Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
20. BIAR CINTA MEMILIH


__ADS_3

Lucki makin gencar melakukan pendekatan terhadap Cinta. Mereka makin sering bersama. Dan Lucka? Dia hanya memandangi mereka dari jauh. Cinta selalu tertawa lepas jika bersama Lucki.


Lucka mulai merasakan hal aneh di dalam dadanya. Meski sejak awal ia merasa tak suka dengan kedekatan Cinta dan kakaknya. Namun sekarang rasa itu makin besar.


Lucka gelisah. Bekerjapun tak fokus. Semua otaknya mulai dipenuhi oleh Cinta, Cinta dan Cinta.


Apa mungkin Lucka mulai jatuh hati?


Tidak! Tidak mungkin! Dia masih bocah. Mana mungkin aku jatuh cinta pada anak bau kencur?! batin Lucka menolak perasaannya sendiri.


Sementara itu---


Cinta yang mulai jarang bertemu Lucka, juga mulai merasakan hal aneh di dadanya. Ia tahu jika dari awal hatinya memang tertambat pada Lucka. Meskipun keadaan tak pernah berpihak pada mereka. Selalu saja ada pertengkaran bila mereka bertemu. Dan akhirnya Cinta mulai memasrahkan semuanya. Ia tak mau banyak berharap pada Lucka.


Hari-hari Cinta selalu diisi dengan Lucki. Ia pria yang baik, dan Cinta menyukai itu. Cinta merasa bahagia saat bersama Lucki. Lucki sangatlah dewasa.


Selama dua bulan tinggal di rumah Bahari, baru kali ini Cinta merasa tenang karena memiliki seorang teman sekaligus kakak. Cinta banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan bersama Lucki. Ia bagai murid Lucki yang haus akan pengetahuan. Dan Cinta memang suka belajar.


"Nona, apakah Nona mulai menyukai Tuan Lucki?"


"Ih Alisa, apaan sih? Kenapa bertanya begitu?"


"Ah, maaf jika saya lancang, tapi---"


"Aku memang nyaman dengan Kak Lucki. Dia orang yang sangat baik dan perhatian. Tapi ... entahlah. Aku tak merasakan apapun padanya."


"Heh? Tidak merasakan apapun maksudnya?"


"Aku hanya menganggapnya sahabat."


"Nona yakin?"


"Hmm, masih belum yakin sih. Mungkin bila Lucka mampu menunjukkan perasaannya yang sebenarnya, maka aku---"


Cinta tak meneruskan kata-katanya. Ia mulai bersedih jika mengingat tentang Lucka.


"Nona---"


"Sudahlah jangan membahas soal itu ya. Aku mulai bahagia tinggal disini. Dan aku ingin tetap begitu." Cinta tersenyum lebar pada Alisa.


...***...


"Cinta!" panggil seseorang.


"Kak Lucki?" Cinta menyapa Lucki balik.


"Cinta, aku dengar kamu akan mengunjungi rumah ibumu."


"Iya, sudah lama aku tidak kesana. Aku ingin mengetahui keadaan Ibu. Ada apa kak?"


"Aku boleh ikut?" tanya Lucki.


"Eh?" Raut wajah Cinta berubah muram.


"Tenang saja! Aku sudah bicara dengan Lucka. Dan dia mengijinkannya."

__ADS_1


"Hah?! Serius, Kak?"


"Jangan terus terkejut begitu. Jadi, bagaimana? Aku akan mengantarmu ke rumah Ibumu."


"Hmm, baiklah," balas Cinta diiringi senyum.


#


#


#


Pagi itu, Cinta dan Lucki bersiap menuju rumah Cinta. Mereka tampak kompak membawa barang-barang yang sudah dibeli untuk keperluan ibu Inah.


Dari kejauhan Lucka hanya bisa memandangi mereka. Ia teringat akan perbincangannya bersama dengan Lucki kemarin.


"Aku akan pergi bersama Cinta untuk mengunjungi rumah ibunya. Aku harap kamu tak perlu bersikap berlebihan seperti yang lalu."


"Apa?"


"Kata-kata kakak sudah cukup jelas kan?"


"Dia tunanganku, Kak! Tidak seharusnya kakak pergi dengan tunangan adiknya sendiri."


"Jadi kamu peduli? Kakek sudah cerita padaku. Kamu tidak perlu berpura-pura untuk mengkhawatirkan Cinta."


"Apa katamu?!?"


"Cukup, Lucka! Kamu sudah banyak menyakiti Cinta. Jadi kali ini, biarkan aku yang menjaganya. Atau kamu memang beneran peduli sama Cinta? Mungkinkah kamu mulai menyukainya?"


...***...


Sesampainya di rumah Cinta,


Lucki dan Cinta disambut dengan hangat oleh keluarga Cinta. Bude Sri dan Teh Rina memandangi Lucki dengan seksama. Mereka tak menyangka kalau Lucka dan Lucki sangatlah mirip.


"Mbak Sri kepiben lah, Lucka karo Lucki kan kembar. Ya wajahe pada oh.(Mbak Sri gimana sih, Lucka dan Lucki kan kembar. Tentu saja wajah mereka sama).


Cinta hanya tersenyum melihat tingkah lucu keluarganya. Meski mereka bukanlah keluarga sedarah Cinta, namun mereka sangat peduli pada Cinta dan ibunya.


"Keluarga kamu asik ya! Aku suka!" Komentar Lucki.


"Benarkah? Maaf ya kalau mereka sedikit urakan."


"Tidak apa-apa. Menurutku mereka itu unik."


Cinta tertawa. "Unik katamu?!"


"Iya, mereka sangat menyenangkan. Dengan bahasa mereka yang berbeda-beda, tapi mereka tetap bisa bersatu."


"Itulah yang dinamakan Bhinneka Tunggal Ika. Benar kan?"


Dan mereka berdua tertawa. Semua orang sudah masuk ke dalam rumah masing-masing. Terang mulai berganti gelap. Lucki dan Cinta masih menikmati suasana malam dikomplek area perumahan padat rumah Cinta.


Mereka duduk di sebuah ayunan di salah satu sekolah taman kanak-kanak dekat rumah Cinta. Suasana kembali hening saat ayunan mulai di dorong oleh kaki masing-masing.

__ADS_1


Lucki kemudian terhenti dan mulai mengatur nafasnya.


Inilah saatnya Lucki. Kamu harus melakukannya. Tidak akan ada kesempatan lagi.


"Kakak kenapa?" Tanya Cinta karena melihat wajah Lucki mulai pucat.


"Tidak! Tidak apa-apa."


"Kok mukanya tegang gitu?" tanya Cinta masih penasaran.


"Hahaha, masa sih? Aku ... aku hanya..."


Ayolah Lucki! Tunjukkan nyalimu! Kamu sudah berusia 22 tahun! Tidak mungkin kamu tidak bisa mengutarakan isi hatimu pada seorang gadis!


"Kak! Kakak beneran baik-baik saja? Apa sebaiknya kita pulang?"


"Jangan! Jangan pulang dulu!" cegah Lucki.


"Eh?" Cinta terkejut karena mendengar Lucki yang tiba-tiba menaikkan suaranya.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Cinta---"


"Eh? Soal apa, Kak?"


Lucki turun dari ayunan dan meraih tangan Cinta. Lucki berlutut di depan Cinta yang masih duduk di atas ayunan.


"Kak Lucki? Apa yang kamu lakukan?" Cinta langsung menepis tangan Lucki, namun kembali diraih oleh Lucki.


"Cinta, aku tahu mungkin ini terlalu cepat dan terburu-buru. Tapi aku rasa ini adalah waktu yang tepat."


Cinta menghela nafas.


"Cinta, aku menyukaimu. Entah sejak kapan aku menyukaimu. Tapi rasa dihatiku tak bisa kupendam lagi. Aku tahu kamu sudah bertunangan dengan Lucka. Tapi hubungan kalian tidaklah baik. Lucka tidak menyukaimu. Dan dia ... dia tidak serius dengan perjodohan ini. Jadi tolong batalkan pertunanganmu dengan Lucka. Lalu, menikahlah saja denganku..."


"A-apa?" Cinta tertegun tak percaya.


"Cinta, aku serius! Aku harap kamu bisa mempertimbangkan perasaanku."


"Tapi, Kak---"


"Kalian tidaklah cocok. Lucka terlalu arogan. Dia egois. Tidak pernah memikirkan orang lain. Dan dia ... dia selalu membuatmu bersedih. Benar kan?"


"Kak Lucki!"


"Kamu tidak perlu menjawab sekarang. Pikirkanlah saja dulu. Percayalah, aku akan membuatmu bahagia. Aku tidak akan membiarkanmu menangis."


Cinta menatap Lucki. Ada keseriusan yang Lucki tunjukkan padanya. Kembali Cinta menghembuskan nafasnya kasar. Lalu menjawab,


"Aku tidak tahu harus bilang apa pada Kakak. Kakak adalah orang yang baik. Dan aku senang bersama kakak. Aku menemukan kebahagiaan saat bersama kakak. Pertama kalinya sejak aku pindah ke rumah keluarga Bahari. Soal perasaan kakak ... aku tidak bisa memutuskannya sekarang. Bisakah kakak memberiku waktu?"


...©©©©...


Bersambung,,,,


(eng ing eng.... Pada siapakah hati Cinta berlabuh?)

__ADS_1


__ADS_2