di dapur. "Apa nona memang suka menghias seperti ini?"
__ADS_1
"Saya ini chef, Bi." Leana melepas apronnya, lalu kembali ke depan dengan perasaan jauh lebih baik.