Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
18. CERITA DARI TOMMY


__ADS_3

...***...


Sepulang dari kantor, Lucka masih tak mendapati sosok Cinta di sekitar mansion utara. Lucka melirik jam tangannya.


Ini pukul lima sore. Kemana gadis itu? Biasanya jam segini dia ada di taman.


Lucka menghampiri Alisa dan Edi yang sedang menyiram tanaman.


"Alisa, Cinta mana?" Seperti biasa, Lucka enggan berbasa-basi.


"Nona Cinta ada dikamarnya, Tuan. Hari ini nona tidak ingin diganggu oleh siapapun."


"Cih, gadis itu! Lalu kakakku?"


"Lucki ada dikamarnya." Kali ini giliran Tommy yang menjawab.


Lucka tak menanggapi jawaban Tommy dan melenggang pergi menuju kamar Cinta.


Tok tok tok


"Cinta! Buka pintunya! Cinta!"


Tak ada jawaban dari dalam kamar Cinta. Lucka mulai kesal.


"Cinta! Buka pintunya! Atau aku akan mendobraknya!" Lucka berteriak.


"Lucka, sudahlah. Mungkin dia memang sedang ingin sendiri," lerai Tommy.


Alisa yang mendengar suara teriakan Lucka, langsung berlari menuju kamar Cinta.

__ADS_1


"Tuan, nona Cinta sedang tidak ingin diganggu!"


"Apa katamu?! Dia sudah mengurung diri sejak kemarin dan dia masih tidak ingin diganggu? Kekanak-kanakan sekali!"


"Lucka, ayo kita pergi. Biarkan Cinta sendiri dulu. Ini semua kan karena kamu. Kamu terlalu berlebihan dalam bersikap." ajak Tommy.


"Kamu membelanya, Tom?"


"Aku tidak membelanya. Aku hanya memintamu untuk memberikan waktu padanya."


"Itu sama saja dengan membelanya!"


Dan Alisa melongo melihat kakak dan tuannya berdebat di depan kamar Cinta.


"Ya ampun! Kalian bisa diam tidak?!"


Cinta akhirnya membuka pintu kamarnya.


"Apa maksudmu mengurung diri di kamar seharian? Kamu juga meliburkan kelasmu bersama Bu Rini. Jangan seperti anak kecil, Cinta! Harusnya aku yang marah, bukan kamu!" kesal Lucka.


"Aku bukan anak kecil! Dan untuk pelajaranku, besok akan kukejar ketertinggalanku. Kamu tidak perlu khawatir. Harusnya kamu yang berkaca! Kamu tuh yang kayak anak kecil. Masalah sepele kamu besar-besarkan."


"Oh, jadi ceritanya kamu ngambek? Kamu yang salah karena sudah pergi tanpa seijinku." Lucka tak mau kalah.


"Aku tidak melakukan kesalahan apapun! Dan aku mengurung diri karena aku malas bertemu denganmu! Jadi, lebih baik sekarang kamu pergi dari sini!" sungut Cinta.


Cinta mengatur nafasnya setelah meluapkan amarahnya didepan Lucka. Lucka tak bicara apapun lagi dan memutuskan pergi. Bagaimanapun juga hal ini memang terjadi karena sikap posesifnya terhadap Cinta.


"Cinta, aku minta maaf atas sikap Lucka." ucap Tommy.

__ADS_1


"Kamu gak perlu minta maaf padaku. Tommy, ada yang ingin kubicarakan denganmu. Bisa kamu ke kamarku sebentar? Kamu juga Alisa." Cinta berbalik badan dan masuk kamarnya lalu duduk di sofa.


Tommy dan Alisa saling pandang. Isi pikiran mereka sama.


Apa yang ingin Cinta bicarakan denganku?


"Nona ingin bicara apa dengan kami?" Tanya Alisa gugup.


"Tommy, tolong katakan yang sejujurnya padaku. Apa yang terjadi dengan Kakek Gerald dan Kakek Jansen? Kenapa Lucka sampai semarah ini hanya karena aku menemui kakek Gerald? Aku tidak mengerti situasi ini. Aku jadi bagian keluarga ini sekarang. Jadi tolong, katakan yang sebenarnya padaku!"


Tommy menelan ludah dan menghela nafas. Dan dia mulai menceritakan kisah lama yang selama ini ditutup rapat oleh keluarga Bahari.


Malam ini, seluruh anggota keluarga berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Kali ini Cinta pun tak melewatkan makan malam. Ia duduk bersebelahan dengan Lucka. Dan di seberangnya Lucki bersebelahan dengan Jessi.


Suasana makan malam cukup hening. Hanya suara dentingan piring dan sendok yang menggaung di ruang makan.


Cinta memandang anggota keluarga barunya satu persatu.


Keluarga ini terlihat hangat saat aku pertama kali datang kesini. Tapi sekarang aku tahu, semua itu hanya topeng. Mereka sebenarnya tidak bahagia. Meski mereka tinggal di rumah besar, dan memiliki segalanya. Apa aku sanggup hidup bersama dengan keluarga ini? Mereka hanya memikirkan ego masing-masing.


Dan usai makan malam, Cinta langsung menuju kamarnya. Ia membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan piyama tidur.


Cinta duduk di tepi tempat tidurnya. Ia melihat sekeliling kamar. Semuanya sempurna. Namun kali ini hati Cinta terasa hampa. Ia teringat akan cerita Tommy tentang keluarga ini.


"Tuan Jansen dan Tuan Gerald dulunya adalah sahabat baik. Mereka berbisnis bersama selama bertahun-tahun. Makanya mereka akhirnya menjodohkan Tuan Albi dengan Nyonya Arina. Bertahun-tahun keluarga ini hidup dalam ketenangan dan kebahagiaan hingga akhirnya---Tuan Albi dan Nyonya Arina mengalami kecelakaan. Banyak yang berubah setelah mereka meninggal. Lucka, Lucki, Tuan Jansen, bahkan Tuan Gerald. Hubungan mereka makin renggang saat mereka memperebutkan hak asuh atas Lucka dan Lucki. Dan Tuan Jansen lah yang memenangkan hak asuh atas si kembar. Tuan Gerald tidak lagi berhubungan dengan keluarga ini sejak saat itu. Tapi, Lucki ternyata mewarisi bakat dari keluarga ibunya. Setelah berusia 17 tahun, Tuan Jansen membebaskan Lucki untuk memilih jalan hidupnya sendiri karena dia tidak tertarik dengan perusahaan. Makanya Lucki mendapat bimbingan penuh dari Tuan Gerald, dan sekarang dia bekerja sebagai relawan untuk UNICEF maupun UNESCO. Cinta, setiap keluarga pasti punya rahasia. Jadi, karena kamu sudah menganggap diri kamu bagian dari keluarga ini, maka jangan hancurkan kepercayaan keluarga ini padamu. Lalu mengenai Lucka, aku tahu sangat sulit untuk memahaminya. Tapi aku yakin, kamu mampu melakukannya. Kamu sudah separuh jalan, jadi jangan menyerah begitu saja. Itu saja yang ingin kukatakan padamu."


Cinta merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Ia memejamkan mata dan bersipa menuju alam mimpi. Berharap esok pagi semua akan kembali normal.


...©©©...

__ADS_1


Bersambung,,,


__ADS_2