![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Aku dan Lucka keluar kamar dan menuju ke halaman depan rumah keluarga Bahari. Lucka tidak melepaskan genggaman tangannya sekalipun.
Aku sangat malu karena semua orang menatap kami. Aku terus menundukkan wajahku.
"Dengar Cinta. Seorang istri keluarga Bahari tidak akan menundukkan wajah kepada siapapun. Tegakkan kepalamu!" bisik Lucka dan membuatku langsung mendongak.
"Bagus!" Lucka kembali berbisik.
Aku melirik Lucka yang nampak senyam-senyum sendiri. Hah! Dia pasti sangat senang sudah mengerjaiku.
Tiba di halaman depan rumah, ternyata sudah ada Tommy dan kak Lucki disana.
"Astaga! Kalian lama sekali! Apa yang kalian lakukan, huh?" sungut kak Lucki.
"Bukan urusan kakak! Lagian kakak ngapain disini?"
"Hei, adik! Bukankah kamu ingin melamar Cinta? Saat seorang pria melamar seorang gadis, kamu harus membawa keluargamu! Aku dan Tommy akan mewakili nenek untuk melamar Cinta!"
"Apa?!" Lucka melongo tak percaya. "Kak!"
"Sudahlah! Aku dan Tommy tidak akan mengganggu kalian. Kami pakai mobil yang berbeda denganmu. Ayo, Tom!" Kak Lucki membuka pintu mobil dan masuk diikuti Tommy.
"Hei, kalian!" seru Lucka namun ternyata tidak digrubris. Aku malah tertawa karena kemarahan Lucka kali ini terlihat lucu.
"Sudahlah! Ayo berangkat!" ajakku.
Lucka mengangguk lalu membukakan pintu untukku.
Sementara itu di rumah Cinta...
Inah memberitahu tetangga yang sudah seperti keluarga baginya jika Cinta dan Lucka akan datang ke rumah. Kini Inah sedang berbenah dibantu dengan Tati.
"Jadi, Neng Cinta balik lagi dengan tuan Lucka, Teh?" tanya Rina yang cukup penasaran.
"Iya."
"Wah, gimana ceritanya, Teh?" Rina adalah orang ter-kepo diantara tetangga Inah.
"Aku juga gak tahu. Semua terserah Cinta saja. Dia sudah dewasa, dia bisa menentukan masa depannya sendiri."
"Terus gimana nasib si Chef ganteng Juna?"
Sri menghampiri Rina agar tidak banyak bertanya lagi.
"Dek Inah, kita mau siapkan makanan apa untuk kedatangan nduk Cinta dan tuan Lucka?" tanya Sri mengalihkan pembicaraan.
"Emh, bukankah tuan Lucka suka bakmie jowo? Atau kita sediakan saja gudeg, Mbakyu. Aku yakin dia pasti suka."
"Baiklah. Ayo Rin, bantu aku buat siapkan gudeg. Kamu ikut siapkan nasi padang juga boleh."
Sri menarik tangan Rina agar menjauh dari Inah yang sedang membersihkan rumah.
Inah menghela napas. Ia masih merasa cemas dengan keputusan Cinta kali ini. Ia takut jika Cinta akan mengalami hal yang sama seperti tiga tahun lalu.
__ADS_1
"Yu Inah..." Tati menghampiri Inah.
"Sudah selesai semua beres-beresnya?" tanya Inah yang nampak menyeka air matanya.
"Sudah, Yu. Wes kono Yu Inah siap-siap bae. Sadelat maning Nok Cinta anjog." (Sana mbak Inah siap-siap saja, sebentar lagi nak Cinta datang)
Inah mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya. Dalam hati ia berharap, semoga saja ini adalah keputusan yang terbaik yang Cinta ambil.
#
#
#
Akhirnya kami tiba di depan gang masuk rumahku. Ya, sejak dulu gang ini memang tidak bisa dimasuki mobil. Kami harus memarkirnya di pinggir jalan besar.
Aku turun dari mobil dan menatap Lucka. Sepertinya dia cukup gugup untuk bertemu dengan Ibu.
"Sudah cukup lama, bukan?" tanyaku.
Lucka mengangguk. Bahkan kak Lucki dan Tommy sudah berjalan lebih dulu.
Aku meraih tangan Lucka dan menggenggamnya.
"Tenanglah! Ibu pasti menyetujui hubungan kita."
Lucka hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Aku tidak menyangka jika seorang Lucka akan bersikap begini saat dihadapkan dengan calon mertuanya sendiri. Bukankah biasanya dia sangat garang dalam hal bisnis? Kenapa sekarang jadi kucing manis yang hanya bisa diam?
Kami tiba di depan rumah ibuku. Kak Lucki mengucap salam dan keluarlah Ibu juga yang lain dari dalam rumah.
"Nak Lucki?"
Ternyata Ibu masih bisa mengenali kak Lucki.
"Iya, Bu." Kak Lucki langsung menjabat tangan ibu dan menciumnya.
"Bu, kenalkan ini Tommy. Dia adalah asisten sekaligus sahabatku dan Lucka."
"Halo, Bu." Tommy juga menjabat tangan Ibu dan menciumnya.
"Ah iya. Cinta sering cerita tentang Nak Tommy dan Alisa. Mari masuk!"
Tommy dan kak Lucki lebih dulu masuk ke rumah. Mereka menyapa semua anggota keluargaku yang beragam itu.
"Nduk..." Ibu memanggilku.
Aku menatap Lucka dan memintanya untuk menghampiri Ibu.
"Ibu..." Aku mencium tangan Ibu lalu memeluknya.
"Maafkan Cinta ya Bu. Cinta udah bikin Ibu khawatir."
"Sudah, tidak apa."
__ADS_1
Aku melepas pelukan Ibu. Sejenak Ibu menatap Lucka.
"Ibu..." Lucka menyapa Ibu.
Meski yakin Ibu akan setuju, tapi tetap saja aku merasa takut.
"Masuklah dulu! Kita bicara di dalam saja!" ucap Ibu lalu melenggang masuk.
Aku menarik tangan Lucka dan membawanya masuk. Di dalam semua orang sudah berkumpul.
Lucka duduk di samping kak Lucki. Dan aku duduk disamping Ibu. Kmi duduk berseberangan.
"Wah, wajah kalian sangat mirip," celetuk Teh Rina.
"Lah kepiben sih, Rina? Kuwe kan kembar. Ya wajahe pada!" sahut Bulik Tati. (Lah gimana sih, Rina? Mereka kan kembar. Ya wajahnya sama)
Aku terkekeh melihat reaksi keluargaku yang selalu heboh.
"Bagaimana kabar ibu?" Kak Lucki memulai pembicaraan agar tidak terlalu tegang.
Aku lihat wajah Lucka sudah dipenuhi keringat. Maaf ya Lucka, rumahku tidak memiliki pendingin ruangan seperti di rumah Bahari. Disini hanya ada kipas angin, hehe.
"Ibu baik, Nak Lucki. Sebelumnya, ibu ikut berduka cita atas kehilangan kalian."
"Iya, Bu. Sama-sama."
"Bagaimana kabar nyonya Jessi?"
Kak Lucki melirik Lucka. Namun sepertinya Lucka enggan menjawab karena terlampau grogi.
"Emh, nenek baik. Kondisinya sudah lebih baik."
"Oh, syukurlah."
Suasana kembali hening. Aku sendiri juga bingung harus bicara apa.
"Bu..." ucapku bersamaan dengan Lucka.
Kami saling pandang. Apakah ini saatnya? Lucka akan mengutarakan niatnya. Aku tersenyum seraya memberi kekuatan untuk Lucka. Aku percaya padanya. Aku yakin dia pasti bisa melakukannya.
"Emh, Bu... Kedatangan saya kemari adalah...untuk memberitahu pada Ibu dan keluarga jika saya dan Cinta..."
Lucka menjeda kalimatnya.
"Kami sudah kembali bersama. Saya mohon restu dari Ibu!" ucap Lucka.
Ibu menatap Lucka selama beberapa saat.
"Saya pastikan adik saya tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi, Bu." kak Lucki ikut menyahut.
Ibu terlihat menghela napas. "Ibu senang jika akhirnya kalian menyadari perasaan kalian masing-masing. Sudah tiga tahun ini Ibu tahu jika Cinta hanya mencintai nak Lucka saja. Ibu sih terserah Cinta saja mau memilih siapa. Toh dia yang akan menjalani hidup bukan Ibu."
Mata Lucka berbinar senang. "Jadi, ibu menyetujui hubungan kami?"
__ADS_1
Ibu mengangguk. "Iya, Nak. Ibu setuju saja asalkan Cinta bahagia."
Aku menatap Lucka lalu mengulas senyum. Rasanya setelah ini, aku akan terus meraih kebahagiaan. Semoga saja.