Lu[C]Ka Cinta

Lu[C]Ka Cinta
6. TAK MUDAH


__ADS_3

Usai sarapan bersama, Lucka bersiap untuk berangkat ke kantor. Dan Cinta mengantarnya hingga ke depan rumah. Mereka berjalan beriringan, dengan Cinta yang terus berbicara pada Lucka.


"Bagaimana? Kamu menyukai makanan buatanku kan? Makanya jangan meremehkan masakan tradisional." ucap Cinta percaya diri.


"Aku tidak meremehkan. Aku hanya jarang memakannya saja. Dan sebaiknya tidak perlu melakukan hal seperti itu lagi. Kamu disini bukan untuk jadi tukang masak." jawab Lucka dingin.


"Lalu aku disini untuk jadi apa? Jadi istri kamu maksudnya ya?" goda Cinta.


"Bu-bukan begitu juga!" balas Lucka kikuk.


"Sudahlah, jangan dibahas. Jadi istrimu atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting pulanglah cepat nanti malam. Aku akan membuat makanan yang enak untukmu."


"Aku tidak janji. Hari ini aku sibuk."


"Usahakanlah!" Ucap Cinta sambil tersenyum manis.


Dibelakang mereka berdua, Tommy dan Alisa saling berpandangan dan tersenyum.


"Sepertinya mereka mulai ada kemajuan, Kak!" Bisik Alisa pada kakaknya. Dan Tommy hanya membalas dengan anggukan.


"Sebaiknya jangan menungguku." Ujar Lucka sambil memasuki mobilnya.


"Aku akan menunggumu!" Cinta melambaikan tangannya melepas kepergian Lucka. Tak lupa ia sunggingkan senyum termanis dari bibirnya.


Sementara itu, dalam perjalanan menuju kantor.


"Tadi itu apa?" Goda Tommy.


"Apa maksudmu?!" Sungut Lucka.


"Jangan marah, aku kan hanya bertanya. Cinta itu gadis yang baik. Dan juga ... dia cantik."


"Cih, yang benar saja! Dia itu masih bocah." cibir Lucka.


Tommy hanya mengedikkan bahunya melihat tuannya salah tingkah. Ia tahu sebenarnya Lucka ingin mengenal Cinta lebih jauh, namun hatinya terlalu gengsi untuk mengakui.


...* * *...


Pukul lima sore Cinta sudah bersiap di dapur untuk menyiapkan makan malam. Ia sangat bersemangat hari ini. 


"Perkembangan yang luar biasa, Nona!"


Chef Marko datang dan langsung membantu Cinta menyiapkan makan malam.


"Hai, Chef. Perkembangan apa maksudnya?" tanya Cinta tidak mengerti.


"Tuan Lucka tidak pernah memakan makanan buatan dari wanita manapun kecuali Ibunya. Dan kali ini Nona berhasil menjadi wanita ke dua." jelas Marko.


"Eh? Benarkah?" Cinta tercengang.


"Iya. Chef sebelum saya adalah seorang wanita. Dan Tuan Lucka tidak pernah mau memakan masakannya. Makanya, saya bekerja disini menggantikan ibu saya."


"Jadi, chef wanita yang tadi itu adalah ibu Chef Marko?" tanya Cinta mulai antusias dengan sosok Lucka.


"Iya. Nona, saya tahu tidak mudah meluluhkan hati Tuan Lucka, tapi saya yakin, Nona pasti mampu melakukannya. Nona berbakat dalam memasak."

__ADS_1


"Terimakasih atas dukungan dari chef. Senang rasanya mengetahui aku tidak sendiri disini." balas Cinta lalu melanjutkan acara memasaknya.


...* * *...


Pukul tujuh malam, makan malam dimulai. Kakek, Nenek, dan Cinta menunggu kedatangan Lucka. Tiga puluh menit berlalu, dan Lucka belum juga muncul.


Kakek dan Nenek akhirnya memulai makan malam tanpa kehadiran Lucka. Cinta tetap melayani Kakek dan Nenek dengan senyum mengembang.


Pukul delapan malam, Kakek dan Nenek kembali ke mansion mereka. Dan Cinta, dia tetap menunggu Lucka. Alisa kasihan melihat nonanya terus menunggu, hingga akhirnya mengirimkan pesan pada kakaknya menanyakan tentang kepulangan Lucka. Dan kakaknya membalas, kalau Lucka masih meeting bersama kliennya.


Alisa meminta chef Marko untuk membujuk Cinta agar kembali ke kamar saja. Namun Cinta menolak.


"Kalian berisitirahatlah. Aku akan menunggu Lucka disini." ucap Cinta.


"Tapi, Nona..."


"Alisa! Pergilah! Aku tidak apa-apa kok."


Alisa dan para asisten yang lain meninggalkan Cinta sendiri. Ia menatap makanan yang tadi ia masak yang sudah mulai dingin.


Udara malam kian menusuk tulang. Cinta melirik jam tangannya. Sudah pukul sembilan malam. Dan Lucka belum menunjukkan batang hidungnya.


Cinta mulai menguap. Rasa kantuk mulai menghinggapi. Seharian ini ia menyiapkan makanan untuk keluarga Bahari. Dan rasanya cukup melelahkan.


...* * *...


Di tempat lain,


"Lucka, Alisa mengirim pesan katanya Cinta masih menunggu kamu di gazebo."


"Lanjutkan pekerjaanmu besok saja. Kasihan Cinta kalau terus menunggumu." ucap Tommy.


"Iya, iya, bawel amat sih!"


Dan Lucka akhirnya pulang ke rumah, lalu langsung menuju ke tempat Cinta.


Dilihatnya Cinta hanya sendiri di meja makan, dengan posisi kepala tertunduk. Karena terlalu lama menunggu Lucka, Cintapun terlelap dengan kedua tangan dijadikan alas.


"Woi, bangun!" Lucka menyenggol lengan Cinta. Namun Cinta bergeming. Sekali lagi Lucka menggoyang tubuh Cinta, dan tetap tak ada respon darinya.


"Cinta! Bangun! Kamu tidur apa pingsan sih?" Lucka mulai menggerutu.


Karena tak ada pilihan lain, dengan sangat terpaksa Lucka akhirnya menggendong tubuh Cinta ala bridal menuju kamar.


BRUK!


Lucka mendaratkan tubuh Cinta ke atas tempat tidur.


"Berat juga ya kamu! Dasar! Lain kali tidak perlu menyiapkan hal-hal konyol seperti ini lagi. Dan satu lagi, jangan pernah menungguku!"


Lucka mengomel pada tubuh Cinta yang terpejam.


...* * *...


Keesokan harinya, Cinta terbangun dan terbingung karena bagaimana bisa dia ada dikamarnya. Sementara semalam, seingatnya ia sedang menunggu Lucka di meja makan. Cintapun bertanya pada Alisa.

__ADS_1


"Semalam siapa yang bawa aku ke kamar, Al? Seingatku aku masih menunggu Lucka di meja makan."


"Jadi Nona tidak tahu siapa yang bawa Nona ke kamar?"


Cinta menggeleng.


"Semua asisten tahu siapa pelakunya."


"Siapa?" Tanya Cinta dengan penuh selidik.


"Tentu saja Tuan Lucka. Siapa lagi, coba?"


"Hush, mana mungkin!"


"Itu benar Nona. Memangnya menurut Nona siapa yang bawa nona kemari?"


"Entahlah. Mungkin aku sendiri yang jalan kemari." terka Cinta.


"Tidak. Sudah dipastikan kalau itu adalah Tuan Lucka. Bagaimana? Perkembangannya sangat luar biasa kan?" Goda Alisa.


"Apaan sih? Perkembangan apa? Dia saja tidak memakan makan malam yang aku buat untuknya." kesal Cinta karena perjuangannya sama sekali tidak dihargai oleh Lucka.


"Nona! Nona harus lebih bersabar menghadapi Tuan Lucka. Seperti yang chef Marko bilang, semua tidak mudah. Nona, apa Nona mulai menyukai Tuan Lucka?" Lagi lagi Alisa menggoda Cinta.


"Apa sih kamu?"


Wajah Cinta bersemu merah.


"Benar kan, Nona menyukai Tuan Lucka."


Cinta tersenyum salah tingkah. Tentu saja Cinta mulai menyukai Lucka. Siapa yang tidak menyukai pria tampan seperti dia. Bahkan dari pertama bertemu pun, Cinta sudah merasa ada yang aneh dengan hatinya.


...* * *...


"Kenapa kamu melewatkan makan malam lagi? Bukannya aku sudah bilang usahakanlah untuk datang." sungut Cinta ketika bertemu Lucka.


"Apa urusannya denganmu, huh? Jangan karena aku mau memakan masakan buatanmu, bukan berarti kamu bisa mengaturku. Aku sangat sibuk, dan tidak ada waktu untuk hal seperti itu." ketus Lucka.


"Tidak ada salahnya meluangkan waktu untuk keluargamu. Mereka adalah hal terpenting dalam hidupmu." nasihat Cinta.


"Jangan menceramahiku! Aku tidak butuh! Dan satu hal lagi, jangan pernah menungguku! Karena aku tidak akan pernah datang padamu!"


Setelah perdebatan yang cukup serius antara dirinya dan Cinta, Lucka melenggang pergi. Tak terasa mata Cinta mulai panas, dan buliran bening memenuhi kelopak matanya.


Cinta memegangi dadanya.


"Semua tidak mudah, Cinta. Kamu tahu itu..." gumamnya.


Dan buliran bening itu pun akhirnya mengaliri pipi mulus Cinta.


"Ibu, aku merindukanmu. Aku ingin pulang..."


...☆☆☆...


Bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2