Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
39. MASIH CINTA


__ADS_3

Chef Juna mengantar Cinta sampai ke dalam rumah dan duduk sejenak bersama dengan Ibu Inah.


"Selamat ya Nduk... Kamu sudah tambah dewasa sekarang." Ujar Ibu Inah sambil memeluk Cinta.


"Terima kasih, Bu. Aku janji akan jadi anak yang lebih baik untuk Ibu."


"Jadi bagaimana? Terus kapan kalian mau melanjutkan hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius?" tanya Inah.


"Heh?" Cinta dan Chef Juna kaget mendengar pertanyaan Ibu Inah.


Cinta melirik ke arah Chef Juna, begitu juga sebaliknya.


"Ibu! Aku baru 22 tahun. Kenapa menanyakan itu?" Protes Cinta.


"Lho?! Ibu juga dulu menikah lebih muda dari kamu. Seusia kamu itu sudah pantas menikah, Nduk."


"Kami ... belum membicarakan soal itu, Bu. Semua terserah Cinta saja. Saya menunggu Cinta siap." Imbuh Chef Juna.


Cinta membalas dengan senyuman yang terpaksa.


#


#


Cinta mengantar Chef Juna hingga ke depan gang rumahnya.


"Bukannya sudah kubilang, aku gak suka dikasih kejutan seperti ini." Omel Cinta.


"Kenapa? Tadi kamu kelihatan sangat bahagia saat mereka memberimu kejutan."


"Itu karena aku menjaga perasaan mereka."


"Lalu kenapa kamu gak jaga perasaan aku? Aku sengaja mendatangkan mereka supaya kamu senang."


"................" Cinta terdiam dan menyilangkan tangannya.


"Kalau begitu aku minta maaf..." Chef Juna mengalah.


"Mas, bukan begitu. Aku hanya..."


"Aku tidak suka lagi hari ulang tahunku semenjak hari itu. Hari yang membuat hatiku hancur berkeping-keping." batin Cinta menjawab.


"Aku mengerti. Aku tidak akan memaksamu. Maaf juga kalau tadi aku menjawab begitu pada ibumu. Yang ibumu pikir adalah ... kita sudah bersama selama dua tahun namun tak ada perkembangan apapun."


"Mas!"


"Aku tahu. Aku hanyalah tameng untukmu. Tidak apa. Aku akan terus jadi tamengmu, hingga kamu benar-benar bisa membuka hatimu untukku."


Cinta menatap iba pada Chef Juna. Pria tampan ini sudah menemani Cinta selama beberapa tahun ini. Dan Cinta sangat menghargai itu. Tapi, hati Cinta masih tak bisa sepenuhnya menerima orang lain masuk ke dalam sana.


"Selamat ulang tahun, Cinta."


Chef Juna menyerahkan sebuah kotak kecil sebagai kado ulang tahun.


Cinta menerimanya. "Terima kasih. Dan ... maaf."


"Jangan meminta maaf. Aku sendiri yang ingin berada di posisi ini. Jadi, jangan merasa bersalah. Bukalah!"

__ADS_1


"Eh?"


"Buka kotaknya!" perintah Chef Juna.


Sebuah cincin berlian yang cantik berada disana.


"Mas, aku ... aku gak pantas mendapat ini."


"Simpanlah! Saat kamu yakin, kamu bisa memakainya. Atau kamu bisa menyimpannya saja."


Cinta berkaca-kaca mendengar ucapan terakhir Chef Juna sebelum akhirnya ia berpamitan pulang.


...***...


Cinta masuk ke kamarnya dan duduk di tepi ranjang setelah ia menyimpan kotak cincin dari Chef Juna kedalam lemari.


Cinta memikirkan banyak hal. Matanya sudah terasa panas sekarang. Cinta meneteskan air mata. Ia menangis dalam diam. Sudah tiga tahun berlalu namun hatinya tak pernah berlalu. Ia masih hidup dalam bayang-bayang masa lalu.



...***...


Dibelahan bumi lain seseorang sedang berbicara lewat sambungan telepon.


"Bagaimana? Kamu sudah dapat info tentang dia?"


"Sudah, bos. Nona Cinta sekarang mengajar di kelas memasak milik Chef Juna. Dan mereka sekarang berpacaran. Maaf bos, kalau saya harus mengabarkan ini."


"Tidak apa. Lalu bagaimana acara ulang tahunnya?"


"Kamu mendapatkan gambarnya?"


"Ada, bos. Akan saya kirimkan."


"Baiklah. Tutup teleponnya!"


Panggilan berakhir.


Tak berapa lama sebuah pesan masuk kedalam ponsel pria 27 tahun itu.


Sebuah foto Cinta dan teman-temannya yang berpose gembira dan tertawa diteliti dengan seksama.


"Kamu sudah berubah, Cinta. Kamu tumbuh jadi wanita yang sangat cantik. Selamat ulang tahun, Cintaku." Pria itu mencium foto Cinta yang dia perbesar kemudian memeluk ponselnya.



...Cinta (22 tahun)...


...***...


Sementara itu, dibelahan bumi yang sangat jauh dari Jakarta, seorang pria muda sedang menatapi makan malamnya yang mulai dingin. Ia tak memakan makan malamnya tapi malah sibuk memainkan ponselnya.


Ia menunggu sebuah pesan masuk dari sahabatnya yang berada di Jakarta.


TING. Sebuah pesan akhirnya datang.


Pria itu langsung mengembangkan senyumnya setelah mendapat apa yang ditunggunya. Ia tersenyum bahagia melihat apa yang dikirim oleh sahabatnya.

__ADS_1


"Wah, malang benar nasib si calon profesor ini. Makan malam tanpa ada seorangpun yang menemani."


Seseorang tiba-tiba masuk dan mengagetkan si pria muda.


"Sialan! Bikin kaget saja!"


"Sorry-sorry. Lagian kamu sedang apa sih? Aku dari tadi memanggilmu tapi tidak dijawab. Asistenmu memintaku langsung masuk saja."


"Ada perlu apa kesini?" tanyanya ketus.


"Lucki! Dari pada kamu bengong terus sendirian disini, lebih baik besok datang ke peragaan busana aku deh. Besok aku akan tampil di Paris Fashion Week. Ini undangannya!"


Lucki mengernyitkan dahi. "Kenapa harus aku?"


"Supaya kamu punya kesibukan selain mengurus kuliah doktormu itu! Come on! Kita teman bukan?"


"Old friend!" Lucki menyeringai.


"Terserah deh. By the way, kalau kamu butuh teman di meja makanmu, undang aku saja. Kalau pas gak sibuk, aku bersedia datang."


"Iya-iya. Baiklah, Jalalludin Khan."


"No, namaku sudah ganti jadi Jean Blanchet Khan. Ingat itu!"


Lucki tertawa. "Aku lupa kalau namamu sudah berubah. Merci sudah mengundangku di peragaan busanamu. Akan kuusahakan datang."


...***...


Keesokan harinya di Paris Fashion Week,


Lucki celingukan mencari sahabatnya yang dulu pernah menimba ilmu bersama saat masih SMA.


"Lucki! Thank God, akhirnya kamu datang juga. Akan aku tunjukkan tempat dudukmu." Ucap Jean kegirangan.


"Yeah, sama-sama."


Lucki tak paham tentang fashion, tapi dia tetap menikmati suasana lalu lalang para model memperagakan beberapa pakaian hasil karya dari sahabatnya.


Usai acara, banyak orang berkerumun dan tentu saja, para pencari berita langsung menyerbu beberapa selebritis yang hadir di acara tersebut.


Lucki menyingkirkan diri dari keriuhan banyak orang. Ia mencari tempat yang agak sepi untuk sejenak mengambil nafas.


Dari jauh, seorang wanita muda memandangi Lucki dengan seksama. Wanita itu memicingkan matanya agar lebih yakin kalau orang yang dilihatnya adalah nyata, dan bukan bayangan.


Wanita itu mengejar kemana Lucki pergi.


"Excusez-moi, Monsieur!" (Permisi, Tuan!). Wanita itu menepuk bahu Lucki.


Lucki membalikkan badan dan bertemu pandang dengan si wanita.


"Lucki?!? Jadi benar ini kamu?" Wanita itu membulatkan mata seakan tak percaya.


"Sally?" Lucki ikut membulatkan matanya.


...©©©©...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2