![Lu[C]Ka Cinta](https://asset.asean.biz.id/lu-c-ka-cinta.webp)
Hari ulang tahun Cinta akhirnya tiba. Cinta di bantu Chef Marko menyiapkan hidangan spesial untuknya dan Lucka. Hanya mereka berdua. Jansen dan Jessi masih belum kembali ke rumah. Meja makan di tata sesuai keinginan Cinta. Ia ingin mewujudkan impiannya untuk candle light dinner bersama orang yang disayang.
Pukul enam sore, di kantor Lucka.
"Hari ini kamu ada janji makan malam dengan Cinta kan? Sebaiknya tunda dulu pekerjaanmu sampai besok," ujar Tommy.
"Sebentar lagi, Tom. Kamu pulang duluan saja. Nanti aku menyusul."
"Ya sudah. Aku pulang duluan. Kamu gak apa nyetir sendiri?"
"Gak apa, gak masalah," jawab Lucka dengan masih menatap layar komputernya.
Tommy berpamitan dan meninggalkan Lucka sendiri.
Sepeninggal Tommy, ponsel Lucka bergetar. Ada panggilan masuk.
Lucka pikir itu adalah Cinta. Tapi ternyata---
"Nomor tak dikenal?" Lucka bingung. Tapi ia memutuskan untuk menerima panggilan itu.
"Halo---"
"Lucka---"
DEG. Suara itu adalah---
"Lucka, kamu dengar aku?"
"Ada apa menghubungiku?"
"Lucka jangan tutup teleponnya. Aku mohon---"
"Kamu mau apa?" Lucka mulai menjawab dengan sinis.
"Lucka, aku lagi disini sekarang. Bisa kita ketemu?"
"Gak bisa!"
"Oh, begitu? Kalau aku saja yang datang kesana, bagaimana?"
"Apa?"
"Aku akan menemuimu, Lucka."
"Baiklah. Kamu mau ketemu dimana?" Lucka mengalah pada akhirnya.
"Kamu masih ingat kan apartemen aku? Aku ada disana. Jangan lupa untuk datang. Atau aku akan ke rumahmu dan menceritakan semua tentang kita pada tunanganmu itu."
Telepon di putus secara sepihak.
Lucka menggeram marah. "Mau apa lagi wanita itu datang? Dia sudah pergi bertahun-tahun dan sekarang tiba-tiba ia kembali." Lucka memijat keningnya pelan.
...***...
Pukul tujuh malam, kediaman Bahari.
Cinta sudah selesai membuat hidangan istimewa untuk makan malam romantis bersama Lucka. Sambil menunggu Lucka, ia mendapat kejutan dari para asisten yang memberinya kado ulang tahun.
"Terima kasih banyak ya. Kalian gak perlu repot kasih aku kado."
"Tidak apa, Nona. Ini kan hanya terjadi setahun sekali." Jawab Alisa.
"Aku senang bisa berkumpul dengan banyak orang di hari bahagiaku ini." Cinta tak henti-hentinya tersenyum manis.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Nona. Selamat menikmati makan malam romantis bersama Tuan Lucka." Alisa dan para asisten meninggalkan Cinta sendiri menunggu Lucka.
...***...
Pukul 07.15 malam, apartemen Sally.
__ADS_1
Lucka sampai didepan pintu kamar apartemen Sally, wanita yang tadi menghubunginya.
Lucka menekan bel. Dan muncullah Sally dari balik pintu.
"Lucka?" Sally menghambur memeluk Lucka.
"Jangan begini, Sally." Lucka melepas pelukan Sally.
"Oh, maaf. Mari masuk!" Sally mempersilahkan Lucka masuk.
"Silahkan duduk, Lucka."
"Jangan berbasa-basi. Ada urusan apa kamu ingin menemuiku?" tanya Lucka masih dengan nada dingin.
"Umm, gak ada sih. Aku hanya merindukanmu."
"Berhenti main-main, Sally!! Kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi." tegas Lucka.
"Aku tahu. Aku juga tahu kalau kamu sudah bertunangan dengan gadis lain."
"Lalu apa maumu?"
"Tidak ada. Aku hanya beberapa hari disini. Jadi, aku ingin bernostalgia denganmu. Ini, minumlah dulu!" Sally membawakan secangkir minuman untuk Lucka.
"Tidak, terima kasih. Aku gak bisa lama-lama disini. Aku harus pergi." Lucka akan berbalik badan.
"Itu sangat tidak sopan, Lucka. Ini adalah minuman kesukaanmu. Jus stroberi dengan sedikit anggur didalamnya. Minumlah! Setelah ini kamu bisa pergi."
Lucka malas meladeni Sally. Namun apa boleh buat. Hanya ini cara agar dia cepat pergi dari apartemen Sally.
Lucka mengambil gelas di depannya dan meneguk habis minuman yang sudah dibuat oleh Sally.
"Sudah puas? Kalau begitu aku pergi!"
Lucka melangkahkan kakinya meninggalkan Sally. Namun saat tiba di depan pintu, ia merasa kepalanya pusing tak beraturan. Semakin lama semakin tak bisa menahan beban tubuhnya.
Lucka ambruk. Ia terjatuh di depan pintu dan tak sadarkan diri.
Dari jauh Sally tersenyum puas penuh kemenangan.
...***...
Pukul delapan malam, kediaman Bahari.
Sudah lewat satu jam dari jam makan malam di rumah keluarga Bahari. Dan Cinta sudah menunggu Lucka di meja makan sejak satu jam lalu. Makanan yang ia masak mulai dingin.
Cinta mulai gelisah. Ia menghubungi Tommy dan menanyakan soal keberadaan Lucka. Tommy menyarankan untuk menghubungi ponsel Lucka.
"Sudah, Tom. Tapi gak di jawab. Ada apa dengannya? Apa terjadi sesuatu dengannya?" Cinta panik.
Tommy juga ikut khawatir. Ia memutuskan untuk mencari Lucka di kantor. Siapa tahu saja terjadi sesuatu dengannya disana.
Cinta kembali menghubungi ponsel Lucka. Tersambung, namun masih belum dijawab. Hingga akhirnya---
"Halo, Mas, kamu dimana? Aku udah nunggu kamu dari tadi. Kamu gak apa-apa kan?"
"Halo---"
DEG. Itu bukanlah suara Lucka.
"Siapa kamu? Dimana Lucka?"
"Lucka ada disini. Bersamaku---"
Seketika itu juga tubuh Cinta terasa lemas. Kakinya tak mampu lagi menahan berat badannya.
"Si-siapa ka-kamu?" Cinta memberanikan diri bertanya pada wanita yang mengangkat panggilan Lucka.
"Aku? Aku Sally. Kamu pasti Cinta, kan? Si gadis warteg yang dijodohkan dengan Lucka."
__ADS_1
Cinta menelan ludahnya.
"Dengar Cinta. Lucka tidak akan datang malam ini. Dia akan tidur bersamaku disini---"
Air mata Cinta tak lagi dapat ia bendung. Semua kebahagiaannya hari ini, pupus sudah.
"A-aku gak percaya! Mana buktinya kalau kamu bersama dengan Lucka!" Cinta menjawab dengan suara bergetar.
"Kamu mau bukti? Akan kuberikan. Tutup teleponnya dan akan kukirimkan foto Lucka."
Telepon terputus.
Cinta menggenggam ponselnya dengan tangan bergetar. Otaknya tak bisa berpikir lagi sekarang.
TING. Notifikasi pesan masuk.
Cinta membuka pesan yang dikirim dari ponsel Lucka. Cinta menutup mulutnya tak percaya. Itu adalah foto Lucka bertelanjang dada, dan sedang tertidur pulas di sebuah ranjang.
Cinta menangis. Ia sedih. Sangat sedih. Ia kecewa. Sangat kecewa.
Baru saja ia merasakan kebahagiaan karena Lucka juga menyambut perasaannya. Ia merasa bahagia karena cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Ia merasa kalau Lucka akan menjadi cinta pertama dan terakhirnya. Namun hari ini, di hari ulang tahunnya, di hari yang seharusnya menjadi kebahagiaan yang tak terkira untuknya, malah menjadi hari yang paling menyedihkan untuknya.
Cinta berlari dengan berlinang air mata menuju kamarnya. Alisa melihat itu dan mengikutinya.
Cinta terduduk di tepi tempat tidurnya. Memandang boneka beruang besar yang ada di pojok tempat tidurnya. Air matanya tak bisa berhenti mengalir.
"Nona, ada apa?"
Cinta masih belum mau menjawab Alisa. Ia hanya ingin menangis.
Cukup lama Alisa menunggu respon dari Cinta. Alisa tak mau meninggalkan Cinta di saat Cinta sedang bersedih begini. Alisa takut Cinta melakukan hal bodoh yang tak diharapkan.
Cinta menyuruh Alisa pergi, namun Alisa masih berada ditempatnya dan menunggu Cinta menceritakan hal yang sebenarnya.
Cinta mulai menenangkan dirinya. Cinta menghapus air matanya dengan jari-jarinya. Cinta memandang Alisa lekat. Bukan tatapan yang biasa Cinta lakukan pada Alisa.
"Jawab aku, Alisa! Kamu kenal Sally bukan?"
"Heh?" Alisa sangat terkejut mendengar nama Sally.
"Siapa sebenarnya Sally? Apa hubungan dia dengan Lucka?"
"Nona----"
"Jangan berbohong padaku!!" Cinta berteriak.
"Nona Sally adalah---"
"Siapa dia?!"
"Dia adalah mantan kekasih Tuan Lucka---"
"Apa?" Cinta tersenyum menyeringai. "Jadi, dia meninggalkan aku di hari ulang tahunku untuk kembali bersama mantannya---"
"Mereka sudah lama berpisah, Nona. Tidak mungkin mereka---"
"Cukup, Alisa! Aku sudah mengerti sekarang. Pergilah! Tinggalkan aku sendiri!"
"Nona---"
"Aku bilang PERGI!" Cinta sudah mencapai titik kemarahannya.
Dengan rasa takut yang melanda, Alisa pergi dari kamar Cinta.
Dalam kemarahannya, Cinta kembali menangis. Kali ini tangisannya lebih kencang. Ia tak menyangka Lucka akan melakukan ini padanya. Ini adalah hari terburuk sepanjang hidup Cinta. Pria yang berhasil membuatnya jatuh hati, kini pria itu juga yang telah membuatnya patah hati.
...©©©©...
Bersambung,,,,
__ADS_1