Love In Trauma

Love In Trauma
Tresno jalaran saka kulino


__ADS_3

"Dia kelelahan dan sepertinya terlambat makan." kata Dokter Andre seraya menyuntikkan vitamin untuk Max. "Aku akan berikan antibiotik dan penurun panas. Tolong hubungi saya lagi jika 2 hari panasnya tidak turun."


"Apa dia sering sakit, Dok?" tanya Leana dari depan pintu kamar.


Dokter Andre membereskan perlengkapannya. Setelah itu, dia berdiri di depan Leana supaya lebih enak untuk bicara. Dia heran kenapa Leana tidak mendekat dan malah berdiri di dekat pintu kamar.


"Max memang sering sakit. Tapi jangan khawatir. Daya sembuhnya juga cepat." jelas Dokter Andre sambil tersenyum. "Sepertinya saya pernah liat kamu, tapi di mana?"


"Anda mengobati saya waktu saya overdosis obat tidur, Dok." ucap Leana dengan lirih.


"Oh, ya ampun. Leana Jung. Kamu yang dirawat sekamar dengan Max,kan? Maaf, saya lupa." Dokter Andre menepuk jidatnya sendiri. "Maklum yah, namanya juga faktor umur."


"Gak apa-apa Dok. Terimakasih karena sudah membantu Max." Leana membungkukkan badan tanda terimakasih. Salah satu kebiasaan Leana adalah membungkukkan badan seperti orang Korea pada umumnya.


"Leana, itu tugas saya sebagai Dokter pribadi Max." ucap Dokter Andre yang tidak enak sendiri karena kesopanan Leana. Dia wanita yang sangat baik. "Jadi, kamu sudah menikah dengan Max?" tanya Dokter Andre penasaran.


Leana mengangguk. "Ini begitu mendadak."


"Tidak apa-apa. Kalau kata orang Jawa, Tresno jalaran saka kulino." "Maksudnya, cinta itu bisa tumbuh karena terbiasa bersama."


"Dokter gak seperti orang Jawa, kok bisa bahasa Jawa sih?"


"Ini karena menantu saya yang suka ngajarin bahasa-bahasa lain." ucap Dokter Andre sambil tertawa. "Nanti saya kenalkan dengan anak dan menantu saya. Saya ingin undang kamu dan Max makan malam di rumah."


"Oke, Dok. Makasih." Leana siap membungkukkan badan lagi, tapi Dokter Andre menahannya. "Jangan terlalu formal jika dengan saya. Kamu juga boleh panggil saya dengan Om atau Uncle atau Samchon (panggilan paman dalam bahasa Korea).


"Oke, Dok. Eh, Om maksudnya."


Dokter Andre tertawa secara spontan. "Kamu sungguh lucu dan unik, Le."

__ADS_1


"Leana." Suara Max terdengar cukup keras sampai mereka berdua menengok bersamaan.


"Okey,Lea sepertinya suamimu mencari kamu." "Ingat, Tresno jalaran saka kulino." bisik Dokter Andre sambil tersenyum jahil.


Leana menutup mata lalu menarik nafas panjang sebelum mendekat pada Max. Setelah memastikan dirinya sudah tenang, dia berjalan ke ranjang.


"Max, makan dulu supaya kamu bisa minum obat." Leana menarik kursi supaya bisa duduk di samping Max. Meski sudah mencoba tenang, tapi jantungnya tidak bisa di kompromi. Leana dapat merasakan jantungnya berdebar kencang ketika berada di dekat Max.


"Aku akan suapi kamu." kata Leana lirih.


"Le.." Max tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Apa aku halusinasi?"


"Max, aku akan berusaha untuk menerima kamu. Tapi, jangan menatap aku seperti itu. Aku takut." Leana menundukkan kepalanya. Dia tidak tahan dengan pandangan tajam Max.


"Kamu serius?" Meskipun sudah diperingatkan Leana, tapi Max tidak mengalihkan pandangannya.


"Ya, demi anak ini. Tapi aku gak tau apakah aku bisa."


Leana mengangguk. "Katakan jika kamu butuh sesuatu." katanya canggung. Selain dengan Vero, Leana juga masih bingung menghadapi Max yang notabene adalah suaminya sendiri.


"Aku butuh makan. Aku lapar."


Suasana canggung itu sedikit mencair karena Max ternyata tidak se kaku yang Leana bayangkan. Leana bahkan tertawa kecil karena pengakuan polos Max yang meminta makan.


Leana mencampur samgyetang buatannya dengan sedikit nasi. Dia perlu ingat kata Dokter Andre, "harus terbiasa dengan Max". Leana benar-benar menyuapi Max dengan perlahan. Tapi, tiap kali Max menengok ke arahnya, Leana mengalihkan pandangan dan pura-pura menengok ke arah lain.


Entah berapa jam Leana menyuapi Max. Pria itu makan lambat sekali. Setelah Max menghabiskan satu mangkuk penuh samgyetangnya, Leana segera menyiapkan obat untuk Max.


"Makasi, Le."

__ADS_1


"Hmm." jawabnya singkat.


"Aku pasti akan segera sembuh kalau begini."


"Ya, aku akan bereskan ini. Kamu tidur saja."


Max mengangguk. Dia masih ingin berlama-lama melihat Leana, tapi dia masih mengantuk dan ingin tidur saja. Max selama ini bekerja siang malam tanpa lelah. Jadi ada kalanya Max akan sakit seperti ini dan mengharuskan dia hibernasi untuk membayar utang tidurnya.


Leana menghentikan kegiatannya ketika melihat Max dengan cepat sudah tertidur. Wajah Max jika sedang tertidur sangat berbeda dengan Max yang selalu menatapnya tajam. Jika sedang tidur seperti ini, Leana tidak takut pada Max. Apakah memang benar kata Ericka jika Max melakukan itu pada Leana karena penyakitnya? Separah apa penyakit Max? Apa pria itu juga mengalami trauma?


Lamunan Leana akan Max hilang ketika dia mendengar ponsel Max berdering.


'Rania calling..'


"Rania?" Leana mengucapkan dengan lirih nama yang tertera dalam ponsel Max itu. Entah dapat keberanian dari mana, Leana nekat untuk menerima telepon milik Max.


"Tuan Max, kenapa anda tidak kelihatan di kantor? Apa anda baik-baik saja?" suara itu terdengar panik.


"Dia sakit." jawab Lea singkat.


"Lho, anda siapa?"


"Saya istrinya."


"Maaf, nyonya. Saya benar-benar lupa kalau Tuan Max sudah menikah." "Saya akan ke sana sekarang." ucap Rania semakin panik.


"Gak perlu. Max sedang tidur. Lagipula aku yang jaga Max." kata Leana dengan nada sedikit ketus.


"Iya baiklah. Saya akan batalkan jadwal Tuan Max hari ini. Sekali lagi saya minta maaf, nyonya."

__ADS_1


'Tut.. tut.. tut..'


Leana menghela nafas panjang. Dia tidak percaya dia mengucapkan hal itu pada wanita yang entah siapa. Apa ini termasuk bawaan bayi juga? Ya, pasti hormon progesteron nya sedang tinggi.


__ADS_2