![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Lucka baru saja selesai meeting dengan kliennya. Hari sudah berganti gelap dan dirinya masih berkutat dengan pekerjaan.
Berkali-kali Lucka mengusap wajahnya. Ia melirik ponselnya yang sengaja ia tinggal di meja kerjanya. Ia tak ingin terganggu ketika rapat sedang berlangsung.
Lucka membuka ponselnya dan terkejut. Satu panggilan tak terjawab dari Cinta.
"Cinta menghubungiku?" gumam Lucka dengan menarik sudut bibirnya. Ia segera keluar dari ruangannya dan menuju ke tempat parkir.
"Hei, bos! Kamu mau kemana?" tanya Tommy saat berpapasan dengan Lucka.
"Tom, aku harus pergi. Kamu bisa pulang sendiri kan?"
"Cih, pake nanya! Tentu saja bisa! Mau kemana buru-buru gitu?"
"Ada deh! Urusan hati!"
Lucka melambaikan tangan dan berlari kecil. Tommy tertawa kecil melihat tingkah aneh Lucka.
"Ck, cinta memang bisa membuat orang jadi aneh! Ah, makanya aku takut untuk jatuh cinta!"
Lucka mengendarai mobilnya dengan laju sedang namun cepat. Ia menuju ke rumah Cinta. Mungkin inilah sinyal yang diberikan Cinta untuknya.
Lucka berdendang ria hingga akhirnya tiba di depan gang rumah Cinta. Ia turun dari mobil dan melangkah dengan percaya diri.
Lucka mendial nomor ponsel Cinta. Ia menunggu beberapa saat, hingga...
"Halo..."
"Halo, Cinta."
"Ada apa?"
"Bukannya tadi kamu yang meneleponku lebih dulu? Ada apa?"
"Tidak ada. Kalau begitu aku tu..."
"Buka tirai jendelamu!"
"Hmm? Kenapa?"
"Buka saja!"
Cinta membuka tirai jendela kamarnya dan melihat Lucka sedang berdiri disana. Mata Cinta membulat sempurna seakan tak percaya.
"Keluarlah! Kita harus bicara!" Lucka mematikan sambungan telepon dan melambaikan tangan meminta Cinta untuk keluar dari kamarnya.
Sejenak Cinta terbengong dan bingung dengan situasi yang sedang terjadi. Manik hitam milik Cinta bertemu pandang dengan manik milik Lucka yang menatapnya dengan penuh cinta.
Cinta segera menutup tirai dan berlari keluar kamar menuju depan rumahnya. Tiba di depan rumah Cinta tidak menemukan siapapun.
Napas Cinta memburu. Ia berusaha mengaturnya.
"Apa ini? Apa aku berhalusinasi?"
Cinta melirik ponselnya dan memeriksa apakah ia bermimpi atau tidak.
"Dia benar-benar menghubungiku kok. Tapi kenapa..."
"Cinta!"
Terdengar suara dari arah belakangnya. Cinta berbalik badan. Cinta terkejut karena Lucka langsung memeluknya.
"Terima kasih. Terima kasih karena bersedia keluar menemuiku."
Mata Cinta menghangat. Air matanya mulai mengalir. Suara isak tangisnya mulai terdengar oleh Lucka.
__ADS_1
Lucka melepas pelukannya.
"Hei, kenapa menangis?" Lucka menyeka air mata Cinta.
"Maaf..." lirih Cinta.
"Kenapa minta maaf? Kamu tidak bersalah padaku. Tapi kamu bersalah pada hatimu!"
Kalimat Lucka membuat Cinta menarik sudut bibirnya.
"Nah begitu kan cantik! Kamu harus banyak tersenyum."
"Terima kasih, Lucka."
"Iya. Aku tahu kamu pasti akan menyerah dengan keras kepalamu itu." Lucka menunjuk kepala Cinta yang keras seperti batu.
"Hei! Percaya diri sekali!" Cinta mengerucutkan bibirnya.
"Tentu saja. Karena Cinta terlahir hanya untuk Lucka! Mengerti?"
Cinta terkekeh. Kemudian disusul dengan tawa renyah dari keduanya.
"Kalian mau diluar terus? Ayo masuk!" seru Inah dari ambang pintu.
"Ayo masuk!" ajak Cinta dengan menautkan jari-jari tangannya dan jari-jari tangan Lucka.
"Kita mau kemana?" tanya Lucka.
"Kemanapun kamu pergi aku akan ikut," balas Cinta.
"Aku akan membawamu ke pelaminan."
Cinta terkekeh geli dengan pernyataan Lucka. Mereka pun masuk ke dalam rumah dan bercengkerama bersama.
#
#
#
Kamu memberiku sebuah rasa yang indah. Rasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.
Kamu memberimu sebuah napas baru untuk menapaki hidup. Cinta dan luka adalah hal yang akan selalu berdampingan.
Ketika kamu siap untuk jatuh cinta, maka kamu juga harus siap untuk terluka. Jatuh berkali kali namun itu tidak berarti.
Sakit berkali kali, namun hati tetap memanggil sosokmu untuk mendekati. Inikah cinta sejati?
Aku hanya seorang gadis biasa yang tidak mengerti akan arti cinta. Aku hanya tahu jika mencintai adalah hal indah dalam hidupku.
Kini aku berjalan menuju kepadamu. Aku mengharap sebuah pengharapan dari apa yang kutapaki saat ini.
Aku menuju kearahmu. Aku akan selalu pulang ke hatimu. Meski bertahun ego membelenggu, aku tahu dimana rumahku.
Wahai sang pemilik hati, tolong jangan sakiti lagi.
Karena hati tak sanggup lagi berbagi. Cintaku memang hanya untukmu saja, Lucka Bahari...
"Cinta Putri... Dialah kekasih hatiku! Dia adalah cinta yang tidak pernah aku lupakan. Dia belahan jiwaku!"
Semua kata kata Lucka membuatku melayang. Aku berjalan kearahnya dan naik keatas podium.
Hari ini kami mengumumkan hubungan kami di depan publik. Lebih tepatnya, Lucka yang melakukannya. Karena aku hanya diam menatap kekasihku yang sedang bicara.
Lucka meraih pinggangku posesif. Ya, dia memang selalu begitu. Dan aku mulai menyukai semua sifat itu.
__ADS_1
Perhatian dan posesif adalah dua hal yang berbeda. Tapi kini aku mulai bisa memaknai keduanya.
Aku mencintainya maka aku menerima semua hal tentangnya.
"Kalian tenang saja! Kalian semua pasti diundang dalam acara pernikahan kami nanti," tutup Lucka kemudian membawaku turun dari podium.
Para pencari berita segera memberondong kami dengan banyak pertanyaan. Aku hanya diam dan mengikuti langkah Lucka menuju ke mobilnya yang sudah terparkir di depan gedung.
"Haaaah! Akhirnya selesai juga!"
Lucka melonggarkan dasinya yang terasa membelit leher.
"Kita mau kemana lagi?" tanyaku.
"Emh, kemana ya? Apa kamu mau menemui nenek Jessi?"
Aku langsung mengangguk setuju. Aku sudah merindukan nenek.
"Aku merindukan nenek!" ucapku jujur.
"Ish! Aku cemburu!" cemberut Lucka yang terlihat dibuat-buat. Aku pun tertawa melihatnya.
"Ehem! Ini sudah bisa jalan, Tuan Muda?" tanya Tommy yang berada di belakang kemudi.
"Hmm, jalan saja, Tom! Kau ini sangat tidak peka!" sungut Lucka.
"Hei, jangan begitu!" Aku melerai Lucka. Sikap arogannya terkadang muncul. Dan aku harus sering mengingatkannya.
"Gunakan itu jika kamu menghadapi musuhmu!" bisikku di telinga Lucka.
"Iya, Cintaku," balasnya yang membuat wajahku merona.
Astaga, Cinta! Hanya di puji begitu saja aku sudah sangat malu.
"Malam ini menginap saja di mansion?" pinta Lucka.
Aku menggeleng. "Tidak, Lucka. Aku mau bilang apa pada ibu?"
"Kalau begitu biar aku saja yang bilang pada ibumu."
Aku melotot. Aku memberi peringatan padanya agar tidak memaksa. Tapi bisakah?
"Oke! Baiklah!"
Dia mengalah. Aku tidak percaya jika seorang Lucka kini sudah banyak berubah.
"Terima kasih," ucapku.
"Untuk?"
"Semuanya!"
"Kalau begitu beri aku hadiah!" pinta Lucka.
Huft! Memaksa lagi! Aku memberikan peringatan tajam lagi.
"Baiklah baiklah!"
Aku memeluk lengan Lucka dengan penuh rasa terima kasih. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Terima kasih, Lucka... Terima kasih atas cinta yang sudah kamu berikan untukku."
"Terima kasih juga atas kesabaran dan perhatianmu selama ini."
Lucka mengecup puncak kepalaku berulang kali. Kami terlarut dalam perjalanan menuju rumah keluarga Bahari. Rumah yang akan menjadi awal perjuangan cinta kami selanjutnya.
__ADS_1
...-Selesai-...