Love In Trauma

Love In Trauma
Kembali trauma


__ADS_3

Leana merasakan sentuhan di bibirnya. Tanpa membuka mata pun, dia tau Max saat ini sedang menciumnya. Pikiran Leana menyuruh dia untuk berhenti dan mendorong Max, tapi badannya justru tidak mau berkompromi. Leana membalas ciuman Max.


Lama mereka saling berciuman panas sampai Leana benar-benar tersadar. Dia bangun dari tubuh Max, lalu dia pura-pura menengok ke arah lain.


"Kamu tidur seperti orang mati. Aku khawatir, jadi terpaksa harus mengunakan cara yang tadi." jelas Max sembari merapihkan jasnya yang kusut karena tadi mereka berguling di ranjang bertukar posisi. Ya, Max sangat senang karena Leana 100 persen sudah bisa menerimanya. Dia yakin karena tadi Leana begitu hot menciumnya. Max pikir mungkin Leana sedang bermimpi, tapi ketika pandangan mereka bertemu, Leana tetap melakukan itu seolah Max adalah makanan yang lezat.


"Max, aku mau pulang." kata Leana singkat. Dia mengambil tas di nakas, lalu berjalan keluar tanpa mendengarkan jawaban Max.


Max buru-buru mengikuti Leana. Dia terlihat begitu gugup. Padahal jelas-jelas mereka sudah melakukan ciuman berulang kali beberapa hari ini.


Ketika Max keluar, Leana sudah membuka pintu ruangan kerjanya.


"Bee.. tunggu." teriak Max. Dia berlari mengambil kunci mobil, lalu bergegas mengejar Leana.


'Kenapa buru-buru?" Max sudah berhasil mengejar Leana dan merangkul pundak istrinya seperti biasa.


"Hah? Gak apa-apa.. Aku memang cape aja." jawab Leana sambil mencoba tersenyum.


"Sepertinya kamu sembunyikan sesuatu." Max berhenti, membuat Leana juga otomatis berhenti. Dia menghadapkan Leana ke arahnya.


"Sebelum jelaskan, kita gak akan pulang."


"Max,,,aku cape." jawab Leana tegas.


Max mencoba positif. Dia kembali berjalan bersisian dengan Leana menuju tempat parkir dan menurunkan rasa penasarannya pada sikap Leana yang berubah drastis.


Leana berpura-pura tidur lagi saat mobil sudah jalan. Ini untuk menghindari supaya Max tidak bertanya macam-macam. Sudah cukup untuk hari ini. Leana merasakan syarafnya sudah rusak apalagi setelah tadi dia tanpa sadar berciuman dengan Max begitu lama. Ya, Leana ingin tetap bersama dengan Max. Apalagi saat ini dia tau bukan Max yang memperkosanya. Jadi, tidak apa-apa jika Leana sedikit egois untuk pura-pura tidak tau untuk sementara waktu.


"Ran, batalkan reservasi restorannya. Aku akan pulang dengan Leana karena dia lelah." ucap Max dalam sambungan telepon.


'Max, maafkan aku...' Leana cuma bisa berucap dalam hati.


*

__ADS_1


*


*


Max menggendong Leana ke dalam kamar karena Leana tidak juga bangun. Tapi, ketika akan meletakkan Leana di ranjang, Leana membuka matanya perlahan. Tangan Leana masih dikalungkan pada leher Max.


"Bee, kamu sudah bangun?" ucap Max lirih. Dia kasihan pada Leana yang tampak sangat lesu dengan kantung mata yang mulai terlihat di wajahnya.


"Max, maafkan aku."


"Kenapa, Bee?" Max tidak mengerti apa yang Leana ucapkan. Dia terlihat sangat aneh hari ini.


"Karena aku bukan istri yang baik."


Fix. Ada sesuatu yang Leana sembunyikan. Max langsung teringat pada Marco yang berada di food court. Leana juga tadi berpamitan ingin makan. Jadi, apakah mereka bertemu dan Marco mengatakan sesuatu pada Leana? Kalau iya, Max harus segera menemui Marco.


"Max, apa kamu menyesal menikah denganku?" tanya Leana penasaran.


"Jadi hanya untuk tanggung jawab saja?"


"Awalnya iya. Tapi semakin ke sini, aku semakin menyukaimu, sangat menyukaimu." ucap Max dengan penuh keyakinan.


"Kalau begitu, tunjukkan jika kamu menyukaiku." Leana memberanikan diri untuk mengatakan ini. Dia tau Max bukan orang yang bodoh yang harus mencerna segala ucapannya.


Mendapat lampu hijau, Max tidak menyia-nyiakan kesempatan. Apalagi, Max sangat ingin menyentuh Leana.


Tapi baru melakukan pemanasan, bayangan itu tiba-tiba muncul dalam benak Leana. Bayangan pria itu yang menjamah tubuhnya seperti yang sedang Max lakukan saat ini membuat Leana ketakutan. Dia mendorong tubuh Max dengan kasar, lalu Leana berlari ke kamar mandi.


Max terkejut. Apalagi dia mendengar teriakan histeris dalam kamar mandi.


"Leana.. kamu kenapa, Le." panggil Max. Dia sudah berdiri di depan pintu kamar mandi, tapi itu terkunci dari dalam. "Le, buka Le."


Karena tak kunjung di buka, Max mengambil kunci cadangan di kamar mandi.

__ADS_1


Dia melihat Leana meringkuk di bawah kucuran shower sambil menangis.


"Le.."


"Jangan mendekat.. aku mohon.. jangan lakukan itu." Teriak Leana sambil gemetaran.


"Ini aku, Le.. Suamimu."


"Aku mohon, jangan." ucap Leana lagi.


Hati Max begitu sakit menyaksikan pemandangan di depannya. Apalagi Leana menangis begitu keras. Ada apa ini? Leana yang inginkan itu, tapi kenapa dia malah jadi seperti ini?


Max menunggu Leana di depan pintu kamar mandi. 1 jam berlalu, Leana mulai tenang. Max mematikan shower dan berjalan sangat hati-hati ke arah Leana.


"Le, aku gak mau macam-macam. Aku hanya ingin bawa kamu ke ranjang untuk istirahat. Kamu percaya, kan?"


Leana melirik ke arah Max, lalu dia mengangguk pelan.


Max bernafas lega. Dia mengambil handuk untuk membungkus badan Leana yang saat ini tidak menggunakan apapun. Ya, tadi mereka hampir saja making Love jika saja Leana tidak kembali trauma.


"Gin, ke kamarku sekarang, aku butuh bantuanmu." Max menelepon Gina untuk membantu dia memakaikan baju Leana.


Tidak lama Gina masuk ke kamar Max. Dia kaget melihat Leana hanya terdiam di ranjang tanpa pakaian. Max juga hanya menggunakan bathrobe.


"Kamu gak perlu ungkapkan isi pikiranmu. Bantu dia berpakaian dan temani dia malam ini." perintah Max sambil melenggang pergi.


Sementara itu, Gina sudah mengambilkan pakaian ganti untuk Leana. Dia memang tidak mau bertanya karena semua tanda merah di badan dan leher Leana sudah menjawab pertanyaan Gina.


"Gin, aku mau mati saja." ucap Leana pada Gina yang sedang menyelimutinya.


"Nona, anda gak boleh begitu. Tuan Max sangat sayang Nona Lea.


Leana tidak menjawab dan hanya menatap langit-langit kamar Max. Tadi dia memang berencana untuk mengikat Max dengan melakukan making love. Tapi, Leana malah teringat peristiwa mengerikan bersama dengan orang yang entah siapa.

__ADS_1


__ADS_2