![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Pagi ini seperti biasa, Cinta memulai waktu 24 jamnya dengan berkutat di taman mansion utara. Dia menyiram satu persatu tanaman yang ada disana. Tak lupa juga ia memberi pupuk agar tanaman tumbuh subur dan cepat berbunga.
Meski ia tak pernah hobi berkebun ataupun bercocok tanam, tapi setelah mengurus semua tanaman sendiri, Cinta merasa lebih bahagia. Apalagi jika ia harus mengingat semua perdebatannya dengan Lucka yang kadang membuat hati sesak. Satu-satunya cara menghibur diri adalah dengan melihat tanaman.
"Nona!" panggil Edi, asisten pengurus taman di mansion utara. Karena beda mansion, nanti beda lagi ya asistennya.
"Iya, Edi, ada apa?"
"Saya mau mengecek taman di kamar Tuan Lucka."
"Oh iya, silakan saja. Tumben kamu pamit sama saya, biasanya langsung pergi aja kesana."
"Maaf, Nona. Kemarin saya dengar dari Alisa kalau Nona mencari saya ketika saya sedang ada disana. Jadi, sekarang saya pamit dulu sama Nona."
"Ya ampun! Itu Alisa terlalu lebay deh. Gak perlu pamit juga kali. Santai aja. Saya orangnya santai kok."
"Terima kasih, Nona. Kalau begitu saya permisi dulu."
Cinta mengamati Edi yang semakin jauh dari pandangannya.
"Taman di kamar Lucka?" Gumam Cinta dengan memikirkan sesuatu.
Selama Cinta tinggal disini, ia belum pernah datang ke area kamar Lucka. Dan juga melihat taman yang ada disana. Yang ia dengar dari Alisa, disana ada taman yang isinya adalah bunga-bunga koleksi mendiang Nyonya Arina, mama Lucka.
"Aku jadi penasaran dengan bunga-bunga disana. Pasti sangat indah. Aku harus cari waktu yang tepat untuk melihatnya langsung. Tapi, jangan sampai ketahuan sama si songong itu." Gumam Cinta.
__ADS_1
...***...
Oke. Dan disinilah aku. Aku mengendap-endap untuk sampai ke kamar Lucka. Ini masih pukul lima sore, dan aku yakin Lucka tidak akan datang jam segini.
Aku mulai memasuki area kamar Lucka, dan dari jauh sudah nampak ada sebuah taman yang disekelilingnya di beri pagar besi. Hmm, memang si songong itu tidak membiarkan orang lain memasuki tamannya. Pelit sekali!
Aku melihat pintu masuk menuju taman tidak terkunci, mungkin saja Edi lupa menguncinya setelah menyiram bunga-bunga disini. Tanpa pikir panjang aku langsung memasuki taman yang berisi bunga-bunga yang cantik.
"Wah, ini adalah bunga lili putih. Indah sekali..." Aku berdecak kagum melihat keindahan deretan bunga lili yang ada disana.
Sejenak kuedarkan pandanganku ke seluruh area taman. Semua tertata rapi dan indah. Berada disana bagaikan aku sedang ada di alam yang berbeda. Aku menutup mataku dan merasakan aroma bunga-bunga yang ada disini.
"Apa yang kamu lakukan disini?!"
Tidak! Ini pasti mimpi. Tidak mungkin aku mendengar suara Lucka. Tapi, suaranya terdengar sangat nyata. Kemudian kubuka mataku dan mendapati sosok Lucka di ambang pintu taman.
"Aku tanya sekali lagi, apa yang kamu lakukan disini?!" Suaranya naik satu oktaf.
Mendadak lidahku kelu. Lucka terllihat sangat marah. Aku menelan ludah. Ini kan masih sore, kenapa Lucka sudah kembali? Apa dia memata-mataiku?
"Lu-lucka?" sapaku tergagap.
"Bukankah Edi sudah memberitahumu kalau kamu tidak diijinkan untuk masuk ke taman ini?"
"I-iya. A-aku minta maaf. Aku hanya..."
__ADS_1
"Keluar dari sini sekarang juga!"
Dan entah kenapa kakiku serasa tak bisa digerakkan. Aku sangat ketakutan melihat kemarahan Lucka.
Karena aku masih tak bergerak dari tempatku berdiri, Lucka pun berjalan ke arahku dan meraih tanganku. Ia menyeretku keluar dari taman dan menghempaskan tubuhku kasar ke tanah.
Aku tak bisa lagi membendung air mataku. Aku sangat sedih. Kenapa kamu melakukan ini padaku, Lucka? Segitu bencinya kah kamu terhadapku?
...***...
Cinta memeluk kedua kakinya dan beringsut di tempat tidur. Ia malas keluar kamar malam ini. Makan malam kali inipun, akan ia lewati. Ia meminta Alisa untuk menyampaikan permintaan maaf pada kakek dan nenek. Matanya masih menyisakan sorot kesedihan meskipun air mata sudah tak membasahi pipinya.
Makan malampun dimulai tanpa kehadiran Cinta. Alisa datang ke meja makan untuk menyampaikan permintaan maaf dari nonanya.
"Alisa, dimana Cinta? Kenapa dia tidak ikut bersamamu?" Tanya Jessi.
"Nona Cinta sedang tidak enak badan, Nyonya. Dia akan makan malam di kamar saja katanya. Dan meminta saya untuk menyampaikan permintaan maafnya pada Tuan dan Nyonya.
"Ya sudah, tidak apa. Bawakan makan malam Cinta ke kamarnya. Pastikan dia mau memakannya." Ujar Jansen.
"Mungkin dia kelelahan. Lucka, kamu harus lebih memperhatikan Cinta. Setelah ini jenguklah dia ya." Pinta Jessi.
Lucka tidak menjawab dan hanya diam berpikir. Ada raut penyesalan di wajahnya. Tapi segera ia tepis. Bukan dirinya yang salah. Itu menurutnya. Cintalah yang bersalah karena masuk ke area orang tanpa ijin terlebih dulu. Dan malam ini, Lucka tidak menepati janjinya pada Jessi untuk menjenguk Cinta.
Untuk apa aku menjenguknya? Yang ada nanti dia girang karena dia pikir aku peduli padanya.
__ADS_1
...☆☆☆...
Bersambung,,,