Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
47. KEMBALI BERKUMPUL


__ADS_3

Aku dan Lucka bersama Kak Lucki kembali ke rumah Bahari untuk menemui Nenek Jessi. Pastinya nenek senang karena kehadiran kak Lucki. Aku yakin keluarga ini akan mulai berkumpul lagi mulai dari sekarang.


"Lucki!" seru nenek gembira.


Meski masih terlihat raut kesedihan di wajahnya, aku yakin kesedihan nenek sedikit berkurang karena kehadiran kak Lucki.


Lucka memberi kode untuk meninggalkan mereka berdua. Lucka meraih tanganku dan menggenggamnya.


Hangat. Aku merasakan sebuah kehangatan dari seorang Lucka.


"Aku senang karena kak Lucki sudah kembali."


"Cih, baru saja kau bilang mau menikah denganku dan sekarang kau bilang senang karena kehadiran kakakku!"


Lucka mencoel hidungku.


"Apaan sih? Cemburunya tolong dikondisikan ya! Ini adalah kakakmu sendiri!" ketusku.


"Wajah kami sama tentu saja aku cemburu!"


Hah! Berdebat dengan Lucka memang tidak ada habisnya. Aku melepas genggaman tangan Lucka.


"Jika kamu berpikir aku akan jatuh hati pada kak Lucki, maka sudah sejak dulu aku melakukannya. Tapi nyatanya..."


Aku sedih. Aku tidak tahu kenapa Lucka selalu menganggapku tidak bisa setia.


"Sayang, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Aku hanya ... takut kehilanganmu lagi."


Lucka menangkupkan tangannya pada wajahku. Dia merangkumnya. Aku sangat suka sentuhan lembutnya. Andai saja dia selalu bisa seperti ini dan tidak meledak-ledak seperti tadi.


"Iya, aku memaafkanmu. Jangan gampang tersulut emosi dengan apa yang belum tentu kebenarannya. Aku selalu mencintaimu, apakah itu tidak cukup?"


Astaga! Ternyata aku begitu jujur. Aku sangat malu.


"Su-sudahlah! Aku mau ke kamar saja!" Aku menepis tangan Lucka dan berjalan meninggalkannya.


Tapi ternyata dia mengikuti langkahku dan kembali meraih tanganku.


"Jangan jauh-jauh dariku! Aku tidak akan bisa hidup tanpamu."


Aku tertawa kecil. "Gombal!"


"Aku serius, Cinta!"


"Iya iya aku percaya kok!"


#


#


#


Malam harinya, kami semua berkumpul di kamar nenek Jessi. Kami para cucu nenek berusaha membuat nenek tidak mengingat kesedihannya karena kepergian kakek Jansen.


Malam ini spesial Lucka memasak untuk kami semua. Kurasa bakat memasaknya lumayan juga.


Lucka kembali memasak makanan kesukaan Nenek. Suasana malam ini terasa hangat meski kami baru saja kehilangan salah satu anggota keluarga.


Ponselku bergetar. Sebuah panggilan dari ibu. Aku merutuki diriku sendiri. Aku belum memberi kabar pada ibu jika aku masih berada di kediaman Bahari. Aku berpamitan pada nenei karena harus menerima panggilan telepon.


"Halo, Bu..."


"Nduk, kamu dimana? Kok belum pulang juga?"


"Maaf, Bu. Cinta masih ada di rumah keluarga Bahari."


"Heh?! Apa yang kamu lakukan disana?"


Aku harus memiliki alasan yang tepat untuk ibuku.


"Emh, Ibu. Besok saja Cinta ceritakan semuanya pada Ibu. Untuk malam ini, Cinta akan menginap disini lagi untuk menemani nenek Jessi."


"Oh, ya sudah. Ibu titip salam saja untuk nyonya Jessi ya."

__ADS_1


"Iya, Bu."


Aku mengakhiri panggilan bersama ibu.


"Telepon dari siapa?" Tiba-tiba saja Lucka sudah ada di belakangku.


"Lucka! Bikin kaget aja!" Aku memukul lengan Lucka.


"Ayo cepat! Nenek sudah menunggu! Aku masak spesial hari ini!"


Lucka menggandeng tanganku dan membawaku masuk.


"Oh ya? Aku penasaran seperti apa makanan buatan Chef Lucka," godaku pada Lucka.


"Apaan! Aku belum jadi seorang chef. Aku masih amatir."


Aku mengulas senyumku. Rasanya melegakan sekali bisa melihat keceriaan di wajah Lucka.


Kami berkumpul di meja makan. Lucka mempresentasikan hasil makanan buatannya. Aku dan Chef Marko hanya saling pandang dengan apa yang sedang dilakukan Lucka.


Sebenarnya masakan Lucka bisa dibilang enak. Mirip dengan masakan rumah yang biasa aku buat. Aku tidak tahu dari mana dia mendapat keahlian itu.


Saat makan malam sedang berlangsung, kakek Gerald ternyata datang.


"Kakek? Ayo sekalian ikut kami makan saja!" ajak Lucki.


Nenek Jessi tersenyum melihat kakek Gerald datang.


"Terima kasih." Kakek Gerald ikut bergabung bersama kami.


"Wah, sepertinya lezat. Siapa yang memasaknya?" tanya Kakek Gerald.


"Lucka yang memasaknya, Kek!" sahutku cepat.


Aku tahu hubungan Lucka dan kakek Gerald masih belum membaik. Bahkan sudah bertahun-tahun lamanya. Aku ingin, mulai malam ini Lucka memperbaiki hubungannya dengan kakek Gerald.


"Eh? Benarkah? Kakek tidak tahu jika Lucka pandai memasak!"


Dan setelahnya terjadi gelak tawa di meja makan. Semuanya berkumpul dan saling mengungkap rasa.


Usai makan malam, aku mengantar nenek Jessi hingga ke kamarnya. Tubuh renta itu sudah terlihat membaik.


Sebelum aku keluar dari kamar Nenek, beliau bicara sebentar denganku.


"Terima kasih, Cinta."


"Untuk apa, Nek?"


"Karena kamu sudah mengubah segalanya. Sejak kedatanganmu di keluarga ini, nenek sudah merasa jika kamu pasti bisa mengubah semuanya. Kamu mengubah Lucka. Kamu mengubah Lucki. Bahkan banyak hal yang tidak pernah terduga akhirnya terjadi. Dan itu berkat kamu."


Aku menggenggam tangan Nenek. "Tidak, Nek. Semua ini terjadi karena suratan takdir dari Tuhan."


"Jadi, kapan kamu akan bertunangan lagi dengan Lucka?"


"Eh? Nenek..." Aku tersipu malu.


"Sebaiknya percepat saja semuanya. Kalian sudah lama memendam semua ini kan? Kalian dikalahkan oleh ego masing-masing hingga membuat kalian harus berpisah selama beberapa tahun. Nenek sangat ingin melihat kalian menikah sebelum ajal menjemput nenek..."


"Nenek! Jangan bicara begitu. Aku dan Lucka akan bicara dengan keluargaku, mungkin ... besok. Nenek tenang saja. Kami tidak akan berpisah lagi."


Aku harus mencari alasan yang bagus agar nenek tidak lagi bersedih. Aku memeluk nenek dan mengusap punggungnya pelan.


#


#


#


"Jadi, kalian memutuskan untuk kembali ke negara kalian, huh?!" tanya Gerald pada kedua cucunya.


"Iya, Kek," sahut mereka bersamaan.


"Kau sudah lulus dan siap menjadi profesor?" Kini giliran Lucki yang ditanya.

__ADS_1


"Iya, Kek. Aku akan mengurus semuanya lewat online saja dari sini."


"Dan kau Lucka? Bagaimana dengan perusahaan yang ada di Singapura? Kau tidak akan tinggal disana lagi?"


"Emh, tidak Kek. Secepatnya aku akan menikah dengan Cinta. Kami akan tinggal disini untuk menjaga nenek."


Gerald tersenyum pada kedua cucunya.


"Baguslah. Kalian harus memulai hidup baru kalian disini. Lupakan semua yang terjadi di masa lalu."


"Kek! Maafkan Lucka karena banyak bersalah pada kakek!" Lucka memeluk Gerald.


"Sudahlah, Nak. Semua sudah berlalu. Sekarang hiduplah dengan baik. Kalian bersaudara, dan jangan sampai kembali terpecah hanya karena masalah sepele. Mengerti?"


"Iya, Kek." sahut mereka bersama.


#


#


#


Setelah memastikan jika nenek Jessi telah terlelap. Aku segera keluar dari kamar nenek.


Aku dikejutkan dengan kehadiran Lucka yang menunggu di depan kamar nenek.


"Lucka? Kamu ngapain disini?"


"Nungguin kamu lah! Masa nungguin Alisa!" jawab Lucka terlihat kesal.


"Astaga! Kamu marah?"


"Iya lah! Aku menunggumu dari tadi tapi kamu tidak keluar juga!"


Aku menghela napas. Memang harus ekstra sabar jika bicara dengan Lucka.


"Aku harus memastikan nenek sudah tertidur sebelum pergi. Lagian kenapa kamu gak masuk aja? Salah sendiri malah nunggu diluar!" sungutku.


"Ah sudahlah! Ayo pulang!"


Lucka meraih tanganku. Kami berjalan menuju mansion utara sambil menikmati udara malam.


"Lucka, bukankah ini sudah lewat jam malam. Apa nanti kita ... tidak dihukum?" tanyaku.


"Jam malam sudah dihapus."


"Heh?! Benarkah? Sejak kapan?"


"Sejak kamu pergi dari sini."


Entah kenapa aku merasa bersalah pada Lucka. Saat itu aku pergi begitu saja tanpa pamit.


Perjalanan syahdu kami akhirnya membawa kami tiba di depan kamarku.


"Kembalilah ke kamarmu! Kamu pasti lelah!" ucapku.


"Hmm, aku memang lelah. Tapi, lelahku hilang saat melihatmu."


"Ck, gombal mulu deh!"


"Aku benar, Cinta! Kenapa kamu..."


"Iya iya, aku percaya! Ya sudah sana! Kamu istirahat saja."


Lucka mengangguk kemudian maju satu langkah dan mencium keningku.


Wajahku memerah karena rasanya ... sulit dipercaya jika kini aku kembali memilih Lucka.


"Besok kita temui ibumu ya! Aku ingin meminta restu padanya."


Aku tersenyum mendengar kalimat Lucka. Aku pun mengangguk sebagai jawaban.


"Aku masuk dulu ya!" Aku melambaikan tanganku dan masuk ke dalam kamar. Malam ini aku sangat bahagia. Semoga esok semuanya berjalan sesuai dengan keinginan kami.

__ADS_1


__ADS_2