
Akhirnya setelah seminggu lebih, Leana bisa merasakan udara luar. Hal yang pertama Leana lakukan adalah pergi ke restoran miliknya. Sudah lama Leana tidak mengurus restoran Korea miliknya itu. Dia hanya membiarkan pegawainya untuk bekerja dengan modal percaya saja. Leana tidak dapat berfokus setelah kejadian yang menimpanya. Jadi, sekarang Leana ingin mengecek dan melihat restoran miliknya itu.
"Wah, ini restoran milik Nona?" Gina turun dari mobil sambil memandang bangunan dengan lantai 2 yang bernuansa seperti Kerajaan Korea.
"Ya, ini usaha pertamaku." Leana tersenyum melihat hasil kerja kerasnya dalam membangun restoran itu sendiri. "Kita sekalian makan siang di sini."
2 wanita itu masuk ke dalam restoran.
"Surpriseeee" begitu membuka pintu, Leana dihujani dengan conffetti dan suara tepuk tangan yang begitu riuh.
Leana memandang karyawannya yang berkumpul di sana bersama dengan Bibi Marie dan juga Marco. Kenapa Marco ada di sini?
"Sayaaang.. selamat.." Bibi Marie memeluk Leana yang masih bengong karena terkejut.
"Selamat Ibu Leana atas pernikahan ibu dan kehamilan anda." ucap salah seorang karyawan Leana mewakili yang lain.
"Kalian juga tau aku hamil?" Leana menunjuk dirinya sendiri seperti orang bodoh. Pernikahan dan kehamilan ini bukan berita yang gembira untuk Leana. Leana justru tidak ingin semua tau seperti ini. Baginya ini sebuah aib karena melalui proses kelam di dalamnya.
"Sudah,, sudah.. ayo kita makan saja apa yang sudah disiapkan." Marco mengakhiri suasana canggung karena Leana ternyata tidak senang dengan surprise yang mereka berikan. Marco membimbing Leana untuk duduk di bangku yang sudah disiapkan.
"Ko, kenapa kamu di sini?" bisik Leana pada Marco yang sibuk menyiapkan piring, membantu Bibi Marie.
"Aku cuma membantu." Marco mengerlingkan mata pada Leana.
Entah mengapa, tatapan itu membuat Leana takut. Apakah memang semua anggota keluarga Scotts punya mata elang dan selalu menakutkan? Atau ini hanya perasaan Leana saja?
"Kamu harus makan yang banyak, Le. Supaya anak kamu sehat." Bibi Marie mengambilkan daging panggang dan menaruhnya pada mangkuk Leana.
"Bi, sudah Bi. Aku baru makan pagi."
"Apa kamu ingin makan sesuatu Le?" Tanya Marco sambil mengunyah makanannya. "Biasanya ibu hamil suka nyidam sesuatu." "Kalau ada, aku akan belikan."
"Wah, suami ibu sangat pengertian sekali." puji salah satu karyawan Leana.
__ADS_1
"Dia bukan suamiku." ucap Leana lirih.
"Ma.. af bu." karyawan itu tampak gugup karena dia salah mengira Marco adalah suami Leana. Sejak tadi, Marco begitu akrab dengan Bibi Marie menyiapkan segalanya. Mereka juga berbincang banyak tentang Leana. Jadi, wajar jika dia berpikir seperti itu.
"Jadi, mana suami mu? Kenapa kamu ke sini dengan.." Bibi Marie menengok ke arah Gina.
"Saya, Gina. Asisten Tuan Max di rumah." Gina memperkenalkan diri pada Bibi Marie.
"Max tidak bisa ke sini karena dia sedang sibuk." ucap Leana pada Bibi Marie dan juga lainnya.
"Yaaah.. aku ingin lihat suami Ibu.. pasti dia sangat tampan." sela salah seorang karyawan yang kepo.
Leana menanggapi dengan tersenyum. Max memang tampan. Tubuhnya tinggi, tegap, dan gagah. Wajah asianya juga dominan disertai hidung mancung. Tapi setampan apapun Max, dia adalah orang yang menorehkan luka pada Leana sampai membuatnya trauma.
"Siapa yang mencari ku?" suara itu membuat ruangan yang gaduh tiba-tiba hening. Mereka menengok ke sumber suara.
Sosok itu datang bak model yang sedang berjalan di catwalk. Max muncul dengan pakaian jas lengkap disertai kacamata hitam. Para karyawan wanita di sana saling menyenggol begitu Max melepaskan kacamatanya. Pria itu begitu tampan.
"Saya Maxmillian Scotts, suami Leana." Max memperkenalkan diri dengan baik. Hanya saja dia sama sekali tidak tersenyum. Wajahnya tegang dan aura kemarahan jelas terlihat di sana.
"Max, mereka yang buatkan ini." Leana bangkit berdiri untuk menghampiri Max.
"Bro, Bibi Marie yang punya ide. Aku hanya kebetulan saja lewat sini." jelas Marco yang takut jika Max lepas kontrol.
"Kamu kenapa di sini? katanya kamu harus melapor?" tanya Leana bingung.
"Aku akan melapor setelah ini." Max berjalan menuju kursi yang tadi di duduki oleh Leana. Dia sebenarnya sudah sampai di kantor polisi, tapi Gina memberinya pesan jika Marco ada bersama Leana. Max langsung kembali ke mobil dan menuju restoran Leana yang tak jauh dari situ. Dia bahkan meninggalkan Rani di kantor polisi.
"Max, kamu datang juga? Bibi sangat senang kamu bisa datang ke sini." Bibi Marie memegang pergelangan tangan Max.
"Sudah seharusnya aku datang ke sini." kata Max dengan penuh arti.
Leana duduk di sebelah Max setelah Marco menyingkir dengan sendirinya.
__ADS_1
Suasana mendadak menjadi canggung, tidak seperti tadi. Max tidak tau harus mengatakan apa dan yang lain pun tidak ingin bicara karena wajah Max menunjukkan tidak ramah.
"Maaf, Max memang sedikit pendiam." Leana angkat bicara untuk mengurangi rasa takut mereka.
"Jadi, Marco dan Max adalah kakak adik." Bibi Marie menambahkan perkenalan suami Leana kepada karyawannya.
Semua ber-oh saja. Wajah Max dan Marco memang ada kemiripan, tapi Marco jauh lebih ramah daripada Max.
"Karena istri saya sedang hamil, saya mohon bantuan kalian supaya bisa menjaga dia jika dia sedang berada di sini." akhirnya Max bersuara.
"Max, maksudnya?" Leana menengok ke arah Max.
"Ya, kamu boleh ke sini sesekali tapi tetap dengan Gina." ucap Max datar.
"Max,,"
"Sebaiknya kamu makan dulu." Max menyodorkan mangkuk Leana yang belum sempat tersentuh. Tadi pagi Leana sudah skip sarapannya karena mual-mual.
Para karyawan berbisik-bisik melihat bagaimana interaksi Max dengan Leana. Mereka suami istri, tapi terlihat sangat kaku. Meskipun Max memperlakukan Leana dengan baik, tapi tidak ada skin ship atau kemesraan diantara pasangan yang baru menikah itu.
Semua akhirnya melanjutkan makan mereka, sedangkan Max hanya menatap ke arah Marco yang sedang mengobrol dengan karyawan Leana.
Ponsel Leana di meja tiba-tiba berdering. Max melirik dan melihat nama Dr.Andre di layar.
"Apa kamu sakit?" tanya Max lirih.
Leana menggeleng. Dia mengangkat telepon dari Dr.Andre.
"Halo, Om." "Max sudah sehat." "Oh, nanti malam?" "Saya tanya Max dulu." "Oke om." Leana mengakhiri telepon singkat dengan Dokter Andre.
"Kenapa Dokter itu telepon?" cecar Max yang penasaran.
"Dia mengajak kita makan malam di rumahnya." "Tapi kalau kamu sibuk, aku akan pergi sendiri."
__ADS_1
"Tidak ada jadwal hari ini." "Kamu siap-siap saja." kata Max tanpa menengok ke arah Leana. Saat ini Max sedang mengetikkan sesuatu pada Rani.
'Batalkan meeting malam ini karena aku harus menemani Leana.'