
Leana berhenti ketika ada sebuah suara yang memanggilnya dari ruang makan. Vero menatap tajam Leana yang masih menggunakan Piyama. Dia sudah mendengar tentang kehamilan Leana dari Gina dan Marco. Tapi, entah kenapa Vero tidak senang dengan berita itu. Dia masih belum menerima Leana menjadi bagian dari keluarga Scotts.
"Pagi, Mom." sapa Leana ramah.
"Sepertinya ini sudah siang." Vero menilik jam tangan mewahnya. Jam menunjukkan di angka 10.
"Maaf Mom. Lea benar-benar lelah semalam."
"Kamu itu sudah bagian dari keluarga Scotts. Mom gak suka menantu yang malas. Seharusnya kamu bangun lebih awal dari Mom." oceh Vero tanpa jeda. "Apa sebagai menantu kamu gak malu dengan mertuamu?"
"Besok Lea akan bangun lebih pagi, Mom."
"Kemarin kamu juga bilang seperti itu. Tapi nyatanya kamu masih bangun siang."
"Mom, apa Mom sudah dengar kalau aku sedang hamil?" tanya Leana ragu-ragu.
"Ya, tapi itu bukan alasan." "Dulu Mom juga selalu bangun pagi meski sedang hamil."
__ADS_1
Leana tidak tau bagaimana harus bersikap di depan Vero. Setiap bertemu, Vero hanya mencecar sikap Leana. Dia tidak becus mengurus Max lah, dia selalu bilang Leana malas, tidak pengertian dan penyakitan. Ketika Leana hamil seperti ini, Vero ternyata juga tampak tidak senang dengan Leana. Entah apa yang harus Leana lakukan lagi.
"Mom, Lea permisi ke dapur sebentar." ijin Lea yang sudah lelah menghadapi Vero. Baru beberapa hari di sini Leana sudah kewalahan dengan Vero. Dia bukannya tidak mau bicara dengan Vero, tapi jika mereka memulai percakapan seperti ini, itu justru membuat Leana sedih dan frustasi. Jadi, langkah terbaik sekarang adalah kabur atau menghindar.
"Mau apa kamu? Senang sekali kamu ada di dapur."
"Max sakit, Mom. Lea mau buatkan dia makanan yang hangat." "Lagian pekerjaan Lea memang di dapur." jelas Lea dengan hati-hati.
"Max sakit pasti karena dia stress memikirkan kamu." tudung Vero yang selalu menyiram bensin pada Leana.
"Aku permisi,Mom. Sekali lagi maaf." Leana membungkuk pada Vero lalu dia pergi ke dapur.
Gina sudah lebih dulu pergi ke dapur untuk mempersiapkan bahan yang dibutuhkan Leana. Dia sebenarnya ingin menemani Leana waktu dia di panggil Vero, tapi Vero menyuruh Gina untuk ke belakang saja dan tidak ikut campur.
"Sabar Nona." kata Gina yang prihatin pada Leana. Dia sedang hamil dan tidak boleh stress, tapi semua orang di sini malah membuat Leana makin stress saja.
"No problem, Gin. Kita buat saja makanannya."
__ADS_1
Leana mulai memasak tanpa banyak bicara. Inilah tempat dia menyalurkan rasa stress nya. Memasak adalah terapi tersendiri untuk Leana. Sejak dulu Leana sangat senang berlama-lama di dapur. Moodnya akan kembali baik jika dia bisa membuat masakan yang enak dan cantik.
"Wah, wanginya enak sekali." Gina bisa menghirup aroma ginseng dan kaldu ayam ketika Leana membuka tutup panci. "Anda sungguh berbakat."
"Bukan bakat Gin.. semua orang bisa masak ini. Nanti aku bagi resepnya." Leana tersenyum sehingga lesung pipinya terlihat jelas.
"Aku senang Tuan Max mendapatkan istri seperti anda." Ucap Gina dengan tulus.
"Ya, cuma kamu satu-satunya yang senang." kata Leana sedih. Pernikahan impiannya buyar menjadi sesuatu yang menyakitkan seperti ini. Sampai-sampai mertuanya pun tidak menyukai Leana. Sedangkan Marco sendiri memang lebih ramah, tapi dia tampak aneh. Menjadi bagian dari keluarga Scotts sangat tidak mudah.
"Nona.. saya ada di sini. Nona tenang saja.. saya akan selalu mendukung Nona Leana. Dr.Ericka juga akan membantu Nona."
"Thanks Gin. Aku anak tunggal dan gak punya siapa-siapa lagi. Untung ada kamu di sini." Leana menghapus air mata yang sudah tidak dapat dia bendung lagi. Setiap mengingat bahwa dia tidak punya siapa-siapa, Leana jadi sedih.
Gina merentangkan tangannya dan Leana segera menyambut dengan memeluk Gina. Mereka cukup lama berpelukan sampai Leana tenang.
"Sepertinya Dokter Andre sudah datang. Tolong taruh ini di mangkuk yang ada tutupnya. Jangan lupa bawa juga nasinya." Leana melepaskan apronnya untuk mengantar Dokter Andre ke kamar Max.
__ADS_1